KOMPAS.com - Korea Selatan meluncurkan koalisi nasional antara pemerintah dan swasta yang bertujuan untuk memperkuat industri desalinasi (pengolahan) air laut dan memperluas proyek tersebut di luar negeri.
Langkah ini diambil karena pemerintah di seluruh dunia tengah mencari solusi baru untuk mengatasi kelangkaan air yang semakin parah akibat perubahan iklim.
Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan menyatakan bahwa mereka akan menyatukan lembaga pemerintah, lembaga penelitian, dan pemain industri terkemuka untuk mengoordinasikan pengembangan teknologi serta perluasan pasar global.
Sekitar 30 anggota dari industri, akademisi, dan lembaga penelitian diharapkan akan berpartisipasi.
Melansir Eco Business, Senin (16/3/2026) langkah Korea Selatan ini mencerminkan kekhawatiran yang meningkat terhadap ketahanan air karena perubahan iklim memperparah kekeringan dan mengganggu pasokan air tawar di banyak belahan dunia.
Baca juga: Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Jakarta dan Jawa Timur Jadi Sorotan
Desalinasi yakni proses menghilangkan kadar garam dari air laut, telah menjadi teknologi yang semakin penting bagi negara-negara yang menghadapi kelangkaan air kronis, terutama di Timur Tengah dan sebagian wilayah Asia.
Industri desalinasi Korea Selatan dulunya kesulitan karena biaya produksi yang tinggi dan pasar dalam negeri yang terbatas. Namun, pasar global kini mulai beralih dari metode penguapan panas yang boros energi ke sistem Reverse Osmosis (RO), yang menggunakan membran untuk menyaring garam dari air laut dengan konsumsi energi yang jauh lebih rendah.
Korea Selatan juga sedang menyiapkan proyek domestik skala besar yang bertujuan membantu perusahaan lokal membangun pengalaman operasional untuk mendukung penawaran proyek di luar negeri.
Pabrik desalinasi pesisir Daesan, yang mampu menghasilkan 100.000 ton air tawar per hari, diperkirakan akan mulai beroperasi penuh tahun ini dan akan menjadi fasilitas terbesar di negara tersebut.
"Desalinasi air laut adalah alat yang sangat penting untuk memperkuat ketahanan air di era krisis iklim, sekaligus menjadi industri global yang tumbuh sangat cepat," ujar Kim Ji-young, Direktur Jenderal Kebijakan Pemanfaatan Air.
"Pemerintah juga akan bekerja erat dengan industri untuk membantu perusahaan-perusahaan Korea mengambil peran utama di pasar desalinasi dunia," paparnya lagi.
Pasar Desalinasi Global
Pasar desalinasi global sendiri bernilai sekitar sekitar Rp368,8 triliun pada tahun 2024 dan diproyeksikan akan melampaui sekitar Rp985,8 triliun pada tahun 2033. Menurut perkiraan riset pasar, industri ini tumbuh lebih dari 11 persen setiap tahunnya.
Permintaan sangat kuat di wilayah gersang seperti Timur Tengah dan Afrika Utara, yang secara bersama-sama memegang pangsa kapasitas desalinasi terbesar di dunia.
Baca juga: Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Negara-negara Teluk sangat bergantung pada air hasil desalinasi untuk menghidupi kota dan industri mereka, di mana beberapa negara memproduksi sebagian besar air minum mereka dari pabrik pengolahan air laut.
Secara global, kapasitas desalinasi telah berkembang secara stabil selama lebih dari satu dekade, tumbuh sekitar 7 persen per tahun sejak 2010, dengan ribuan pabrik yang kini beroperasi di seluruh dunia.
Kemajuan teknologi juga turut membentuk ulang sektor ini. Sistem Reverse Osmosis (RO) mendominasi proyek-proyek baru karena konsumsi energi dan biaya operasionalnya yang jauh lebih rendah. Segmen RO sendiri diperkirakan akan tumbuh lebih dari 10 persen setiap tahun hingga awal 2030-an, menurut perkiraan industri.
Selain Timur Tengah, investasi desalinasi baru mulai bermunculan di wilayah-wilayah yang menghadapi kekeringan berkepanjangan atau penipisan air tanah, termasuk sebagian Amerika Utara, Australia, dan Asia Selatan.
Di wilayah-wilayah tersebut, pemerintah mulai menjajaki pembangunan pabrik skala besar yang sebagian sumber energinya berasal dari energi terbarukan guna menekan biaya dan emisi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya