Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?

Kompas.com, 2 April 2026, 10:43 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Harga avtur per Rabu (1/6/2026) naik 70 persen bagi penerbangan domestik dan 80 persen untuk internasional akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mendesak pemerintah melakukan penyesuaian tarif tiket pesawat dengan mengacu pada kenaikan harga avtur global.

"Seperti sudah kami perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah," ujar Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, Rabu (1/3/2026), dilansir dari Kompas.com.

Bioavtur Jadi Solusi Krisis Energi

Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas menilai, bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF) bisa menjadi solusi bagi Indonesia untuk mengantisipasi krisis energi ke depannya.

Untuk memitigasi lonjakan harga avtur di masa depan, Indonesia perlu membangun ekosistem kebijakan dan mematangkan teknologi untuk pengembangan SAF.

Indonesia melalui Pertamina telah memiliki Green Refinery Cilacap dengan kapasitas produksi SAF mencapai 6.000 barel per hari. Pertamina dapat memproduksi SAF dengan potensi blending rate 2,5 persen atau 2,5 persen SAF yang bisa dicampurkan ke dalam avtur.

Namun, dengan kapasitas produksi saat ini, Pertamina masih belum bisa memenuhi kebutuhan SAF di Indonesia, bahkan hanya untuk 1 persen blending rate.

"Ini sebenarnya tergantung keputusan pemerintah juga. Kalau pemerintah sudah tekan tombolnya, untuk jalankan itu, pasti Pertamina siap. Belum lagi kalau kita minta dari industri lain yang sedang masa pembangunan ya. Rata-rata sih industri yang sudah berkomitmen ke SAF ini siapnya di (tahun) 2027 memang sesuai dengan roadmap-nya Kementerian Maritim dan Investasi yang lalu. Yang itu di 1 persen (blending rate) tahun 2027," tutur Dimas kepada Kompas.com, Rabu (1/4/2026).

Kadiv Riset IPOSS, Dimas H. Pamungkas (memegang mic) dalam acara Workshop Jurnalis Program Biodisel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, pada Kamis (5/2/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Kadiv Riset IPOSS, Dimas H. Pamungkas (memegang mic) dalam acara Workshop Jurnalis Program Biodisel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, pada Kamis (5/2/2026).

Untuk dekarbonisasi sektor penerbangan di Indonesia, produksi SAF perlu menggunakan bahan baku dari limbah cair industri kelapa sawit (palm oil mill effluent/ POME) dan minyak jelantah (used cooking oil / UCO).

Namun, ekosistem pengumpulan POME dan minyak jelantah belum terbentuk. Padahal, ekosistem pengumpulan POME dan minyak jelantah penting untuk memenuhi standar sistem ketertelusuran (traceability).

Dalam jangka pendek, Indonesia dapat membangun ekosistem pengumpulan POME dan minyak jelantah untuk memenuhi target 1-2,5 persen SAF dicampur ke dalam avtur. Dalam jangka panjang, Indonesia bisa menggunakan minyak kelapa sawit (crude palm oil / CPO) untuk meningkatkan campuran SAF ke dalam avtur hingga 5-10 persen.

Indonesia perlu menggenjot produksi CPO terlebih dahulu, dengan meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit untuk memastikan pasokannya tidak tersendat.

"Bisa sebenarnya menggunakan CPO ke depannya. Hanya saja sekarang CPO ini kan masih banyak dialokasikan untuk biodiesel, pangan, oleokimia, dan ekspor. Kalau seandainya untuk tambah lagi untuk SAF berarti sebenarnya kapasitas produksi harus ditingkatkan. Nah, ini jangka panjang," ucapnya.

"Kita harus bicara produksinya produktivitasnya harus bisa naik, kemudian legalitas usaha, legalitas lahan yang dibenahi, tata kelolanya dibenahi supaya sistem produksinya bisa berjalan optimal,".

SAF Rendah Emisi

Sebelumnya, Dimas H. Pamungkas mengatakan, berdasarkan skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA), SAF dari POME akan jauh lebih rendah emisi gas rumah kaca (GRK)-nya dibandingkan SAF berbasis CPO.

SAF berbasis POME memiliki nilai life cycyle emission factor (LCEF) jauh lebih rendah, karenatanpa beban emisi GRK dari alih fungsi lahan secara tidak langsung (Indirect Land Use Change/ ILUC).

"Di Indonesia sendiri kebutuhan per tahunnya avtur itu sekitar 5 juta kiloliter. Jadi, masih sedikit dibandingkan kebutuhan global, tetapi Indonesia perlu untuk mulai menjadi produsen SAF, kenapa? Karena kita punya banyak bahan bakunya," tutur Dimas di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau