Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Energi, Indonesia Bisa "Tanam" BBM demi Ketahanan Nasional

Kompas.com, 26 Maret 2026, 18:44 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Indonesia dinilai perlu mengembangkan potensi bahan bakar nabati sebagai strategi ketahanan energi dalam menghadapi risiko gangguan pasokan minyak ke depannya. Hal ini terkait konflik Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. 

Diketahui, konflik geopolitik sejak akhir Februari 2026 tersebut telah menganggu pasokan energi global, yang pada gilirannya menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Baca juga:

"Salah satu strategi memperkuat ketahanan energi nasional adalah mempercepat pengembangan potensi bioenergi nasional. Ibaratnya, daripada 'mengebor' BBM, kita 'menanam' BBM," ujar Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno kepada Kompas.com, Kamis (26/3/2026).

Krisis energi, Indonesia perlu kembangkan bahan bakar nabati

Bahan bakar nabati, seperti biodiesel dan bioetanol, dapat menjadi substitusi bahan bakar minyak (BBM).

Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang diproduksi dari minyak nabati dan dicampurkan ke dalam solar untuk mengurangi impor BBM.

Sementara itu, bioetanol merupakan bahan bakar nabati yang diproduksi dari fermentasi biomassa tanaman dan dicampurkan ke dalam bensin untuk mengurangi impor BBM.

Proses pencampuran menunjukkan posisi bahan bakar nabati sebagai pelengkap sehingga masih perlu minyak bumi sebagai bahan bakar dasarnya.

Untuk mengurangi ketergantungan impor BBM, Indonesia harus meningkatkan persentase campuran bahan bakar nabati ke dalam solar dan bensin.

Baca juga:

Fasilitas produksi bioetanol terbatas

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno berkomentar mengenai kayu gelondongan yang terlihat dalam banjir di Sumatera Utara (Sumut) dalam acara FPCI di Kasablanka Hall, Jakarta Selatan, Sabtu (29/11/2025). Hadapi dampak konflik AS-Israel versus Iran, Indonesia perlu alihkan strategi dari "mengebor" ke "menanam" BBM.KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno berkomentar mengenai kayu gelondongan yang terlihat dalam banjir di Sumatera Utara (Sumut) dalam acara FPCI di Kasablanka Hall, Jakarta Selatan, Sabtu (29/11/2025). Hadapi dampak konflik AS-Israel versus Iran, Indonesia perlu alihkan strategi dari "mengebor" ke "menanam" BBM.

Salah satu contohnya, dalam meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk bioetanol, Indonesia perlu membangun perkebunan tebu, jagung, dan singkong.

"Cuma, ini membutuhkan waktu," tutur Eddy.

Selain membangun perkebunan tebu, jagung, dan singkong, Indonesia harus mempersiapkan fasilitas untuk produksi bioetanol.

Saat ini, kapasitas fasilitas untuk memproduksi bioetanol dari jagung, singkong, dan tebu di Indonesia, masih terbatas.

"Nah, jadi untuk menambah kebutuhan (produksi bioetanol) saat ini rasanya belum bisa secara efektif, tetapi ke depannya untuk memperkuat ketahanan energi kita saya kira itu sangat penting," ucap dia. 

Oleh karena itu, saat ini, Indonesia perlu mulai melakukan penanaman tanaman-tanaman yang bisa menjadi bahan baku untuk bioetanol dan membangun fasilitas pemrosesannya.

Baca juga:

Optimalisasi bahan bakar nabati

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia seusai rapat di kediaman Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat, Rabu (25/3/2026) malam. Hadapi dampak konflik AS-Israel versus Iran, Indonesia perlu alihkan strategi dari "mengebor" ke "menanam" BBM.Dok. Setpres Menteri ESDM Bahlil Lahadalia seusai rapat di kediaman Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat, Rabu (25/3/2026) malam. Hadapi dampak konflik AS-Israel versus Iran, Indonesia perlu alihkan strategi dari "mengebor" ke "menanam" BBM.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan soal optimalisasi seluruh potensi bahan bakar nabati di Indonesia untuk ketahanan energi.

Prabowo meminta Bahlil mempercepat transisi energi dengan mendorong produksi bahan bakar alternatif terbarukan, seperti bioetanol dan biodiesel dari minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO).

"Bapak Presiden memerintahkan untuk mengoptimalkan seluruh potensi-potensi energi yang ada di kita, baik itu (bio)etanol, baik itu biodiesel dari CPO-CPO, termasuk kami bagaimana mendorong agar transisi energi lewat energi baru terbarukan juga kami bisa segera lakukan," ujar Bahlil dalam keterangan pers usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, pada Rabu (25/3/2026), yang disiarkan melalui akun Youtube Sekretariat Presiden.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau