Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ESDM: Konflik di Timur Tengah jadi Momentum RI Akselerasi Transisi Energi

Kompas.com, 1 April 2026, 20:17 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa dampak konflik di Timur Tengah yang mengganggu rantai distribusi minyak dunia menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengakselerasi transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE).

Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTK) Kementerian ESDM Haris menyatakan saat ini menjadi waktu yang tepat untuk memikirkan energi pengganti bahan bakar fosil.

"Saat ini, kita berproses untuk bisa melakukan akselerasi dan salah satunya melalui energi transisi menuju Net Zero Emission yang diharapkan bisa memaksimalkan sumber atau potensi energi terbarukan yang ada di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 3 ribu Gigawatt (GW),” ucap dia, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Punya Potensi EBT Besar, NTT Percepat Transisi Energi

Dalam kesempatan tersebut, dia menerangkan bahwa pemerintah terus memantau eskalasi konflik di Timur Tengah antara AS-Zionis Israel dengan Iran yang telah memicu lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di 85 negara.

Kondisi ini berdampak langsung terhadap distribusi minyak global, mengingat sekitar 20 persen suplai dunia melewati Selat Hormuz yang saat ini ditutup untuk sejumlah negara.

Menanggapi potensi kenaikan harga minyak dunia, pemerintah melalui arahan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia telah memastikan stok BBM saat ini dalam kondisi aman. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang karena stabilitas fiskal terjaga.

Sebagai langkah preventif dan efisiensi, pemerintah sudah menetapkan kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berlaku efektif mulai Jumat (10/4/2026).

Kebijakan ini diproyeksikan mampu menghemat kompensasi BBM sebesar Rp 6,2 triliun, serta mengurangi beban belanja masyarakat hingga Rp 59 triliun.

Selain WFH, langkah efisiensi juga dilakukan di lingkungan internal pemerintahan melalui pembatasan anggaran perjalanan dinas sebesar 50 persen untuk dalam negeri dan 70 persen untuk luar negeri. Sektor Swasta juga diimbau untuk mulai menerapkan budaya kerja fleksibel dan konservasi energi.

Di sektor transportasi, pemerintah turut akan memperluas durasi dan cakupan wilayah Car Free Day (CFD), serta memperketat distribusi BBM melalui sistem barcode MyPertamina dengan batas maksimal 50 liter per kendaraan per hari.

Adapun strategi jangka menengah difokuskan pada implementasi kebijakan B50 yang dijadwalkan berlaku pada 1 Juli 2026. Kebijakan campuran biodiesel 50 persen ini diharapkan dapat menghemat penggunaan solar sebesar 4 juta kiloliter atau setara Rp48 triliun.

Saat ini, uji coba jalan biodiesel telah mencapai lebih dari 30 ribu km dengan hasil performa yang sangat positif. Pemerintah juga mendorong peningkatan porsi etanol (E10) untuk bensin, serta pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Baca juga: 3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI

Di bawah arahan Presiden RI Prabowo Subianto, pemerintah menargetkan pula kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT) mencapai 100 persen dalam 10 tahun ke depan melalui pembangunan infrastruktur surya, hidro, panas bumi, hingga nuklir, guna menjadi sumber energi bersih.

“Beliau (Presiden) menyampaikan bahwa nuklir bukan hanya untuk senjata, nuklir untuk kesehatan, nuklir untuk pendidikan, dan nuklir untuk energi, energi terbarukan, dan energi paling bersih di antaranya nuklir,” ungkap Haris.

Untuk mengawal visi ini, telah dibentuk taskforce energi transisi yang dipimpin Menteri ESDM. Taskforce ini mengemban tiga fokus utama, yaitu akselerasi program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW dalam waktu tiga tahun, percepatan konversi 140 juta motor BBM menjadi kendaraan listrik, serta pengembangan masif sektor biofuel.

Hingga tahun 2025, bauran energi terbarukan nasional tercatat sebesar 15,75 persen. Pemerintah sendiri optimis bahwa porsi energi terbarukan dalam penyediaan energi nasional dapat mencapai target 17-21 persen pada tahun ini melalui penguatan regulasi dan percepatan lelang wilayah usaha panas bumi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau