Diberitakan sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyatakan, sekitar 70 sampai 75 persen dari total kebutuhan LPG nasional yang mencapai 7,6 juta ton berasal dari Amerika Serikat.
Sementara itu, sekitar 20 persen dipasok dari Timur Tengah dan sisanya dari negara lain. Dengan kondisi konflik geopolitik yang belum mereda, pemerintah mulai memecah kontrak impor LPG dari wilayah tersebut ke beberapa negara alternatif untuk memastikan pasokan tetap aman.
"Dengan kondisi sekarang yang di Middle East kita pecah lagi untuk kita ambil kontrak jangka panjang dengan Amerika dan beberapa negara lain. Di akhir minggu ini kita masuk dua kargo dari Australia itu untuk LPG," kata Bahlil, dilaporkan oleh Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).
Pemerintah juga telah menjadwalkan tambahan dua kargo impor pada Sabtu (28/3/2026). Sebelumnya, satu kargo LPG telah tiba pada awal Rabu (4/3/2026) dan satu kargo lainnya pada Minggu (8/3/2026).
Menurut Bahlil, tambahan pasokan tersebut cukup untuk menjaga stabilitas distribusi LPG nasional dalam beberapa bulan ke depan. Pemerintah optimististis kebutuhan LPG nasional dari Januari hingga April akan terpenuhi.
Baca juga: Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya