KOMPAS.com - Badan Energi Internasional (IEA) mengimbau masyarakat ambil bagian dalam menghadapi krisis energi yang dipicu oleh perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Konflik yang cepat meluas ke negara-negara lain di wilayah tersebut ini telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia, menurut laporan IEA, dilansir dari Earth.org, Senin (23/3/2026).
Baca juga:
Dampak konflik AS-Israel pada Iran, masyarakat diimbau WFH, naik kendaraan umum, dan lakukan aktivitas lain dalam menghadapi krisis energi ke depannya.Dalam laporannya, IEA menyebut 10 langkah yang bisa dijalankan oleh pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga, dari sektor transportasi darat, perjalanan udara, hingga industri.
Langkah-langkah ini meliputi bekerja dari rumah (work from home atau WFH) jika memungkinkan, mengurangi kecepatan di jalan raya setidaknya 10 kilometer per jam, dan beralih dari kompor gas ke kompor listrik.
Langkah lainnya adalah rutin merawat kendaraan dan mengatur muatan agar lebih irit bahan bakar, serta memilih alternatif lain selain pesawat terbang jika tersedia.
Beberapa negara, terutama di Benua Asia, sudah menerapkan langkah-langkah darurat untuk menghemat energi akibat konflik AS-Israel pada Iran.
Langkah tersebut meliputi penetapan batas harga tertinggi, pemotongan pajak, dan pemberian subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Vietnam dan Thailand termasuk negara yang mulai mewajibkan atau menyarankan WFH bagi pegawai negeri (ASN), membatasi perjalanan dinas pejabat, serta meminta suhu AC diatur agar tidak terlalu dingin.
Ada juga negara yang mengimbau warganya untuk berhemat energi di rumah dan kantor, serta lebih sering menggunakan transportasi umum.
"Laporan hari ini memberikan daftar langkah nyata yang bisa segera diambil oleh pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga untuk melindungi konsumen dari dampak krisis ini," kata Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol.
Ia juga mengingatkan, dampak pada pasar energi dan ekonomi akan menjadi semakin parah.
"Saya yakin laporan ini akan berguna bagi pemerintah di seluruh dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang, dalam menghadapi masa-masa sulit ini," tambah Birol.
Baca juga:
Sekitar 20–25 persen pasokan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz sehingga menjadikannya titik paling kritis bagi energi global.Iran mengancam menutup total lalu lintas di Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya