KOMPAS.com - Produksi pangan masih menjadi penyebab utama deforestasi di seluruh dunia. Namun hingga saat ini, belum ada yang memetakan secara jelas tanaman mana yang bertanggung jawab dan di mana kerusakan terjadi.
Peneliti dari Universitas Teknologi Chalmers di Swedia dalam studinya mencoba mengungkapnya dan menemukan hal yang menarik.
Berdasarkan studinya, mereka menemukan bahan pangan umum seperti jagung, nasi, dan singkong ternyata menyebabkan kerusakan hutan yang lebih besar dibandingkan tanaman ekspor.
Itu merupakan bahan pokok sehari-hari yang ditanam dan dimakan secara lokal, namun sering kali luput dari perhatian.
Melansir Earth, Kamis (26/3/2026) dalam studinya, peneliti membangun pemodelan yang menghubungkan produksi pertanian dengan hilangnya hutan di seluruh dunia.
Baca juga: Limbah Pertanian Bisa Jadi Bahan Bangunan, Simpan Karbon dan Tekan Emisi Iklim
Mereka menciptakan model Pendorong Deforestasi dan Emisi Karbon, yang dikenal dengan nama DeDuCE. Model ini menggabungkan citra satelit dan data pertanian untuk melacak bagaimana tanaman tertentu berdampak pada hutan di berbagai negara.
“Hubungan deforestasi dengan produksi pangan telah lama dipelajari, tetapi seringkali berfokus pada beberapa produk, seperti daging sapi, kedelai, dan minyak sawit, yang dikenal luas dalam konteks deforestasi,” kata salah satu penulis studi, Chandrakant Singh.
“Dalam studi kami, kami telah menggabungkan data satelit yang ekstensif tentang penggunaan lahan dengan statistik pertanian dengan cara yang memberi kami gambaran paling komprehensif dan akurat tentang apa yang mendorong deforestasi di seluruh dunia,” terangnya lagi.
Model ini mencakup 179 negara dan 184 komoditas. Model ini menunjukkan bahwa 122 juta hektar hutan hilang antara tahun 2001 dan 2022 karena pertanian. Lebih dari 80 persen dari kehilangan itu terjadi di wilayah tropis.
Hasil pemodelan menemukan hasil yang bertentangan dari beberapa asumsi umum.
Industri skala besar seperti daging sapi dan kedelai memang masih memainkan peran utama, terutama di wilayah seperti Amerika Selatan. Tetapi tanaman pokok menceritakan kisah yang berbeda.
Jika digabungkan, jagung, padi, dan singkong menyumbang sekitar 11 persen dari deforestasi yang disebabkan oleh pertanian. Sebagai perbandingan, gabungan kakao, kopi, dan karet justru menyumbang kurang dari 5 persen.
Selisih ini sangat penting. Tanaman pangan pokok ini ditanam di banyak negara, bukan hanya di beberapa wilayah tertentu saja. Dampaknya tersebar di area yang sangat luas, sehingga masalahnya lebih sulit dideteksi dan dikelola.
"Kita tidak boleh lupa bahwa sebagian besar deforestasi didorong oleh produksi pertanian untuk pasar domestik. Jadi untuk benar-benar mengurangi deforestasi, kita juga harus mengambil tindakan di negara-negara produsen,” papar salah satu penulis studi, Martin Persson.
Untuk membuka lahan pertanian, hutan biasanya akan ditebang dan kemudian sering kali dibakar.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya