"Namun, kecemasan, yang dapat dianggap sebagai bentuk rasa takut yang lebih intens dan luar biasa, dikaitkan dengan dukungan yang lebih rendah terhadap kebijakan iklim," tambah dia.
Baca juga:
Studi tersebut menekankan adanya faktor perbedaan gender dalam besaran keyakinan tentang krisis iklim, yang mana responden perempuan lebih kuat daripada laki-laki.
Responden perempuan juga melaporkan dukungan yang lebih besar terhadap kebijakan iklim dibandingkan laki-laki.
"Sebagian besar penelitian sejauh ini telah mengamati reaksi emosional terhadap perubahan iklim itu sendiri, seperti kecemasan ekologis," tutur Gradidge.
Studi yang menyelidiki peran emosi insidental terhadap penanganan krisis iklim ini dipimpin oleh tim peneliti dari Anglia Ruskin University (ARU) di Cambridge, Inggris, dengan melibatkan 418 partisipan dari Inggris.
Studi ini meninjau 10 emosi insidental, termasuk rasa takut, marah, sedih, rasa bersalah, dan cemas.
Studi ini juga mengukur keyakinan mereka terhadap krisis iklim dan menilai dukungannya terhadap serangkaian kebijakan pro lingkungan, salah satunya peningkatan pajak untuk maskapai penerbangan untuk mengimbangi emisi gas rumah kaca (GRK).
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya