Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nanoplastik Berisiko Bikin Sayuran Ini Terkontaminasi Logam Beracun

Kompas.com, 20 Maret 2026, 09:18 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Tanaman selada yang terpapar nanoplastik dan kadmium menyerap hingga 61 persen logam berat beracun ke dalam daunnya, dibandingkan dengan selada yang "hanya" terkontaminasi kadmium, menurut studi dari Texas A&M University, Amerika Serikat (AS).

"Kita harus mulai mengevaluasi kembali batas kadmium 'aman', dan logam berat secara umum, di tanah pertanian dan media tanam tanpa tanah," ujar pemimpin studi tersebut sekaligus profesor di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Zachry di Texas A&M University, Xingmao "Samuel" Ma, dilansir dari Phys.org, Senin (16/3/2026).

Baca juga:

Bahaya selada yang terpapar nanoplastik dan kadmium

Dipicu oleh respons stres tanaman

Studi yang diterbitkan Journal of Agricultural and Food Chemistry itu mengukur interaksi kontaminan dalam sistem hidroponik, yang digunakan sebagai model laboratorium terkontrol untuk mengisolasi respons tanaman.

Selada dipakai tanaman model untuk mengeksplorasi bagaimana paparan yang berbeda, paparan bersama dan paparan tunggal, logam berat dan nanoplastik berinteraksi dengan tanaman dalam lingkungan yang terkontrol.

Bukti menunjukkan, efek penyerapan kadmium kemungkinan besar dipicu oleh respons stres tanaman.

Dalam kondisi normal, respons tanaman terhadap kadmium meningkatkan percabangan akarnya untuk mencari tanah yang lebih bersih dan menyimpan kadmium di akar, jauh dari jaringan daun yang dapat dimakan.

Namun, keberadaan nanoplastik memicu respons stres yang berbeda yakni stres oksidatif, yang mirip dengan peradangan pada manusia.

Tanaman selada yang terpapar nanoplastik dan kadmium menyerap hingga 61 persen logam berat beracun ke dalam daunnya.SHUTTERSTOCK/PORMEZZ Tanaman selada yang terpapar nanoplastik dan kadmium menyerap hingga 61 persen logam berat beracun ke dalam daunnya.

Ketika stres oksidatif terjadi bersamaan dengan respons stres normal, tercipta persaingan untuk energi dan sumber daya tanaman.

Saat kedua kontaminan tersebut hadir, mekanisme pertahanan tanaman melemah, memungkinkan kadmium untuk bergerak lebih bebas ke dalam jaringan daun yang dapat dimakan.

Ma mengaku terkejut menemukan bahwa pada tanaman yang terpapar kadmium dan nanoplastik.

Dalam kasus ini, nanoplastik terakumulasi dalam jaringan daun yang dapat dimakan dengan konsentrasi 67 persen lebih tinggi daripada tanaman yang hanya terpapar nanoplastik.

"Kami berteori bahwa hasil ini disebabkan oleh peningkatan percabangan akar yang diakibatkan oleh paparan kadmium," tutur Ma.

Nanoplastik tidak berpartisipasi dalam mekanisme transportasi aktif apa pun yang dilakukan oleh tanaman. Sebaliknya, nanoplastik diserap secara pasif pada celah-celah di permukaan akar.

Celah-celah ini terdapat di daerah yang aktif tumbuh, seperti pada ujung akar dan di titik-titik percabangan akar.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Musim Kemarau Bikin Kering Daratan, tapi Jadi Berkah di Lautan
Musim Kemarau Bikin Kering Daratan, tapi Jadi Berkah di Lautan
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Turun Saat Cemas Tak Bisa Beli Makan untuk Bertahan Hidup
Produktivitas Pekerja Turun Saat Cemas Tak Bisa Beli Makan untuk Bertahan Hidup
LSM/Figur
Nanoplastik Berisiko Bikin Sayuran Ini Terkontaminasi Logam Beracun
Nanoplastik Berisiko Bikin Sayuran Ini Terkontaminasi Logam Beracun
LSM/Figur
Masa Depan Roti Ramah Lingkungan Tergantung Rasa dan Harga
Masa Depan Roti Ramah Lingkungan Tergantung Rasa dan Harga
LSM/Figur
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Pemerintah
Fenomena 'Sticky Floor', Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Fenomena "Sticky Floor", Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Swasta
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Pemerintah
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pemerintah
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Pemerintah
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau