Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial

Kompas.com, 15 April 2026, 09:24 WIB
Add on Google
Yohanes Enggar Harususilo

Penulis

KOMPAS.com - Siapa sangka, aktivitas berselancar di media sosial bisa berujung pada penemuan sains penting.

Di tengah riuhnya unggahan foto tanaman hias para kolektor di platform digital, mata tajam para peneliti berhasil menangkap kejanggalan morfologi pada beberapa tanaman hias yang sedang diperjualbelikan.

Hal inilah yang menjadi pintu masuk bagi tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Herbarium Bandungense SITH ITB untuk mengungkap jati diri tiga anggota baru dari keluarga aroid (talas-talasan) asal Pulau Sumatra.

Fenomena "citizen science" atau peran serta masyarakat secara tidak langsung ternyata kian nyata. Ketiga spesies baru dari genus Homalomena ini awalnya menarik perhatian karena ciri fisiknya yang tidak biasa dan belum teridentifikasi dalam database taksonomi manapun.

Penemuan ini secara resmi dipublikasikan dalam jurnal internasional Telopea Volume 30 tahun 2026 dengan judul "Taxonomic contributions to the genus Homalomena (Araceae) in Western Malesia: three new species from Sumatra discovered through the ornamental plant trade".

Muhammad Rifqi Hariri, peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, mengungkapkan bahwa platform digital kini menjadi katalisator bagi penemuan biodiversitas.

"Platform digital kini menjadi salah satu pintu masuk awal untuk mengenali potensi spesies baru, terutama dari tanaman hias yang beredar di kalangan kolektor," tuturnya dalam siaran pers BRIN (14/4/2026).

Menariknya, salah satu spesies bahkan diketahui sudah beredar hingga ke Jepang sejak sembilan tahun silam tanpa ada identitas ilmiah yang jelas.

Tiga "Harta Karun" Baru dari Sumatra

Penemuan spesies baru Homalomena pachyderma A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri
DOK. BRIN Penemuan spesies baru Homalomena pachyderma A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri

Ketiga spesies baru ini memiliki nama ilmiah yang mencerminkan ciri khas fisik maupun lokasi penemuannya:

Homalomena pachyderma A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri

Spesies ini memiliki karakter unik pada daunnya yang tebal. Selain itu, jika diamati lebih dekat, permukaan atas daunnya memiliki struktur berpapila yang membedakannya dari jenis lainnya.

Homalomena pulopadangensis A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri

Namanya merujuk pada lokasi asal tanaman ini. Ciri utamanya adalah bentuk daun yang menyempit dengan bagian genicula (persendian daun) yang lebih tebal serta bentuk organ staminodia yang menyerupai gada (claviform).

Homalomena uncinata A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri

Inilah spesies yang paling unik secara visual karena memiliki rambut-rambut halus berbentuk kait (uncinate) di permukaan atas daunnya. Karakteristik ini menjadi pembeda yang sangat kontras di antara spesies Homalomena lainnya di Sumatra.

Penelitian ini semakin memperkuat posisi Pulau Sumatra sebagai salah satu pusat keragaman genus Homalomena di kawasan Malesia (wilayah biogeografi yang mencakup Indonesia, Malaysia, hingga Filipina).

Ketiga spesies ini diduga kuat memiliki sebaran yang terbatas di wilayah Sumatra Utara, sehingga berpotensi bersifat endemik.

Menjaga "harta karun" keanekaragaman hayati

Penemuan spesies baru Homalomena uncinata A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri
DOK. BRIN Penemuan spesies baru Homalomena uncinata A.S.D.Irsyam & M.R.Hariri

Penemuan ini juga memberikan perspektif baru bagi para pehobi tanaman hias. Koleksi tanaman yang selama ini dipelihara di pembibitan atau nursery ternyata bisa menjadi sumber data penting bagi dokumentasi kekayaan hayati Indonesia yang masih sangat luas untuk dieksplorasi.

Tim peneliti BRIN berkomitmen untuk terus melanjutkan kajian taksonomi ini. Upaya ini bukan sekadar memberi nama pada tanaman, melainkan langkah krusial dalam pendataan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya hayati Indonesia secara berkelanjutan di masa depan.

Bagi para pecinta tanaman, penemuan ini adalah pengingat bahwa keajaiban alam sering kali tersembunyi tepat di depan mata, bahkan di dalam pot-pot koleksi yang kita miliki.

Baca juga: Sejarah Hari Apresiasi Tanaman Internasional, 13 April: Dari Komunitas hingga Tren Global

Sisi lain, kita juga perlu memastikan bahwa "harta karun" hijau ini tetap lestari di habitat aslinya, bukan sekadar berakhir sebagai pajangan eksotis yang berpindah tangan secara gelap demi keuntungan sesaat.

Perlindungan keanekaragaman hayati sejatinya memerlukan lebih dari sekadar nama ilmiah daerah asal melainkan juga menuntut ketegasan aturan sebelum kepunahan mendahului proses pendataan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
Remaja Paham Stunting tapi Lebih Suka Seblak ketimbang Sayur-Buah
LSM/Figur
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau