KOMPAS.com - Tanaman selada yang terpapar nanoplastik dan kadmium menyerap hingga 61 persen logam berat beracun ke dalam daunnya, dibandingkan dengan selada yang "hanya" terkontaminasi kadmium, menurut studi dari Texas A&M University, Amerika Serikat (AS).
"Kita harus mulai mengevaluasi kembali batas kadmium 'aman', dan logam berat secara umum, di tanah pertanian dan media tanam tanpa tanah," ujar pemimpin studi tersebut sekaligus profesor di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Zachry di Texas A&M University, Xingmao "Samuel" Ma, dilansir dari Phys.org, Senin (16/3/2026).
Baca juga:
Studi yang diterbitkan Journal of Agricultural and Food Chemistry itu mengukur interaksi kontaminan dalam sistem hidroponik, yang digunakan sebagai model laboratorium terkontrol untuk mengisolasi respons tanaman.
Selada dipakai tanaman model untuk mengeksplorasi bagaimana paparan yang berbeda, paparan bersama dan paparan tunggal, logam berat dan nanoplastik berinteraksi dengan tanaman dalam lingkungan yang terkontrol.
Bukti menunjukkan, efek penyerapan kadmium kemungkinan besar dipicu oleh respons stres tanaman.
Dalam kondisi normal, respons tanaman terhadap kadmium meningkatkan percabangan akarnya untuk mencari tanah yang lebih bersih dan menyimpan kadmium di akar, jauh dari jaringan daun yang dapat dimakan.
Namun, keberadaan nanoplastik memicu respons stres yang berbeda yakni stres oksidatif, yang mirip dengan peradangan pada manusia.
Tanaman selada yang terpapar nanoplastik dan kadmium menyerap hingga 61 persen logam berat beracun ke dalam daunnya.Ketika stres oksidatif terjadi bersamaan dengan respons stres normal, tercipta persaingan untuk energi dan sumber daya tanaman.
Saat kedua kontaminan tersebut hadir, mekanisme pertahanan tanaman melemah, memungkinkan kadmium untuk bergerak lebih bebas ke dalam jaringan daun yang dapat dimakan.
Ma mengaku terkejut menemukan bahwa pada tanaman yang terpapar kadmium dan nanoplastik.
Dalam kasus ini, nanoplastik terakumulasi dalam jaringan daun yang dapat dimakan dengan konsentrasi 67 persen lebih tinggi daripada tanaman yang hanya terpapar nanoplastik.
"Kami berteori bahwa hasil ini disebabkan oleh peningkatan percabangan akar yang diakibatkan oleh paparan kadmium," tutur Ma.
Nanoplastik tidak berpartisipasi dalam mekanisme transportasi aktif apa pun yang dilakukan oleh tanaman. Sebaliknya, nanoplastik diserap secara pasif pada celah-celah di permukaan akar.
Celah-celah ini terdapat di daerah yang aktif tumbuh, seperti pada ujung akar dan di titik-titik percabangan akar.
Baca juga:
Tanaman selada yang terpapar nanoplastik dan kadmium menyerap hingga 61 persen logam berat beracun ke dalam daunnya.Temuan dari studi tersebut menunjukkan bahwa ketika kadmium dan nanoplastik ini ada secara bersamaan dalam air, interaksi antara keduanya membuat kontaminan tersebut lebih berbahaya bagi tumbuhan.
Bahkan, berpotensi juga bagi hewan dan manusia yang mengonsumsinya sehingga perlu memahami bagaimana mikroplastik dan nanoplastik dapat memengaruhi pergerakan kontaminan dalam tumbuhan.
Studi tersebut menunjukkan bahwa kadar kadmium yang menjadi dasar penerapan strategi remediasi sebaiknya diturunkan. Strategi untuk mengurangi kadar kadmium dalam tanaman telah lama dieksplorasi.
Namun, Ma berharap studi ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana mikro- dan nanoplastik berinteraksi dengan kontaminan lain dalam sistem pertanian.
Ma berencana untuk memetakan kontaminasi di berbagai wilayah Amerika Serikat dan mengintegrasikan data survei tanah untuk mulai menguji apakah temuan laboratorium ini muncul dalam aplikasi dunia nyata yang lebih kompleks.
Ma bersama mahasiswa doktoral Michael Bryant dan Cory Klemashevich dari fasilitas Integrated Metabolomics Analysis Core berfokus meneliti kadmium, logam berat alami yang sering ditemukan di tanah.
Baca juga:
Ilustrasi selada, salah satu sayuran penurun darah tinggi yang cocok untuk pasien hipertensi.Kadmium termasuk di antara logam berat yang paling beracun dan berbahaya bagi manusia dan hewan. Kontaminan ini dapat masuk ke sistem pertanian melalui sumber air, beberapa pupuk, dan bahkan bahan pipa ledeng.
Sementara itu, nanoplastik merupakan partikel polimer sintetis berukuran sangat kecil, di bawah 1.000 nanometer.
Seiring dengan semakin meluasnya mikroplastik dan nanoplastik, para ilmuwan berupaya memahami bagaimana kontaminan tersebut dapat berinteraksi dengan polutan yang sudah ada dalam sistem pertanian.
Para peneliti berupaya memahami bagaimana kontaminan baru berperilaku pada tanaman. Studi terbaru ini memberikan wawasan tentang bagaimana selada merespons gabungan tekanan lingkungan.
Apalagi, sayuran berdaun, seperti selada, mudah ditemukan di toko bahan makanan dan sering dianggap sebagai pilihan makanan sehat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya