KOMPAS.com - Gelombang panas akibat perubahan iklim bisa meningkatkan kasus kematian dini. Lebih dari 90 persen di antaranya diperkirakan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, menurut laporan Climate Impact Lab.
Pendiri Climate Impact Lab, Michael Greenstone, menilai temuan ini sebagai ironi lantaran negara-negara yang terancam justru paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim.
Baca juga:
"Tingkat pendapatan mereka yang relatif rendah mengartikan mereka tidak berada pada posisi yang sebaik orang-orang di negara-negara kaya untuk menghadapi risiko baru dan yang sedang berkembang dari perubahan iklim,” ujar Greenstone, dilansir dari Down to Earth, Kamis (26/3/2026).
Laporan didasarkan pada proyeksi Climate Impact Lab tentang angka kematian yang berkaitan dengan suhu. Para peneliti menekankan adanya ketidaksetaraan antara negara kaya dengan negara miskin.
Gelombang panas yang dipicu perubahan iklim diprediksi bakal meningkatkan kasus kematian dini di negara miskin.Permasalahannya bukan sekadar wilayah yang lebih hangat akan mengalami angka kematian tinggi dibandingkan daerah yang lebih dingin.
Namun, dampak terbesar diproyeksikan akan menimpa wilayah yang lebih panas dan miskin karena mereka memiliki sumber daya sedikit untuk beradaptasi.
Burkina Faso di Afrika Barat, misalnya, diperkirakan akan mengalami dua kali lipat jumlah kematian akibat panas dibandingkan Kuwait yang lebih kaya, meskipun iklim kedua negara ini serupa.
Secara global, jumlah kematian akibat panas di negara miskin diperkirakan mencapai 10 kali lipat dibandingkan negara maju pada tahun 2050. Tren serupa juga terlihat di tingkat kota.
Sebagai contoh, Kota Faisalabad di Pakistan diproyeksikan mengalami lebih dari 15 kali lipat angka kematian akibat panas dibandingkan Phoenix, Arizona, di Amerika Serikat.
Bahkan, jumlah orang yang diperkirakan meninggal akibat panas di banyak kota di Pakistan pada 2050 diperkirakan melampaui angka kematian akibat penyakit seperti PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) dan strok saat ini.
Dalam skenario pertumbuhan emisi yang tinggi secara berkelanjutan, perubahan iklim diprediksi meningkatkan kasus kematian di negara-negara berpenghasilan rendah sebesar 106,7 kematian per 100.000 penduduk tahun 2099 mendatang.
Sementara itu, di negara-negara berpenghasilan tinggi diproyeksikan akan mengalami penurunan angka kematian sebesar 25,2 kematian per 100.000 penduduk.
"Secara keseluruhan, negara-negara kaya saat ini mengeluarkan biaya hampir tiga kali lebih banyak daripada negara-negara miskin untuk beradaptasi dengan kenaikan suhu dan mencegah kematian tambahan," sebut para peneliti.
Baca juga:
Gelombang panas yang dipicu perubahan iklim diprediksi bakal meningkatkan kasus kematian dini di negara miskin.Studi ini menemukan hubungan berbentuk U antara suhu dengan angka kematian, yang mana suhu yang terlalu dingin dan terlalu panas sama-sama meningkatkan risiko kematian, terutama pada kelompok lanjut usia (lansia).
Namun, dampak tersebut dapat ditekan di negara dengan pendapatan tinggi melalui adaptasi seperti sistem pemanas dan pendingin yang memadai.
Dengan menggabungkan data dari 40 negara serta 33 simulasi iklim resolusi tinggi, para peneliti memperkirakan, dalam skenario emisi tinggi, risiko kematian akibat suhu ekstrem dapat menimbulkan kerugian ekonomi global hingga sekitar 3,2 persen dari produk domestik bruto (PDB) dunia tahun 2100.
Setiap tambahan satu ton emisi karbon dioksida saat ini diperkirakan menyebabkan kerugian ekonomi rata-rata sebesar 36,6 dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 567.300) dalam skenario emisi tinggi.
Angkanya lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya, menunjukkan bahwa dampak ekonomi perubahan iklim selama ini kemungkinan telah diremehkan.
Tim peneliti menekankan pentingnya aksi global untuk menekan emisi sekaligus meningkatkan investasi adaptasi di negara-negara paling rentan, guna mencegah krisis kemanusiaan lebih besar ke depannya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya