Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena 996 di China, Bikin Pekerja Tinggalkan Gaji Tinggi demi Work Life Balance

Kompas.com, 23 Februari 2026, 15:08 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Fenomena 996 di China membuat banyak generasi profesional baru memilih meninggalkan karier yang penuh tekanan di kota besar, lalu pindah ke kota kecil demi bisa menjalani work life balance (keseimbangan kehidupan pribadi dan pekerjaan). 

Adapun 996 di China merupakan "budaya" bekerja dari pukul sembilan pagi sampai sembilan malam selama enam hari seminggu. 

Baca juga:

Guan Yinglu termasuk generasi profesional di China yang pindah ke kampung halaman. Setelah lama bekerja di sebuah perusahaan pelayaran di Shanghai, Yinglu menyadari kehidupannya waktu itu tidak selaras dengan keinginannya. 

Yinglu lantas balik ke kampung halamannya di Luzhou, sebuah kota kecil di barat daya China, beberapa tahun lalu.

Saat ini, sebagai pemilik toko roti, pemasukan Yinglu lebih kecil yakni sepertiga dari penghasilannya sebelumnya. Meski begitu, ia senang bisa menikmati keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya yang lebih baik.

Tidak hanya itu, ia juga bisa lebih dekat dengan keluarga di Luzhou dan biaya hidupnya relatif lebih rendah.

"Hidup (jadi) cukup mudah," ujar Yinglu, dilansir dari Bloomberg, Senin (23/2/2026).

Baca juga:

Fenomena kerja 996 di China

Biaya hidup dan peluang pekerjaan di kota kecil

Budaya kerja 996 di China membuat banyak profesional muda meninggalkan Beijing dan Shanghai. Mereka memilih kota kecil demi work life balance.PEXELS/MIN AN Budaya kerja 996 di China membuat banyak profesional muda meninggalkan Beijing dan Shanghai. Mereka memilih kota kecil demi work life balance.

Fenomena kerja 996 dipopulerkan oleh industri teknologi dan lazim dijalankan di perusahaan-perusahaan besar di China.

Reaksi negatif terhadap budaya kerja 996 di kota-kota besar, seperti Beijing, Shanghai, serta Shenzhen, telah meningkat selama beberapa tahun terakhir.

Salah satu kejadian terbaru adalah mantan kepala hubungan masyarakat di Baidu, Qu Jing. Dalam sebuah unggahan di media sosial Douyin, Jing dinilai mengabaikan masalah pribadi stafnya serta mengharuskannya siap sedia 24 jam sehari. Tindakannya memicu kemarahan publik.

Jing dicibir banyak warganet, disebut tidak sensitif dan memperburuk budaya kerja 996, yang mendorongnya menghapus semua komentarnya disertai pengunduran diri dari Baidu.

Para profesional muda juga terpantau meninggalkan kota-kota besar karena perlambatan ekonomi mengancam keamanan pekerjaan, padahal biaya hidup masih tetap tinggi.

Berdasarkan China Index Academy, harga rata-rata rumah baru di Shanghai lebih dari 50.000 yuan atau sekitar Rp 121 juta per meter persegi pada bulan Mei 2025.

Sebagai perbandingan, banyak rumah di kota kecil yang harganya kurang dari 10.000 yuan atau setara Rp 24 juta.

Budaya kerja 996 di China membuat banyak profesional muda meninggalkan Beijing dan Shanghai. Mereka memilih kota kecil demi work life balance.UNSPLASH/TIM GOUW Budaya kerja 996 di China membuat banyak profesional muda meninggalkan Beijing dan Shanghai. Mereka memilih kota kecil demi work life balance.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, kesenjangan infrastruktur dan layanan antara perkotaan dengan pedesaan juga menyempit seiring dengan dibukanya berbagai merek internasional dan domestik.

Orang-orang yang pindah ke kota kecil masih dapat menikmati berbagai fasilitas serupa kota-kota besar, seperti kedai kopi, restoran, dan pakaian dari merek ternama.

Namun, peluang profesional di kota-kota kecil masih lebih sedikit, yang mana tren ini dapat dengan mudah berbalik.

"Ketika ekonomi melemah, lebih sedikit orang yang mencari pekerjaan di kota-kota besar dan banyak yang memilih untuk pindah. Fenomena siklus ini biasanya bersifat sementara. Orang-orang akan kembali ke kota-kota besar ketika ekonomi membaik," tutur seorang analis konsumen di Gavekal Dragonomics, Ernan Cui.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau