Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gen Z Kerap Dicap Lembek di Tempat Kerja, Mitos atau Realita?

Kompas.com, 20 April 2026, 16:20 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi Z kerap dicap lembek di tempat kerja, bahkan tak sedikit orang menganggap generasi ini mudah terbawa perasaan (baper) dibandingkan generasi sebelumnya.

Anggapan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas. Sebab, Gen Z dinilai memiliki pola pikir yang lebih terbuka, kritis, dan berani menyuarakan hal-hal yang dianggap melanggar hak mereka terutama dalam lingkungan kerja.

"Ya (memiliki) pandangan boleh, tetapi realitasnya menurut saya enggak begitu karena banyak juga anak-anak Gen Z yang begitu keras. Menurut hemat saya, mereka sangat terbuka," ungkap Guru Besar sekaligus Pakar Ketenagakerjaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjuddin Noer Effendi saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

Baca juga: Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?

Dia menjelaskan bahwa stigma ini tidak lepas dari adanya kesenjangan antar generasi.

"Gap karena perbedaan konteks, dan situasi dalam dunia sosial termasuk dalam dunia kerja," imbuh Tadjuddin.

Tadjuddin mencontohkan, banyak lulusan baru ataupun mahasiswa magang yang kerap diberikan tugas layaknya karyawan di satu perusahaan. Upah minim ditambah banyaknya pekerjaan membuat Gen Z memprotes sistem ini.

"Mereka pasti tidak mau, karena menurut mereka itu eksploitasi. Gen Z juga vokal dengan hal-hal yang berkaitan dengan kondisi mereka, sangat vokal," tutur dia.

Menurut Tadjuddin, generasi yang lebih tua cenderung memiliki sudut pandang berbeda karena telah melewati proses panjang hingga mencapai kondisi yang lebih mapan. Sementara, Gen Z masih berada dalam fase mencari peluang dan membangun karier.

Kondisi ini membuat Gen Z lebih mudah berbicara ketika menghadapi ketimpangan, seperti praktik kerja yang dianggap tidak adil.

Baca juga: Mengenal Micromanagement, Gaya Kepemimpinan Tirani yang Bisa Rusak Sistem Kerja Perusahaan

"Jadi menurut hemat saya kita menilainya tidak bisa dengan pandangan generasi tua, zamannya berbeda, kondisi sosialnya sudah berbeda," sebut Tadjuddin.

Melek Teknologi Ciptakan Peluang Baru

Di sisi lain, Gen Z memiliki keunggulan dalam hal adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Mereka terbiasa dengan digitalisasi, media sosial, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang menjadi modal penting di dunia kerja modern.

Tadjuddin menyatakan, kemampuan ini membuat Gen Z lebih fleksibel dalam mencari peluang salah satunya melalui platform digital dan ekonomi kreatif.

"Anda tahu di Nepal dan di Bulgaria, Gen Z itu bergerak bisa menumbangkan pemerintahan mereka karena mereka menguasai media sosial dan mereka bisa melakukan segala macam mencari data yang berkaitan dengan apa yang dilakukan pemerintah," jelas Tadjuddin.

"Jadi kalau dibilang lembek kan enggak ya. Ya emang kalau mereka mau dieksploitasi di tempat kerja ya mereka pasti protes," lanjut dia.

Gen Z juga menghadapi sulitnya mencari pekerjaan sektor formal. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS) 2025, tingkat pengangguran terbuka usia 15-19 tahun sebesar 23,34. Usia 20-24 sebesar 14,35 dan usia 25-29 sebesar 6,67.

"Memang mereka dalam keadaan sulit sekarang mendapat kerja, banyak sekali yang menganggur. Kalau sekarang dicatat kira-kira 8 juta Gen Z yang menganggur, tapi kan mereka bisa menciptakan peluang kerja mereka sendiri," beber dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau