KOMPAS.com - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan dilakukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali. Tujuannya mengantisipasi cuaca ekstrem yang masih melanda sejumlah wilayah, menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani.
"BMKG sudah berkoordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan Pemerintah Provinsi, bahwa mulai hari ini dalam rangka mengantisipasi kondisi cuaca ekstrem BMKG dan BNPB akan memulai Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan di Bali," ujar Faisal dalam konferensi pers yang ditayangkan di YouTube BMKG, Rabu (4/3/2026).
Baca juga:
BMKG dan BNPB akan menggelar modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.Faisal menambahkan, OMC bakal digelar di Jakarta bergantung pada kondisi cuaca. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI telah menyatakan siap mendanai operasi tersebut guna mencegah banjir akibat hujan ekstrem.
Menurut dia, OMC dapat menurunkan curah hujan 20 hingga 40 persen.
"Itu (OMC) nanti tergantung dari kondisi cuaca ekstremnya, kalau kami prediksi mungkin sampai dengan beberapa hari ke depan masih terjadi akan kami lakukan. Nnti berapa sortie yang akan dilakukan, kemudian kapan dihentikan berbasis pada kondisi cuaca di lokasi-lokasi yang saya sebut tadi," beber Faisal.
Di sisi lain, dia menekankan pentingnya sistem drainase, normalisasi sungai, penataan tata ruang, hingga sempadan agar hujan yang turun bisa terserap dengan baik.
Baca juga:
BMKG dan BNPB akan menggelar modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.Sementara itu, Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani menjelaskan bahwa saat ini peningkatan cuaca ekstrem terjadi akibat bibit siklon 90S, 93S, dan 93P.
Berdasarkan pantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta hingga pukul 07.00 WIB, ketiga sistem yang saat ini aktif antara lain bibit siklon tropis 90S di Samudera Hindia selatan Banten-Jawa Barat, bibit siklon tropis 93S di sebelah barat laut daratan Australia, serta bibit siklon tropis 92P di Teluk Carpentaria sebelah selatan Papua Selatan.
Dampak dari aktifnya sistem dinamika atmosfer ini yakni potensi hujan intensitas sedang hingga lebat di Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain itu, potensi angin kencang di Bali, Yogyakarta, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan pesisir selatan Papua Selatan.
Baca juga: Krisis Iklim dan Kapal Besar Ancam Laut Karimunjawa, Bagaimana Nasib Nelayan?
"Tidak hanya bibit siklon saja, tetapi beberapa fenomena lain juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan hujan beberapa waktu lalu, sehingga menyebabkan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir di beberapa wilayah yang tadi disebutkan," ucap Ida.
Ia menyampaikan, fenomena lain yang turut berperan adalah aktifnya osilasi Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah serta masih aktifnya Monsun Asia.
Monsun Asia berkontribusi terhadap pengangkatan massa udara di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, yang memicu pembentukan awan hujan signifikan.
Selain itu, faktor lokal juga dinilai memperkuat potensi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir. Ida turut menegaskan, fenomena gerhana bulan total tidak berdampak pada cuaca di Indonesia.
"Untuk gerhana bulan sendiri tidak memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca terutama di wilayah Indonesia," papar dia.
Baca juga: Pasca-Siklon Senyar, Ilmuwan Khawatir Populasi Orangutan Tapanuli Makin Terancam
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya