Studi ini menemukan hubungan berbentuk U antara suhu dengan angka kematian, yang mana suhu yang terlalu dingin dan terlalu panas sama-sama meningkatkan risiko kematian, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia).
Namun, dampak tersebut dapat ditekan di negara dengan pendapatan tinggi melalui adaptasi seperti sistem pemanas dan pendingin yang memadai.
Dengan menggabungkan data dari 40 negara serta 33 simulasi iklim resolusi tinggi, para peneliti memperkirakan, dalam skenario emisi tinggi, risiko kematian akibat suhu ekstrem dapat menimbulkan kerugian ekonomi global hingga sekitar 3,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia tahun 2100.
Setiap tambahan satu ton emisi karbon dioksida saat ini diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi rata-rata sebesar 36,6 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 567.300) dalam skenario emisi tinggi.
Angkanya lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya, menunjukkan bahwa dampak ekonomi perubahan iklim selama ini kemungkinan telah diremehkan.
Tim peneliti menekankan pentingnya aksi global untuk menekan emisi sekaligus meningkatkan investasi adaptasi di negara-negara paling rentan, guna mencegah krisis kemanusiaan lebih besar ke depannya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya