Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung

Kompas.com, 14 April 2026, 12:00 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kelompok siswa MAN 4 Jakarta yang tergabung dalam tim Green4ce menciptakan Modular Passive-Flow Biohybrid Rafts for River Detoxification. Ini merupakan rakit terapung berbahan sabut kelapa yang berfungsi sebagai media tumbuh mikroba pengurai.

Rakit tersebut akan ditempatkan mengikuti arus sungai untuk membantu menurunkan beban limbah rumah tangga secara bertahap.

Anggota tim yang terdiri dari Faishana Pramesti, Radhwa, Sofia Latifa, dan Quinncy Zahratusyita mulanya prihatin dengan kondisi anak Sungai Ciliwung yang kerap dilewati para siswa. Warna airnya keruh dan memiliki bau yang khas.

Baca juga: Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik

Sebagian siswa bahkan mempercepat langkah mereka, sedangkan yang lainnya hanya menutup hidung sambil bercanda. Percakapan tentang sungai itu akan selesai begitu bel sekolah berbunyi.

Dari obrolan itu, akhirnya mereka berhasil menemukan ide untuk mengikuti lomba ASRI dan mulai memikirkan alat yang bisa bekerja langsung di aliran sungai, tidak memerlukan listrik, serta tidak meninggalkan sampah baru.

“Waktu itu kami benar-benar kehabisan ide. Setelah membicarakan sungai, kami merasa masalahnya ada di depan mata, bukan di tempat jauh,” ujar anggota tim dalam keterangannya, Selasa (14/3/2026).

Green4ce menjelaskan, pembuatan rakit terapung ini dilakukan bertahap. Mereka beberapa kali turun ke lokasi untuk melihat titik yang memungkinkan dipasangnya rakit, mengukur arus, serta memastikan rakit tersebut tidak mengganggu aktivitas warga.

Mereka juga bertanya kepada warga sekitar tentang perubahan kondisi sungai saat hujan dan saat musim kemarau, untuk menjadi pertimbangan lanjutan.

Rakit biohybrid bekerja dengan prinsip pasif. Sabut kelapa menjadi tempat mikroba tumbuh dan mengurai zat pencemar, sementara arus sungai membawa air melewati struktur rakit tanpa pompa tambahan.

Tim Green4ce memilih pendekatan ini agar alat bisa dipasang di banyak titik tanpa membutuhkan jaringan listrik. Kesulitan yang paling sering muncul selama proses pengembangan rakit ini justru soal waktu.

Jadwal pelajaran, kegiatan organisasi, dan jarak rumah yang berjauhan membuat pertemuan tatap muka menjadi sulit untuk dilakukan. Sehingga banyak keputusan teknis yang akhirnya dibicarakan lewat pesan singkat, mulai dari ukuran rakit hingga cara mengikat sabut kelapa agar tidak mudah terlepas.

“Biaya juga terbatas, jadi kami mencari bahan yang benar-benar mudah didapat. Sabut kelapa dipilih karena murah dan banyak di sekitar,” beber mereka.

Guru pembimbing, yang akrab disapa Miss Chika, ikut mendampingi proses perakitan. Ia meminta tim tidak hanya fokus pada alat, tetapi juga memikirkan cara agar warga sekitar dapat merawatnya. Dari sanalah, desain rakit dibuat modular agar bisa diperbaiki bagian per bagian tanpa harus mengganti seluruh unit.

Ide proyek ini akhirnya didaftarkan pada ASRI Awards yang digelar Kompas Gramedia 2025. Usai mengikuti rangkaian tahapannya, proyek rakit sabut berhasil meraih kategori The Most Sustainable Ide.

Baca juga: Tak Lagi Cari Ikan, Nelayan Kini Berburu Sampah Plastik di Sungai

Green4ce turut mendapat masukan mengenai ketahanan bahan dan cara mengukur perubahan kualitas air. Bagi mereka, pengalaman mengikuti kompetisi itu juga menjadi kesempatan untuk menunjukan proyek mereka kepada lebih banyak orang di luar sekolah.

"Kami berharap rakit ini bisa dipasang di lebih banyak titik. Kami sangat membutuhkan mitra dan sponsor untuk bisa mengembangkan proyek ini secara maksimal dan memproduksinya dalam jumlah yang banyak," ucap Green4ce.

Perubahan kecil yang kini terjadi di sekolah sudah sangat berarti, karena sungai yang dulu hanya dilewati begitu saja, kini mulai diperhatikan, dikelola, dan menjadi tanggung jawab bersama.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau