KOMPS.com - Adaptasi virus bukanlah syarat mutlak bagi munculnya wabah virus zoonosis baru, menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Cell pada awal Maret 2026.
Adaptasi yang dimaksud adalah proses virus mengalami perubahan genetik atau mutasi agar bisa bertahan hidup dan berkembang biak di tubuh inang yang baru.
Baca juga:
Tanpa adanya adaptasi, tingkat bahayanya pun akan meningkat signifikan karena inang tidak memiliki waktu untuk bersiap.
Sebagai gambaran, jika tanpa adaptasi, virus sudah siap untuk menyerang inangnya, tanpa ada peringatan sebelumnya. Pandemi bisa meledak kapan saja secara tiba-tiba.
"Tujuan kami bukan hanya untuk memahami masa lalu, tetapi agar bisa lebih siap menghadapi masa depan," kata kata Joel Wertheim, peneliti Universitas California dan salah satu penulis studi, dilansir dari Down to Earth, Kamis (12/3/2026).
"Dengan memperjelas bagaimana pandemi sebenarnya bermula, kita bisa memfokuskan perhatian pada pengawasan, pencegahan, dan pengurangan peluang terjadinya 'limpahan virus' (viral spillover) yang terus-menerus terjadi," tambah dia.
Baca juga:
Adaptasi virus bukanlah syarat mutlak bagi munculnya wabah virus zoonosis baru. Hal ini penting untuk mencegah virus berkembang pada masa depan.Dalam studinya, para peneliti yang dipimpin oleh Jennifer L. Havens dari University of California, Amerika Serikat (AS), menggunakan metode pelacakan sejarah virus (filogenetik) untuk mengetahui apakah virus dari hewan benar-benar perlu beradaptasi atau berubah dulu sebelum bisa menular terus-menerus antarmanusia.
Para peneliti kemudian menganalisis sejarah evolusi dari beberapa wabah virus utama, termasuk COVID-19, pandemi flu H1N1 tahun 2009, epidemi penyakit virus Ebola di Afrika Barat tahun 2013-2016, epidemi Marburg di Angola tahun 2004-2005, serta epidemi mpox tahun 2022-2023.
Hasil studi mengungkapkan, peneliti tidak menemukan tanda-tanda bahwa virus tersebut berubah atau memperkuat dirinya tepat sebelum menyerang manusia.
Misalnya, studi ini menyatakan bahwa virus penyebab COVID-19 (SARS-CoV-2) sama sekali tidak berubah sampai ia benar-benar muncul pada manusia.
Ada dugaan bahwa virus COVID-19 sengaja diubah atau dikembangkan di laboratorium sebelum muncul.
Penelitian ini menyatakan, jika virus tersebut memang benar hasil rekayasa laboratorium atau telah berubah melalui hewan perantara, seharusnya ada jejak perubahan genetik yang bisa ditemukan. Kenyataannya, jejak tersebut tidak ada.
Namun, setelah meneliti 15 bagian genetik virus COVID-19, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa virus itu berubah menjadi lebih kuat atau lebih lemah sebelum menyerang manusia.
Sifat virusnya masih sama persis dengan virus yang ditemukan pada kelelawar di alam liar.
Penelitian ini tidak menemukan bukti bahwa virus COVID-19 sempat mengalami tekanan atau perubahan di lingkungan lain sebelum menyerang manusia.
Baca juga:
Adaptasi virus bukanlah syarat mutlak bagi munculnya wabah virus zoonosis baru. Hal ini penting untuk mencegah virus berkembang pada masa depan.Sebaliknya, perubahan pada virus tersebut biasanya baru muncul setelah virus mulai menular terus-menerus di antara manusia, melalui mutasi yang membuatnya lebih mudah menyebar di tubuh kita.
Penelitian ini menyarankan bahwa analisis menyeluruh terhadap riwayat evolusi virus dapat digunakan untuk mendeteksi tanda-tanda apakah virus tersebut berpindah antar-spesies secara alami atau dikembangkan di laboratorium.
Hal ini memberikan wawasan penting mengenai bagaimana wabah virus muncul pada masa lalu dan bagaimana mencegahnya pada masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya