KOMPAS.com - Grup Bank Dunia telah menerbitkan rencana untuk membantu meningkatkan keamanan air bagi satu miliar orang pada tahun 2030, sebagai bagian dari inisiatif global baru bersama pemerintah, lembaga keuangan, dan organisasi bantuan.
Program yang dinamakan Water Forward ini bertujuan untuk meningkatkan investasi dan mengoordinasikan tindakan guna memperluas akses terhadap air bersih, sanitasi, dan sistem yang tahan terhadap perubahan iklim.
Melansir Edie, Kamis (16/4/2026) sekitar 400 juta orang diperkirakan akan menerima manfaat langsung dari program-program Bank Dunia. Sementara itu, pendanaan tambahan dari bank pembangunan, investor swasta, dan mitra filantropi ditargetkan untuk menjangkau 600 juta orang sisanya.
Inisiatif ini muncul karena akses air bersih dunia masih belum merata, sekitar 700 juta orang saat ini masih kekurangan akses dasar terhadap air.
Program ini sendiri akan fokus pada tiga bidang yaitu akses air bagi masyarakat, pertanian, dan kelestarian lingkungan.
Baca juga: Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Jakarta dan Jawa Timur Jadi Sorotan
WaterAid adalah salah satu organisasi yang diharapkan membantu pelaksanaannya, bekerja sama dengan pemerintah dan mitra lokal untuk memastikan proyek-proyek tersebut menjangkau masyarakat yang selama ini terabaikan.
Bank Investasi Eropa (EIB), lembaga keuangan resmi Uni Eropa telah bergabung dalam inisiatif Water Forward dan berkomitmen mendukung keamanan air bagi 300 juta orang pada tahun 2030.
EIB menyatakan akan memberikan pinjaman jangka panjang dan keahlian teknis untuk mendukung pembangunan infrastruktur, perbaikan kebijakan, serta investasi pada sistem air.
Kontribusi ini bertujuan untuk memperkuat upaya bersama yang dipimpin oleh bank-bank pembangunan dalam mengatasi kekurangan dana dan masalah pengelolaan.
"Ini adalah kontribusi besar bagi target bersama untuk menjangkau satu miliar orang, guna meningkatkan kesehatan dan kesempatan hidup di seluruh dunia," ungkap Presiden EIB, Nadia Calviño.
Tahun depan, EIB akan memimpin kelompok bank pembangunan multilateral, dan kami akan menjadikan masalah air serta ketahanan sebagai salah satu dari lima prioritas utama kami. Kemitraan seperti inilah yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.
Kelangkaan air semakin parah akibat perubahan iklim, di mana cuaca ekstrem yang lebih sering terjadi memberikan tekanan besar pada pasokan air dan infrastruktur.
PBB baru-baru ini memperingatkan bahwa sebagian besar wilayah dunia sedang mendekati kondisi 'kebangkrutan' air, di mana persediaan air telah terkuras habis hingga sulit untuk pulih kembali secara alami.
Baca juga: Permintaan Meningkat Tajam, PBB Peringatkan Potensi Krisis Air
Hampir tiga perempat penduduk dunia kini tinggal di negara-negara yang tergolong krisis air. Sekitar empat miliar orang mengalami kelangkaan air yang parah setidaknya selama satu bulan setiap tahunnya, sementara dua miliar orang tinggal di daerah dengan permukaan air tanah yang terus menurun.
Menurut penilaian PBB, beberapa sistem air telah dikuras habis-habisan selama puluhan tahun, dan separuh dari danau-danau besar di dunia telah menyusut dalam 30 tahun terakhir.
"Di dunia yang penuh ketidakpastian ini, akses air bersih adalah tujuan yang bisa mempersatukan kita semua, karena air menopang 1,7 miliar pekerjaan di seluruh dunia. Segala hal dimulai dari air, mulai dari makanan, kesehatan, hingga kesejahteraan kita," papar CEO WaterAid UK, Tim Wainwright.
"Kami akan bekerja keras untuk mendorong semangat dunia dan kerja sama antar berbagai sektor hingga Konferensi Air PBB dan seterusnya. Dengan begitu, kita bisa bersama-sama menghadapi krisis air global serta membuka lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan jangka panjang bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya