KOMPAS.com - Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa gas metana di atmosfer meningkat rata-rata 0,7 persen per tahunnya, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada 2021.
Hal ini diketahui berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances. Peneliti menggunakan data satelit TROPOspheric Monitoring Instrument (TROPOMI) dan Greenhouse Gases Observing Satellite (GOSAT) tahun 2019-2024.
"Emisi global meningkat dari 571 teragram (Tg) per tahun pada tahun 2019 menjadi 601 Tg per tahun pada 2021 dan kembali menjadi 575 Tg per tahun pada 2024," kata peneliti dalam studinya dilansir dari Phys, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Tim peneliti menyampaikan, kenaikan metana secara keseluruhan utamanya disebabkan penyesuaian yang lambat terhadap tingkat emisi sebelumnya, sehingga menyumbang 59 persen emisi.
Sementara itu, peningkatan emisi baru berkontribusi 25 persen, dan melemahnya kemampuan atmosfer dalam menyerap metana menyumbang 16 persen.
Dalam studinya, peneliti mencatat pertumbuhan metana mulai melambat periode 2022–2024 setelah mencapai puncaknya pada 2021.
Perlambatan dipicu pemulihan peran radikal hidroksil (OH) di atmosfer, yang berfungsi sebagai penyerap utama metana bukan karena penurunan emisi secara signifikan. Hanya saja, emisi batu bara tetap sama selama periode tersebut.
Peneliti menyatakan bahwa puncak metana pada 2021 didorong peningkatan 7 persen emisi dari peternakan tahun 2020 sampai 2021, dengan kontribusi 6 persen dari limbah dan 3 persen lahan basah. Mereka mencatat, data ini sejalan dengan pengamatan atmosfer terhadap rasio karbon yang mengaitkan lonjakan metana tahun 2020–2022 dengan sumber biogenik.
Baca juga: Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Secara regional, Afrika Timur dan Amerika Selatan menjadi kontributor utama peningkatan emisi metana, disusul dengan Eropa. Emisi di Afrika meningkat dari 79 Tg per tahun pada 2019 menjadi 86 Tg per tahun di 2024 yang sebagian besar disebabkan aktivitas lahan basah dan sektor peternakan.
Peningkatan emisi di Amerika Selatan didorong oleh sektor minyak dan gas di Venezuela dan Kolombia serta emisi limbah. Emisi dari lahan basah dan peternakan di kawasan ini relatif stabil.
“Tren di AS dan Kanada relatif stabil. Emisi minyak dan gas menurun 9 persen selama 2019–2024, dengan penurunan signifikan di Timur Tengah dan Afrika Utara, menunjukkan kemajuan awal menuju target Global Methane Pledge,” ungkap peneliti.
Tim juga menekankan perlunya tindakan kuat untuk menurunkan emisi dari peternakan dan limbah guna mencapai target Methane Pledge. Mereka menegaskan bahwa analisis ini dapat ditingkatkan lebih lanjut dengan instrumen satelit Carbon-I yang diusulkan di masa depan.
Dalam periode 20 tahun, metana diprediksi mampu memerangkap panas hingga 80 kali lebih kuat dibandingkan kabron dioksida (CO2). Hal ini membuat metana menjadi fokus utama dalam berbagai upaya penanganan krisis iklim global.
Salah satu komitmen internasional yang menyorotinya Global Methane Pledge yang diluncurkan dalam Conference of The Parties (COP26) pada November 2021. Inisiatif ini menargetkan penurunan emisi metana akibat aktivitas manusia sebesar 30 persen pada tahun 2030.
Untuk mencapai target tersebut, pengukuran kadar metana di atmosfer secara akurat menjadi hal yang sangat penting. Namun, teknologi pemantauan yang ada masih memiliki keterbatasan.
Satelit TROPOMI mampu memantau seluruh dunia setiap hari dengan resolusi yang baik, tetapi hasilnya bisa dipengaruhi bias di wilayah tertentu. Sementara, satelit GOSAT memiliki tingkat akurasi lebih tinggi, tetapi jumlah data yang dikumpulkan lebih sedikit.
Baca juga: Peneliti Temukan Mikroba Pemakan Metana, Apa Itu?
Peneliti dari Harvard kemudian mengembangkan metode dengan menggabungkan data dari kedua satelit tersebut. Cara ini dinilai mampu memberikan gambaran yang lebih lengkap dan akurat mengenai kondisi metana di seluruh dunia.
Adapun sumber utama metana yang berasal dari aktivitas manusia antara lain peternakan, industri minyak dan gas, tempat pembuangan sampah, pertambangan batu bara, budidaya padi, serta pengolahan air limbah. Sementara itu, lahan basah menjadi sumber alami terbesar metana.
Temuan terbaru diharapkan dapat membantu upaya global dalam menekan emisi metana sekaligus memperkuat strategi mitigasi perubahan iklim ke depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya