Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Produksi Pangan Harian Jadi Pemicu Utama Kerusakan Hutan

Kompas.com, 27 Maret 2026, 21:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Produksi pangan masih menjadi penyebab utama deforestasi di seluruh dunia. Namun hingga saat ini, belum ada yang memetakan secara jelas tanaman mana yang bertanggung jawab dan di mana kerusakan terjadi.

Peneliti dari Universitas Teknologi Chalmers di Swedia dalam studinya mencoba mengungkapnya dan menemukan hal yang menarik.

Berdasarkan studinya, mereka menemukan bahan pangan umum seperti jagung, nasi, dan singkong ternyata menyebabkan kerusakan hutan yang lebih besar dibandingkan tanaman ekspor.

Itu merupakan bahan pokok sehari-hari yang ditanam dan dimakan secara lokal, namun sering kali luput dari perhatian.

Hubungan Deforestasi dan Produksi Pangan

Melansir Earth, Kamis (26/3/2026) dalam studinya, peneliti membangun pemodelan yang menghubungkan produksi pertanian dengan hilangnya hutan di seluruh dunia.

Baca juga: Limbah Pertanian Bisa Jadi Bahan Bangunan, Simpan Karbon dan Tekan Emisi Iklim

Mereka menciptakan model Pendorong Deforestasi dan Emisi Karbon, yang dikenal dengan nama DeDuCE. Model ini menggabungkan citra satelit dan data pertanian untuk melacak bagaimana tanaman tertentu berdampak pada hutan di berbagai negara.

“Hubungan deforestasi dengan produksi pangan telah lama dipelajari, tetapi seringkali berfokus pada beberapa produk, seperti daging sapi, kedelai, dan minyak sawit, yang dikenal luas dalam konteks deforestasi,” kata salah satu penulis studi, Chandrakant Singh.

“Dalam studi kami, kami telah menggabungkan data satelit yang ekstensif tentang penggunaan lahan dengan statistik pertanian dengan cara yang memberi kami gambaran paling komprehensif dan akurat tentang apa yang mendorong deforestasi di seluruh dunia,” terangnya lagi.

Model ini mencakup 179 negara dan 184 komoditas. Model ini menunjukkan bahwa 122 juta hektar hutan hilang antara tahun 2001 dan 2022 karena pertanian. Lebih dari 80 persen dari kehilangan itu terjadi di wilayah tropis.

Hasil pemodelan menemukan hasil yang bertentangan dari beberapa asumsi umum.

Industri skala besar seperti daging sapi dan kedelai memang masih memainkan peran utama, terutama di wilayah seperti Amerika Selatan. Tetapi tanaman pokok menceritakan kisah yang berbeda.

Jika digabungkan, jagung, padi, dan singkong menyumbang sekitar 11 persen dari deforestasi yang disebabkan oleh pertanian. Sebagai perbandingan, gabungan kakao, kopi, dan karet justru menyumbang kurang dari 5 persen.

Selisih ini sangat penting. Tanaman pangan pokok ini ditanam di banyak negara, bukan hanya di beberapa wilayah tertentu saja. Dampaknya tersebar di area yang sangat luas, sehingga masalahnya lebih sulit dideteksi dan dikelola.

"Kita tidak boleh lupa bahwa sebagian besar deforestasi didorong oleh produksi pertanian untuk pasar domestik. Jadi untuk benar-benar mengurangi deforestasi, kita juga harus mengambil tindakan di negara-negara produsen,” papar salah satu penulis studi, Martin Persson.

Emisi dari Pembukaan Lahan

Untuk membuka lahan pertanian, hutan biasanya akan ditebang dan kemudian sering kali dibakar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Pemerintah
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Pemerintah
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Pemerintah
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
Swasta
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
LSM/Figur
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin 'Sapu Teknologi'
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin "Sapu Teknologi"
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau