Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal

Kompas.com, 14 April 2026, 15:02 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Microsoft dikabarkan menghentikan sementara pembelian penghapusan karbon (carbon removal).

Langkah ini bisa berdampak besar bagi pasar penghapusan karbon. Sebab, selama beberapa tahun terakhir, pasar ini sangat bergantung pada Microsoft sebagai pembeli terbesarnya di dunia.

Bahkan pada tahun 2025, menurut data CDR.fyi, Microsoft menguasai sekitar 90 persen dari total pembelian kredit penghapusan karbon secara global.

Melansir ESG Today, Senin (13/4/2026) Microsoft sendiri tidak membenarkan atau membantah kabar tersebut secara terang-terangan.

Juru bicara Microsoft hanya mengatakan bahwa mereka terus memantau dan mengevaluasi portofolio penghapusan karbon serta kondisi pasar untuk menjaga keseimbangan terbaik menuju target bebas karbon.

Baca juga: Microsoft Capai Target 100 Persen Energi Terbarukan

Sebagai informasi Carbon removal atau penghapusan karbon merupakan kegiatan menyedot kembali polusi di udara dan menyimpannya di tempat aman dalam jangka panjang agar tidak kembali lagi mencemari lagi.

Metode yang digunakan bisa alami dengan cara menanam pohon atau memperbaiki kualitas tanah. Selain itu juga bisa dilakukan dengan teknologi yakni melalui Direct Air Capture (DAC), mesin raksasa untuk menyedot karbon dan menyimpannya di bawah tanah.

Proses tersebut menghasilkan kredit penghapusan karbon yang dianggap jauh lebih berkualitas dan mahal daripada kredit karbon biasa.

Komitmen Iklim Microsoft

Program penghapusan karbon Microsoft sendiri merupakan bagian dari janji mereka untuk menjadi 'negatif karbon' pada tahun 2030. Artinya, mereka akan menyedot lebih banyak polusi daripada yang mereka hasilkan.

Selain itu, pada tahun 2050, mereka berambisi untuk menghapus seluruh jejak karbon yang pernah mereka hasilkan sejak perusahaan berdiri.

Tahun ini, Microsoft mengumumkan telah sepakat untuk menghapus 45 juta metrik ton karbon pada tahun 2025. Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dari tahun 2024, dan sembilan kali lipat lebih besar dibanding tahun 2023.

Sebagai perbandingan, pembeli terbesar kedua (Frontier Buyers) sejauh ini hanya membeli sekitar 1,8 juta ton.

Pada tahun 2025, Microsoft bekerja sama dengan 21 perusahaan di berbagai negara untuk menghapus karbon, baik melalui cara alami maupun teknologi mesin. Hasilnya setara dengan melenyapkan polusi 10 juta mobil bensin selama setahun.

Tak hanya membeli, Microsoft juga membantu mengembangkan industri ini sejak tahap awal dengan melakukan pemeriksaan ketat, membantu pendanaan, hingga menciptakan model pembiayaan baru agar proyek-proyek penghapusan karbon ini bisa tumbuh lebih cepat.

Baca juga: Amazon hingga Microsoft Dominasi Pembelian Energi Bersih Sepanjang 2025

Aktivitas belanja Microsoft sebenarnya masih berlanjut hingga tahun 2026 ini. Selama beberapa bulan terakhir, mereka sudah mengumumkan beberapa kesepakatan besar, termasuk perjanjian jangka panjang selama 15 tahun untuk membeli lebih dari 600.000 ton kredit karbon yang baru saja diumumkan minggu lalu.

Jadi, meskipun pembelian baru dikabarkan sedang berhenti, kontrak jangka panjang yang sudah ditandatangani Microsoft akan tetap mengalirkan dana miliaran dolar ke proyek-proyek penghapusan karbon selama beberapa tahun ke depan.

Para pelaku industri pun memberikan apresiasi atas peran Microsoft dalam memajukan pasar ini, walaupun mereka juga mengakui bahwa jeda pembelian ini memberikan tantangan tersendiri.

“Microsoft tidak hanya membeli kredit karbon. Mereka yang membangun pasarnya. Mereka menetapkan standar kualitas tinggi yang memaksa setiap penyedia, termasuk kami, untuk menjadi lebih baik,” ungkap Jonathan Rhone, CEO pengembang proyek penghapusan karbon CO280.

"Microsoft bukan satu-satunya pembeli. Pasar ini akan tetap tumbuh setiap tahun dengan adanya pembeli-pembeli baru yang bermunculan setiap hari,” tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Pemerintah
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya 'Windfall Tax' Diterapkan
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya "Windfall Tax" Diterapkan
LSM/Figur
Pengamat: Lingkungan Kerja 'Toxic' karena Supervisor jadi 'Raja Kecil'
Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"
Swasta
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau