Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim dan Konflik Global Mengancam, Saatnya Indonesia Andalkan Pangan Lokal

Kompas.com, 31 Maret 2026, 15:14 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Dampak krisis iklim dan konflik Amerika Serikat dan Israel lawan Iran dinilai sudah mendesak Indonesia untuk memprioritaskan optimalisasi sumber daya pangan lokal.

Banjir bandang di Sumatera pada November 2025 lalu, yang dipicu siklon tropis senyar akibat krisis iklim, telah menunjukkan betapa pentingnya sumber pangan lokal.

Baca juga:

"Kami melihat ketika terjadi bencana Sumatera, penduduk yang terisolasi selama dua minggu, bahkan tiga minggu di (Kabupaten) Gayo Lues itu mereka mengonsumsi pisang untuk bertahan hidup," ujar Direktur Pengendali Kerawanan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sri Nuryanti, dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana, Senin (30/3/2026).

Indonesia harus optimalisasi sumber daya pangan lokal

Pisang bisa jadi komoditas penting, mengapa?

Bapanas menyarankan Bupati Gayo Lues dan kepala dinas terkait untuk mengakomodasi pisang sebagai komoditas yang perlu diperhitungkan dalam ketersediaan pangan.

Pisang juga diusulkan untuk dimasukkan ke imputasi produksi pangan yang direkap oleh Kementerian Pertanian. Buah ini termasuk sumber karbohidrat yang bisa dihitung sebagai pangan bersih pada indikator pertama ketahanan pangan.

Pengarusutamaan keanekaragaman konsumsi berbasis sumber daya pangan lokal menjadi kunci untuk berdaulat secara individu, pada level rumah tangga, atau bahkan di tingkat kewilayahan.

Hal tersebut semakin penting mengingat Indonesia harus menghadapi berbagai tantangan global. Khususnya, risiko krisis iklim yang dipicu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel lawan Iran.

Baca juga:

Terkendala pasar

Warga Desa Baumata, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) memeriksa kebun pisang cavendish yang dikelolanya. Ketegangan AS-Israel vs Iran dan krisis iklim picu ancaman pangan serius. Bapanas desak optimalisasi pangan lokal seperti pisang, mengapa?Dok. Humas Kementerian ATR/BPNa Warga Desa Baumata, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) memeriksa kebun pisang cavendish yang dikelolanya. Ketegangan AS-Israel vs Iran dan krisis iklim picu ancaman pangan serius. Bapanas desak optimalisasi pangan lokal seperti pisang, mengapa?

Menurut Sri, mengubah pola konsumsi membutuhkan proses, yang mana masyarakat perlu merasakan pengalaman menyantap olahan makanan dari pangan lokal.

Oleh karena itu, Bapanas bekerja sama dengan Indonesia Chef Association untuk mengembangkan berbagai resep berbahan baku pangan lokal.

"Jadi anak-anak sekarang kan sukanya nongki-nongki (nongkrong) di kafe-kafe, makan makanan yang difoto berjam-jam pakai internet dan lain-lain di situ. Nah, kami minta kepada para chef itu mengembangkan pangan, burger pakai ubi ungu atau mi mocaf," tutur Sri.

Industri dapat memproduksi makanan berbahan baku pangan lokal jika pasar menyambutnya dengan baik.

"Nah, yang belum merespons adalah pasar karena masyarakat belum terbiasa kembali dengan pangan setempat. Pak Kadis Seram itu mengeluh, anak-anak generasi kelahiran tahun 90 ke sini mereka sudah lupa makan papeda, sudah lupa makan kapurung, tidak tahu caranya bahkan, dan merasa geli ketika melihat orang mengonsumsi seperti itu," ucapnya.

Untuk mengembalikan selera masyarakat dalam menyantap makanan berbahan baku pangan lokal membutuhkan proses sangat panjang. 

Sri memperkirakan, dibutuhkan satu abad untuk mengembalikan sagu sebagai pangan lokal utama yang senantiasa dimasak, diolah, dan disajikan dalam hidangan makan.

"Jangan kita bangga makan terigu. Mari kita kembali ke pangan lokal kita sehingga kita tidak akan tergerus ekonominya, devisa kita habis untuk membeli gandum ketika ada perang harganya semakin meningkat," tutur Sri.

"Perlu ketahui 20 persen devisa negara untuk membayar impor pangan itu gandum. Ini sangat menyedihkan dan kita semua harus memitigasi dengan kembali mencintai pangan-pangan lokal kita termasuk pisang," tambah dia.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Pemerintah
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Pemerintah
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Pemerintah
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
LSM/Figur
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Pemerintah
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
Swasta
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
LSM/Figur
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Pemerintah
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Pemerintah
WBA: Lembaga Keuangan Belum Maksimal Dukung Transisi Hijau
WBA: Lembaga Keuangan Belum Maksimal Dukung Transisi Hijau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau