KOMPAS.com - Satu hari di bumi bisa jadi tidak lagi 24 jam. Kenaikan permukaan laut akibat krisis iklim memperlambat rotasi bumi, sekaligus memperpanjang durasi rata-rata dalam sehari.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research: Solid Earth mengungkapkan, kecepatan durasi rata-rata satu hari di bumi saat ini mencapai 1,33 milidetik tambahan tiap abad, dengan tingkat laju yang belum pernah terjadi dalam 3,6 juta tahun terakhir.
Baca juga:
"Dalam penelitian kami sebelumnya, kami menunjukkan bahwa mencairnya lapisan es kutub dan gletser pegunungan yang semakin cepat pada abad ke-21 menyebabkan kenaikan permukaan laut, yang memperlambat rotasi bumi dan akibatnya memperpanjang durasi satu hari," jelas Mostafa Kiani Shahvandi dari Departemen Meteorologi dan Geofisika di University of Vienna, Austria, dilansir dari laman resminya, Senin (16/3/2026).
Shahvandi mengibaratkannya dengan peseluncur es yang berputar lebih lambat saat mengulurkan tangannya, dan berputar lebih cepat saat menempelkan tangannya ke tubuh.
Sebagai informasi, studi ini dari University of Vienna dan Swiss Federal Institute of Technology Zurich.
Merasa hari berjalan lebih lama? Kenaikan permukaan laut akibat krisis iklim perlambat rotasi bumi dan perpanjang durasi rata-rata dalam sehari. Bagi kebanyakan orang, satu hari akan berlangsung selama 24 jam, tidak lebih atau kurang sedetik pun.
Namun, kenyataannya, durasi hari tertentu bisa bervariasi, antara lain akibat gaya gravitasi bulan terhadap planet, proses geofisika di dalam dan di permukaan bumi, serta kondisi atmosfer, dikutip dari Scientific American.
Penulis senior studi tersebut sekaligus ahli geofisika di Swiss Federal Institute of Technology Zurich, Benedikt Soja menganggap, krisis iklim diperkirakan akan berpengaruh lebih besar dibanding bulan terhadap durasi hari di bumi pada akhir abad ini.
"Meskipun perubahannya hanya dalam hitungan milidetik, hal itu dapat menyebabkan masalah di banyak bidang, misalnya dalam navigasi ruang angkasa yang presisi, yang membutuhkan informasi akurat tentang rotasi bumi," ujar Soja.
Studi tersebut menunjukkan, laju peningkatan durasi hari saat ini lebih tinggi daripada jutaan tahun lalu.
Dengan menganalisis komposisi kimia fosil organisme bersel tunggal bernama benthic foraminifera, para peneliti menyimpulkan adanya perubahan permukaan laut selama 3,6 juta tahun terakhir.
"Berdasarkan komposisi kimiawi fosil foraminifera, kita dapat menyimpulkan fluktuasi permukaan laut dan kemudian secara matematis menghitung perubahan durasi siang hari yang sesuai," ucap Shahvandi.
Langkah selanjutnya, para peneliti menghitung perubahan yang sesuai dalam panjang hari. Mereka memakai algoritma pembelajaran mendalam probabilistik untuk memodelkan fisika perubahan permukaan laut dengan lebih baik.
Mereka menemukan, seiring terbentuk dan mencairnya es di planet ini, durasi hari di bumi telah berfluktuasi secara bersamaan.
Namun, laju peningkatan panjang hari saat ini merupakan anomali.
"Hanya sekali, sekitar dua juta tahun yang lalu, laju perubahan panjang hari hampir sebanding, tapi tidak pernah sebelumnya atau sesudahnya ‘peluncur es’ planet ini mengangkat tangannya dan menaikkan permukaan laut secepat yang terjadi pada tahun 2000 hingga 2020," kata Shahvandi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya