JAKARTA, KOMPAS.com - Kelompok siswa MAN 4 Jakarta yang tergabung dalam tim Green4ce menciptakan Modular Passive-Flow Biohybrid Rafts for River Detoxification. Ini merupakan rakit terapung berbahan sabut kelapa yang berfungsi sebagai media tumbuh mikroba pengurai.
Rakit tersebut akan ditempatkan mengikuti arus sungai untuk membantu menurunkan beban limbah rumah tangga secara bertahap.
Anggota tim yang terdiri dari Faishana Pramesti, Radhwa, Sofia Latifa, dan Quinncy Zahratusyita mulanya prihatin dengan kondisi anak Sungai Ciliwung yang kerap dilewati para siswa. Warna airnya keruh dan memiliki bau yang khas.
Baca juga: Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Sebagian siswa bahkan mempercepat langkah mereka, sedangkan yang lainnya hanya menutup hidung sambil bercanda. Percakapan tentang sungai itu akan selesai begitu bel sekolah berbunyi.
Dari obrolan itu, akhirnya mereka berhasil menemukan ide untuk mengikuti lomba ASRI dan mulai memikirkan alat yang bisa bekerja langsung di aliran sungai, tidak memerlukan listrik, serta tidak meninggalkan sampah baru.
“Waktu itu kami benar-benar kehabisan ide. Setelah membicarakan sungai, kami merasa masalahnya ada di depan mata, bukan di tempat jauh,” ujar anggota tim dalam keterangannya, Selasa (14/3/2026).
Green4ce menjelaskan, pembuatan rakit terapung ini dilakukan bertahap. Mereka beberapa kali turun ke lokasi untuk melihat titik yang memungkinkan dipasangnya rakit, mengukur arus, serta memastikan rakit tersebut tidak mengganggu aktivitas warga.
Mereka juga bertanya kepada warga sekitar tentang perubahan kondisi sungai saat hujan dan saat musim kemarau, untuk menjadi pertimbangan lanjutan.
Rakit biohybrid bekerja dengan prinsip pasif. Sabut kelapa menjadi tempat mikroba tumbuh dan mengurai zat pencemar, sementara arus sungai membawa air melewati struktur rakit tanpa pompa tambahan.
Tim Green4ce memilih pendekatan ini agar alat bisa dipasang di banyak titik tanpa membutuhkan jaringan listrik. Kesulitan yang paling sering muncul selama proses pengembangan rakit ini justru soal waktu.
Jadwal pelajaran, kegiatan organisasi, dan jarak rumah yang berjauhan membuat pertemuan tatap muka menjadi sulit untuk dilakukan. Sehingga banyak keputusan teknis yang akhirnya dibicarakan lewat pesan singkat, mulai dari ukuran rakit hingga cara mengikat sabut kelapa agar tidak mudah terlepas.
“Biaya juga terbatas, jadi kami mencari bahan yang benar-benar mudah didapat. Sabut kelapa dipilih karena murah dan banyak di sekitar,” beber mereka.
Guru pembimbing, yang akrab disapa Miss Chika, ikut mendampingi proses perakitan. Ia meminta tim tidak hanya fokus pada alat, tetapi juga memikirkan cara agar warga sekitar dapat merawatnya. Dari sanalah, desain rakit dibuat modular agar bisa diperbaiki bagian per bagian tanpa harus mengganti seluruh unit.
Ide proyek ini akhirnya didaftarkan pada ASRI Awards yang digelar Kompas Gramedia 2025. Usai mengikuti rangkaian tahapannya, proyek rakit sabut berhasil meraih kategori The Most Sustainable Ide.
Baca juga: Tak Lagi Cari Ikan, Nelayan Kini Berburu Sampah Plastik di Sungai
Green4ce turut mendapat masukan mengenai ketahanan bahan dan cara mengukur perubahan kualitas air. Bagi mereka, pengalaman mengikuti kompetisi itu juga menjadi kesempatan untuk menunjukan proyek mereka kepada lebih banyak orang di luar sekolah.
"Kami berharap rakit ini bisa dipasang di lebih banyak titik. Kami sangat membutuhkan mitra dan sponsor untuk bisa mengembangkan proyek ini secara maksimal dan memproduksinya dalam jumlah yang banyak," ucap Green4ce.
Perubahan kecil yang kini terjadi di sekolah sudah sangat berarti, karena sungai yang dulu hanya dilewati begitu saja, kini mulai diperhatikan, dikelola, dan menjadi tanggung jawab bersama.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya