Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Agus Supangat
Ilmuwan Senior di Pusat Perubahan Iklim, ITB

Sebagai penulis yang juga dikenal lewat SEGORO 21 : Novel Fiksi Ilmiah Perubahan Iklim https://ebooks.gramedia.com/id/buku/segoro-21 (OKE) ANOS 2070 : Novel Fiksi Ilmiah Perubahan Iklim https://ebooks.gramedia.com/id/buku/oke-anos-2070 BUMI MERDEKA : ANTARTIKA, Kisah Perjalanan https://ebooks.gramedia.com/id/buku/bumi-merdeka-antartika JALAN JALAN KE ANTARTIKA, Kisah Perjalanan https://ebooks.gramedia.com/id/buku/jalan-jalan-ke-antartika Namun saya tetap menulis, tanpa lelah, dengan keyakinan sederhana: kata² dapat membuka jalan alternatif—cara lain memandang dunia, bukan sebagai sumber daya mati, melainkan sebagai entitas hidup yang penuh misteri.

Menavigasi Normal Baru di Era "Overshoot" Iklim

Kompas.com, 30 Maret 2026, 15:50 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Ada tiga langkah strategis yang harus diambil secara simultan.

Baca juga: Menghitung WFH: Hemat Triliunan Rupiah, tapi Transisi Energi Tertunda

Pertama, akselerasi transisi energi yang berkeadilan. Bergantung pada batu bara adalah bentuk kerentanan ekonomi di masa depan.

Revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) harus lebih agresif dalam memensiunkan dini PLTU dan mengoptimalkan potensi energi surya, angin, serta panas bumi yang melimpah.

Kemitraan seperti Just Energy Transition Partnership (JETP) harus dipastikan mampu menyentuh level akar rumput, sehingga transisi hijau tidak menciptakan ketimpangan baru.

Kedua, pemulihan benteng alami. Restorasi lahan kritis dan rehabilitasi mangrove merupakan investasi dengan tingkat pengembalian ekologis tertinggi.

Mangrove bukan sekadar penyerap karbon (Sinking Carbon), melainkan pelindung alami dari abrasi dan badai yang intensitasnya kian meningkat di era overshoot.

Moratorium konversi hutan primer dan perlindungan gambut harus ditegakkan dengan konsistensi tanpa kompromi.

Ketiga, penguatan riset dan kolaborasi lintas sektor. Perubahan iklim adalah masalah interdisipliner. Kebijakan publik harus didasarkan pada riset yang mengintegrasikan aspek fisik-sosioekonomi.

Pemerintah, sektor swasta, dan akademisi perlu membangun ekosistem inovasi yang mampu menciptakan sistem pangan dan air yang tahan terhadap guncangan iklim.

Keadilan di Tengah Krisis

Satu aspek yang sering terlupakan dalam diskusi overshoot adalah keadilan sosial. Dampak perubahan iklim tidak terdistribusi secara merata.

Masyarakat adat, petani kecil, dan warga miskin kota adalah kelompok yang paling rentan terdampak, tapi paling sedikit berkontribusi terhadap emisi global.

Baca juga: Penegakan Hukum di Sumbar: Ketika Tambang Ilegal Tak Lagi Tersembunyi

Oleh karena itu, setiap kebijakan adaptasi harus inklusif. Suara masyarakat lokal yang memiliki kearifan dalam menjaga alam harus didengar dan diintegrasikan ke dalam kebijakan nasional.

Tanpa aspek keadilan, transformasi hijau hanya akan menjadi slogan bagi kalangan elite, sementara masyarakat bawah tetap terpuruk dalam kerentanan.

Era overshoot memang membawa kabar buruk, tapi ia juga membawa panggilan untuk revolusi nasional.

Indonesia memiliki modalitas yang cukup—baik sumber daya alam maupun modal sosial—untuk memimpin di kawasan ASEAN dalam menghadapi krisis ini.

Kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Overshoot bukanlah akhir dari perjuangan iklim, melainkan tanda bahwa kita harus bekerja lebih cerdas, lebih cepat, dan lebih padu.

Saatnya kita beralih dari sekadar bertahan menjadi bangsa yang proaktif membangun sistem kehidupan yang adaptif, tangguh, dan berkeadilan bagi generasi mendatang.

Di atas bumi yang kian panas ini, keberanian untuk berubah adalah satu-satunya jalan keselamatan yang tersisa.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau