KOMPAS.com - Indonesia dinilai perlu mengembangkan potensi bahan bakar nabati sebagai strategi ketahanan energi dalam menghadapi risiko gangguan pasokan minyak ke depannya. Hal ini terkait konflik Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Diketahui, konflik geopolitik sejak akhir Februari 2026 tersebut telah menganggu pasokan energi global, yang pada gilirannya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Baca juga:
"Salah satu strategi memperkuat ketahanan energi nasional adalah mempercepat pengembangan potensi bioenergi nasional. Ibaratnya, daripada 'mengebor' BBM, kita 'menanam' BBM," ujar Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2026).
Bahan bakar nabati, seperti biodiesel dan bioetanol, dapat menjadi substitusi bahan bakar minyak (BBM).
Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang diproduksi dari minyak nabati dan dicampurkan ke dalam solar untuk mengurangi impor BBM.
Sementara itu, bioetanol merupakan bahan bakar nabati yang diproduksi dari fermentasi biomassa tanaman dan dicampurkan ke dalam bensin untuk mengurangi impor BBM.
Proses pencampuran menunjukkan posisi bahan bakar nabati sebagai pelengkap sehingga masih perlu minyak bumi sebagai bahan bakar dasarnya.
Untuk mengurangi ketergantungan impor BBM, Indonesia harus meningkatkan persentase campuran bahan bakar nabati ke dalam solar dan bensin.
Baca juga:
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno berkomentar mengenai kayu gelondongan yang terlihat dalam banjir di Sumatera Utara (Sumut) dalam acara FPCI di Kasablanka Hall, Jakarta Selatan, Sabtu (29/11/2025). Hadapi dampak konflik AS-Israel versus Iran, Indonesia perlu alihkan strategi dari "mengebor" ke "menanam" BBM.Selain membangun perkebunan tebu, jagung, dan singkong, Indonesia harus mempersiapkan fasilitas untuk produksi bioetanol.
Saat ini, kapasitas fasilitas untuk memproduksi bioetanol dari jagung, singkong, dan tebu di Indonesia, masih terbatas.
"Nah, jadi untuk menambah kebutuhan (produksi bioetanol) saat ini rasanya belum bisa secara efektif, tetapi ke depannya untuk memperkuat ketahanan energi kita saya kira itu sangat penting," ucap dia.
Oleh karena itu, saat ini, Indonesia perlu mulai melakukan penanaman tanaman-tanaman yang bisa menjadi bahan baku untuk bioetanol dan membangun fasilitas pemrosesannya.
Baca juga:
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia seusai rapat di kediaman Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat, Rabu (25/3/2026) malam. Hadapi dampak konflik AS-Israel versus Iran, Indonesia perlu alihkan strategi dari "mengebor" ke "menanam" BBM.Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan soal optimalisasi seluruh potensi bahan bakar nabati di Indonesia untuk ketahanan energi.
Prabowo meminta Bahlil mempercepat transisi energi dengan mendorong produksi bahan bakar alternatif terbarukan, seperti bioetanol dan biodiesel dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).
"Bapak Presiden memerintahkan untuk mengoptimalkan seluruh potensi-potensi energi yang ada di kita, baik itu (bio)etanol, baik itu biodiesel dari CPO-CPO, termasuk kami bagaimana mendorong agar transisi energi lewat energi baru terbarukan juga kami bisa segera lakukan," ujar Bahlil dalam keterangan pers usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, pada Rabu (25/3/2026), yang disiarkan melalui akun Youtube Sekretariat Presiden.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya