KOMPAS.com - Harga avtur per Rabu (1/6/2026) naik 70 persen bagi penerbangan domestik dan 80 persen untuk internasional akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau Indonesia National Air Carriers Association (INACA) mendesak pemerintah melakukan penyesuaian tarif tiket pesawat dengan mengacu pada kenaikan harga avtur global.
"Seperti sudah kami perkirakan sebelumnya, harga avtur akan naik mengikuti harga di tingkat global karena imbas krisis geopolitik di Timur Tengah," ujar Ketua Umum INACA, Denon Prawiraatmadja, Rabu (1/3/2026), dilansir dari Kompas.com.
Kepala Divisi Riset Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Dimas H. Pamungkas menilai, bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF) bisa menjadi solusi bagi Indonesia untuk mengantisipasi krisis energi ke depannya.
Untuk memitigasi lonjakan harga avtur di masa depan, Indonesia perlu membangun ekosistem kebijakan dan mematangkan teknologi untuk pengembangan SAF.
Indonesia melalui Pertamina telah memiliki Green Refinery Cilacap dengan kapasitas produksi SAF mencapai 6.000 barel per hari. Pertamina dapat memproduksi SAF dengan potensi blending rate 2,5 persen atau 2,5 persen SAF yang bisa dicampurkan ke dalam avtur.
Namun, dengan kapasitas produksi saat ini, Pertamina masih belum bisa memenuhi kebutuhan SAF di Indonesia, bahkan hanya untuk 1 persen blending rate.
"Ini sebenarnya tergantung keputusan pemerintah juga. Kalau pemerintah sudah tekan tombolnya, untuk jalankan itu, pasti Pertamina siap. Belum lagi kalau kita minta dari industri lain yang sedang masa pembangunan ya. Rata-rata sih industri yang sudah berkomitmen ke SAF ini siapnya di (tahun) 2027 memang sesuai dengan roadmap-nya Kementerian Maritim dan Investasi yang lalu. Yang itu di 1 persen (blending rate) tahun 2027," tutur Dimas kepada Kompas.com, Rabu (1/4/2026).
Kadiv Riset IPOSS, Dimas H. Pamungkas (memegang mic) dalam acara Workshop Jurnalis Program Biodisel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, pada Kamis (5/2/2026).Untuk dekarbonisasi sektor penerbangan di Indonesia, produksi SAF perlu menggunakan bahan baku dari limbah cair industri kelapa sawit (palm oil mill effluent/ POME) dan minyak jelantah (used cooking oil / UCO).
Namun, ekosistem pengumpulan POME dan minyak jelantah belum terbentuk. Padahal, ekosistem pengumpulan POME dan minyak jelantah penting untuk memenuhi standar sistem ketertelusuran (traceability).
Dalam jangka pendek, Indonesia dapat membangun ekosistem pengumpulan POME dan minyak jelantah untuk memenuhi target 1-2,5 persen SAF dicampur ke dalam avtur. Dalam jangka panjang, Indonesia bisa menggunakan minyak kelapa sawit (crude palm oil / CPO) untuk meningkatkan campuran SAF ke dalam avtur hingga 5-10 persen.
Indonesia perlu menggenjot produksi CPO terlebih dahulu, dengan meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit untuk memastikan pasokannya tidak tersendat.
"Bisa sebenarnya menggunakan CPO ke depannya. Hanya saja sekarang CPO ini kan masih banyak dialokasikan untuk biodiesel, pangan, oleokimia, dan ekspor. Kalau seandainya untuk tambah lagi untuk SAF berarti sebenarnya kapasitas produksi harus ditingkatkan. Nah, ini jangka panjang," ucapnya.
"Kita harus bicara produksinya produktivitasnya harus bisa naik, kemudian legalitas usaha, legalitas lahan yang dibenahi, tata kelolanya dibenahi supaya sistem produksinya bisa berjalan optimal,".
Sebelumnya, Dimas H. Pamungkas mengatakan, berdasarkan skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA), SAF dari POME akan jauh lebih rendah emisi gas rumah kaca (GRK)-nya dibandingkan SAF berbasis CPO.
SAF berbasis POME memiliki nilai life cycyle emission factor (LCEF) jauh lebih rendah, karenatanpa beban emisi GRK dari alih fungsi lahan secara tidak langsung (Indirect Land Use Change/ ILUC).
"Di Indonesia sendiri kebutuhan per tahunnya avtur itu sekitar 5 juta kiloliter. Jadi, masih sedikit dibandingkan kebutuhan global, tetapi Indonesia perlu untuk mulai menjadi produsen SAF, kenapa? Karena kita punya banyak bahan bakunya," tutur Dimas di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/2/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya