Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Energi Dunia, IEA Imbau WFH Hadapi Konflik AS-Israel Vs Iran

Kompas.com, 24 Maret 2026, 07:14 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Earth.Org

KOMPAS.com - Badan Energi Internasional (IEA) mengimbau masyarakat ambil bagian dalam menghadapi krisis energi yang dipicu oleh perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Konflik yang cepat meluas ke negara-negara lain di wilayah tersebut ini telah memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia, menurut laporan IEA, dilansir dari Earth.org, Senin (23/3/2026).

Baca juga:

IEA imbau WFH, imbas konflik AS-Israel vs Iran

Dampak energi dan ekonomi dinilai akan semakin parah

Dampak konflik AS-Israel pada Iran, masyarakat diimbau WFH, naik kendaraan umum, dan lakukan aktivitas lain dalam menghadapi krisis energi ke depannya.Dok. Unsplash/Agung Prasetyo Dampak konflik AS-Israel pada Iran, masyarakat diimbau WFH, naik kendaraan umum, dan lakukan aktivitas lain dalam menghadapi krisis energi ke depannya.

Dalam laporannya, IEA menyebut 10 langkah yang bisa dijalankan oleh pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga, dari sektor transportasi darat, perjalanan udara, hingga industri.

Langkah-langkah ini meliputi bekerja dari rumah (work from home atau WFH) jika memungkinkan, mengurangi kecepatan di jalan raya setidaknya 10 kilometer per jam, dan beralih dari kompor gas ke kompor listrik.

Langkah lainnya adalah rutin merawat kendaraan dan mengatur muatan agar lebih irit bahan bakar, serta memilih alternatif lain selain pesawat terbang jika tersedia.

Beberapa negara, terutama di Benua Asia, sudah menerapkan langkah-langkah darurat untuk menghemat energi akibat konflik AS-Israel pada Iran.

Langkah tersebut meliputi penetapan batas harga tertinggi, pemotongan pajak, dan pemberian subsidi bahan bakar minyak (BBM).

Vietnam dan Thailand termasuk negara yang mulai mewajibkan atau menyarankan WFH bagi pegawai negeri (ASN), membatasi perjalanan dinas pejabat, serta meminta suhu AC diatur agar tidak terlalu dingin.

Ada juga negara yang mengimbau warganya untuk berhemat energi di rumah dan kantor, serta lebih sering menggunakan transportasi umum.

"Laporan hari ini memberikan daftar langkah nyata yang bisa segera diambil oleh pemerintah, perusahaan, dan rumah tangga untuk melindungi konsumen dari dampak krisis ini," kata Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol.

Ia juga mengingatkan, dampak pada pasar energi dan ekonomi akan menjadi semakin parah.

"Saya yakin laporan ini akan berguna bagi pemerintah di seluruh dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang, dalam menghadapi masa-masa sulit ini," tambah Birol.

Baca juga:

Konflik AS-Israel versus Iran

Pentingnya lalu lintas di Selat Hormuz

Sekitar 20–25 persen pasokan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz sehingga menjadikannya titik paling kritis bagi energi global.Google Maps Sekitar 20–25 persen pasokan minyak dunia biasanya melewati Selat Hormuz sehingga menjadikannya titik paling kritis bagi energi global.

Iran mengancam menutup total lalu lintas di Selat Hormuz, salah satu jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau