Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

China Targetkan Pangkas Intensitas Karbon 17 Persen pada 2030

Kompas.com, 10 Maret 2026, 08:12 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Reuters

KOMPAS.com - China merilis rencana lima tahun baru mereka untuk mengurangi emisi karbon pada ekonominya, yang mana mengandalkan sektor energi terbarukan yang tengah berkembang pesat untuk membatasi penggunaan batu bara dan gas rumah kaca.

Kendati demikian, beberapa analis menganggap langkah ini kurang memuaskan.

Baca juga: 

Dalam rencana tersebut, China menargetkan akan menurunkan intensitas karbon yaitu emisi karbon per unit produk domestik bruto (PDB), sebesar 17 persen dari tahun 2026 hingga 2030, dilansir dari Reuters, Senin (9/3/2026).

Sebagai informasi, intensitas karbon merupakan ukuran seberapa banyak emisi karbon dioksida (CO2) dari nilai barang dan jasa yang dihasilkan ekonomi suatu negara.

Akan tetapi, para analis menyebut angkat tersebut tidak cukup untuk memenuhi janji mereka dalam Perjanjian Iklim Paris, yaitu pengurangan sebesar 65 persen dari tahun 2005 hingga 2030.

Rencana baru tersebut juga tidak menetapkan target untuk menurunkan total emisi sebelum tahun 2030, sebagaimana yang diharapkan oleh para pengamat internasional.

Baca juga:

Rencana China kurangi emisi karbon 5 tahun ke depan

Target yang terlalu longgar

Menurut pengamat, target China untuk mengurangi emisi karbon lima tahun ke depan masih terlalu longgar.PIXABAY Menurut pengamat, target China untuk mengurangi emisi karbon lima tahun ke depan masih terlalu longgar.

Salah satu pendiri Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) yang berbasis di Helsinki, Lauri Myllyvirta menuturkan, target intensitas karbon China "sangat longgar".

Ia menambahkan, target tersebut memungkinkan emisi meningkat sebesar tiga persen hingga enam persen selama lima tahun ke depan, mengingat target pertumbuhan ekonomi China.

Penelitian CREA sebelumnya menemukan bahwa China memerlukan pemangkasan sebesar 23 persen selama lima tahun ke depan untuk memenuhi komitmennya dalam Perjanjian Paris.

Selama rencana lima tahun sebelumnya yang berakhir tahun lalu, China hanya mengurangi intensitas karbonnya sebesar 12 persen, meleset dari target sebelumnya sebesar 18 persen.

Kegagalan tersebut, ditambah dengan target dekarbonisasi baru yang rendah, dinilai para analis tidak akan mampu memicu negara-negara lain untuk menetapkan target ambisius mereka sendiri dalam pengurangan emisi.

Sementara itu, di bawah program baru ini, China menetapkan target tahunan untuk mengganti 30 juta metrik ton batu bara dengan energi terbarukan dalam lima tahun.

Namun, mereka tidak menetapkan batasan pada konsumsi batu bara secara keseluruhan. Pada saat yang sama, China memang sedang memperluas kapasitas tenaga angin dan surya mereka dengan sangat cepat.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau