KOMPAS.com - Hari Tanpa Sampah Internasional atau International Day of Zero Waste diperingati setiap 30 Maret. Pada peringatan tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti krisis limbah pangan global yang kian mengkhawatirkan.
"Dunia membuang terlalu banyak pangan. Setiap hari, kita membuang pangan cukup untuk menyiapkan satu miliar porsi, sedangkan sembilan persen umat manusia dibiarkan kelaparan," kata Sekretaris Jenderal, António Guterres, dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Baca juga:
Ia menilai, pembuangan makanan bukan hanya berdampak pada aspek sosial, tapi juga memperparah krisis lingkungan.
Limbah makanan turut membahayakan iklim, merusak ekosistem, dan mengancam kesehatan manusia.
Menurut Guterres, kondisi tersebut turut berpotensi memengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan di masa depan.
"Itulah sebabnya Hari Tanpa Sampah Internasional tahun ini menyoroti krisis limbah pangan yang meningkat, dan menyerukan kepada kita semua untuk bertindak," tutur dia.
Baca juga:
PBB menyebut satu miliar porsi makanan terbuang setiap harinya, sehubungan dengan peringatan International Day of Zero Waste 2026.Upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi limbah makanan, antara lain mengubah kebiasaan berbelanja dan memasak.
Sementara itu, pengelola ritel dapat mengoptimalkan operasional serta mendistribusikan kembali pangan yang berlebih.
Guterres mengimbau agar setiap kota dapat memperluas pemilahan limbah organik dan menerapkannya di sekolah serta rumah sakit.
"Pemerintah dapat mendorong perubahan sistemik dengan memasukkan pengurangan limbah pangan ke dalam aksi iklim dan rencana keanekaragaman hayati serta membangun kemitraan publik-swasta," ucap Guterres.
PBB telah meluncurkan berbagai inisiatif global, antar lain Food Waste Breakthrough dan No Organic Waste dalam Conference of The Parties (COP30).
Melalui program tersebut, dunia ditargetkan mampu mengurangi limbah pangan hingga 50 persen pada 2030.
Upaya ini dinilai berpotensi menekan emisi metana hingga tujuh persen sekaligus mendorong terciptanya sistem pangan yang lebih sirkular dan tangguh.
"Selain melindungi planet kita, upaya ini akan menciptakan pekerjaan hijau, mengurangi kerawanan pangan dan dampak iklim, dan mencegah kerugian ekonomi hingga satu triliun dollar (Amerika Serikat, sekitar Rp 16.000 triliun) setiap tahun," jelas Guterres.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya