Sekitar 20–25 persen pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur tersebut sehingga menjadikannya titik paling kritis bagi energi global.
Penutupan jalur tersebut telah membuat harga minyak mentah melonjak di atas 100 dollar AS per barel (sekitar Rp 1,7 juta).
Hal tersebut memicu kenaikan harga yang lebih tajam lagi pada produk olahan, seperti solar dan avtur, menurut IEA.
Negara-negara anggota lembaga tersebut, termasuk AS, Inggris, dan Jepang, sepakat untuk melepaskan rekor 400 juta barel minyak dari cadangan darurat guna meredakan tekanan pasar.
Namun, IEA menyatakan bahwa langkah-langkah dari sisi pasokan saja tidak akan mampu menutupi besarnya gangguan yang terjadi.
Oleh karena itu, mereka meminta para konsumen untuk ikut mengambil peran.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya