Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin

Kompas.com, 26 Maret 2026, 17:27 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Gelombang panas akibat perubahan iklim bisa meningkatkan kasus kematian dini. Lebih dari 90 persen di antaranya diperkirakan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, menurut laporan Climate Impact Lab.

Pendiri Climate Impact Lab, Michael Greenstone, menilai temuan ini sebagai ironi lantaran negara-negara yang terancam justru paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim.

Baca juga:

"Tingkat pendapatan mereka yang relatif rendah mengartikan mereka tidak berada pada posisi yang sebaik orang-orang di negara-negara kaya untuk menghadapi risiko baru dan yang sedang berkembang dari perubahan iklim,” ujar Greenstone, dilansir dari Down to Earth, Kamis (26/3/2026).

Laporan didasarkan pada proyeksi Climate Impact Lab tentang angka kematian yang berkaitan dengan suhu. Para peneliti menekankan adanya ketidaksetaraan antara negara kaya dengan negara miskin.

Gelombang panas dan krisis iklim yang tidak adil

Mengapa negara miskin terdampak lebih parah?

Gelombang panas yang dipicu perubahan iklim diprediksi bakal meningkatkan kasus kematian dini di negara miskin.SHUTTERSTOCK/Berke Gelombang panas yang dipicu perubahan iklim diprediksi bakal meningkatkan kasus kematian dini di negara miskin.

Permasalahannya bukan sekadar wilayah yang lebih hangat akan mengalami angka kematian tinggi dibandingkan daerah yang lebih dingin. 

Namun, dampak terbesar diproyeksikan akan menimpa wilayah yang lebih panas dan miskin karena mereka memiliki sumber daya sedikit untuk beradaptasi.

Burkina Faso di Afrika Barat, misalnya, diperkirakan akan mengalami dua kali lipat jumlah kematian akibat panas dibandingkan Kuwait yang lebih kaya, meskipun iklim kedua negara ini serupa.

Secara global, jumlah kematian akibat panas di negara miskin diperkirakan mencapai 10 kali lipat dibandingkan negara maju pada tahun 2050. Tren serupa juga terlihat di tingkat kota.

Sebagai contoh, Kota Faisalabad di Pakistan diproyeksikan mengalami lebih dari 15 kali lipat angka kematian akibat panas dibandingkan Phoenix, Arizona, di Amerika Serikat.

Bahkan, jumlah orang yang diperkirakan meninggal akibat panas di banyak kota di Pakistan pada 2050 diperkirakan melampaui angka kematian akibat penyakit seperti PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) dan strok saat ini.

Dalam skenario pertumbuhan emisi yang tinggi secara berkelanjutan, perubahan iklim diprediksi meningkatkan kasus kematian di negara-negara berpenghasilan rendah sebesar 106,7 kematian per 100.000 penduduk tahun 2099 mendatang.

Sementara itu, di negara-negara berpenghasilan tinggi diproyeksikan akan mengalami penurunan angka kematian sebesar 25,2 kematian per 100.000 penduduk.

"Secara keseluruhan, negara-negara kaya saat ini mengeluarkan biaya hampir tiga kali lebih banyak daripada negara-negara miskin untuk beradaptasi dengan kenaikan suhu dan mencegah kematian tambahan," sebut para peneliti.

Baca juga: 

Adaptasi perubahan iklim

Gelombang panas yang dipicu perubahan iklim diprediksi bakal meningkatkan kasus kematian dini di negara miskin.Dok. Freepik/jcomp Gelombang panas yang dipicu perubahan iklim diprediksi bakal meningkatkan kasus kematian dini di negara miskin.

Studi ini menemukan hubungan berbentuk U antara suhu dengan angka kematian, yang mana suhu yang terlalu dingin dan terlalu panas sama-sama meningkatkan risiko kematian, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia).

Namun, dampak tersebut dapat ditekan di negara dengan pendapatan tinggi melalui adaptasi seperti sistem pemanas dan pendingin yang memadai.

Dengan menggabungkan data dari 40 negara serta 33 simulasi iklim resolusi tinggi, para peneliti memperkirakan, dalam skenario emisi tinggi, risiko kematian akibat suhu ekstrem dapat menimbulkan kerugian ekonomi global hingga sekitar 3,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia tahun 2100.

Setiap tambahan satu ton emisi karbon dioksida saat ini diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi rata-rata sebesar 36,6 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 567.300) dalam skenario emisi tinggi.

Angkanya lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya, menunjukkan bahwa dampak ekonomi perubahan iklim selama ini kemungkinan telah diremehkan.

Tim peneliti menekankan pentingnya aksi global untuk menekan emisi sekaligus meningkatkan investasi adaptasi di negara-negara paling rentan, guna mencegah krisis kemanusiaan lebih besar ke depannya.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Meski Potensial Ganti Minyak Bumi, Sejumlah Bahan Baku Produksi Biodiesel Masih Impor
Meski Potensial Ganti Minyak Bumi, Sejumlah Bahan Baku Produksi Biodiesel Masih Impor
LSM/Figur
Cegah Konflik Manusia-Gajah, Kemenhut Pasang Pembatas di TN Way Kambas
Cegah Konflik Manusia-Gajah, Kemenhut Pasang Pembatas di TN Way Kambas
Pemerintah
Gejolak LPG Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, Bisakah Indonesia Beralih ke EBT?
Gejolak LPG Imbas Perang AS-Israel Vs Iran, Bisakah Indonesia Beralih ke EBT?
Pemerintah
Krisis Energi, Indonesia Bisa 'Tanam' BBM demi Ketahanan Nasional
Krisis Energi, Indonesia Bisa "Tanam" BBM demi Ketahanan Nasional
Pemerintah
Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu
Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu
LSM/Figur
Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin
Gelombang Panas Picu Kematian Dini, 90 Persen Terjadi di Negara Miskin
LSM/Figur
Sektor Ritel Pangan di Asia Dinilai Minim Komitmen Tekan Emisi Metana
Sektor Ritel Pangan di Asia Dinilai Minim Komitmen Tekan Emisi Metana
LSM/Figur
Krisis Timur Tengah, China Gandeng Asia Tenggara Perkuat Pemanfaatan Energi Terbarukan
Krisis Timur Tengah, China Gandeng Asia Tenggara Perkuat Pemanfaatan Energi Terbarukan
Pemerintah
Panas Ekstrem Bisa Ganggu Aktivitas Sehari-hari Manusia
Panas Ekstrem Bisa Ganggu Aktivitas Sehari-hari Manusia
LSM/Figur
Diskon dari China Dicabut, Harga Panel Surya di Afrika Terancam Naik
Diskon dari China Dicabut, Harga Panel Surya di Afrika Terancam Naik
Pemerintah
Ketika Perang Memanaskan Bumi
Ketika Perang Memanaskan Bumi
Pemerintah
Pemanasan Global 2 Derajat Celsius Bisa Lebih Berbahaya dari Perkiraan
Pemanasan Global 2 Derajat Celsius Bisa Lebih Berbahaya dari Perkiraan
LSM/Figur
Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak
Ini Penyebab Terumbu Karang Sulit Pulih Setelah Rusak
LSM/Figur
Waspada Bias Gender dalam Interaksi Manusia dan AI
Waspada Bias Gender dalam Interaksi Manusia dan AI
LSM/Figur
IPB University Raih Peringkat 48 Global Bidang Agriculture & Forestry versi QS WUR
IPB University Raih Peringkat 48 Global Bidang Agriculture & Forestry versi QS WUR
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau