Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gasifikasi Dinilai Tak Cocok untuk Sampah Kota, BRIN Soroti Risiko PLTSa di Indonesia

Kompas.com, 20 April 2026, 17:01 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Teknologi gasifikasi dinilai belum cocok diterapkan untuk pengelolaan sampah padat perkotaan (municipal solid waste/MSW) di Indonesia yang umumnya masih tercampur.

Peneliti Ahli Utama Bidang Waste to Energy (WtE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wahyu Purwanta, mengatakan penerapan teknologi tersebut berisiko menghadapi kendala operasional ketika digunakan dalam skala besar.

“Kalau masih skala pilot mungkin berjalan mulus, tapi ketika sudah 1.000 ton per hari, perlu dievaluasi lagi,” ujar Wahyu dalam webinar Waste to Energy dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan, Jumat (18/4/2026).

Baca juga: 34 Proyek WtE Dibangun Atasi Darurat Sampah, Green Jobs Terbuka untuk Berbagai Jurusan

Efisiensi jadi tantangan

Menurut Wahyu, secara teknis teknologi gasifikasi seperti yang diterapkan di PLTSa Benowo, Surabaya, masih mampu memusnahkan lebih dari 90 persen sampah. Namun, persoalan muncul pada efisiensi konversi energi menjadi listrik.

Padahal, listrik yang dihasilkan tidak hanya menjadi produk sampingan, tetapi juga berperan penting dalam menopang keberlanjutan bisnis proyek.

Penurunan output listrik dari desain awal dapat berdampak langsung terhadap kelayakan operasional pembangkit, terutama karena model bisnis PLTSa saat ini masih bergantung pada *tipping fee* atau biaya pengolahan sampah yang dibayarkan pemerintah daerah.

“Ketergantungan pada tipping fee menunjukkan masih adanya kerentanan dari sisi fiskal,” kata dia.

Gasifikasi butuh sampah homogen

Wahyu menjelaskan, teknologi gasifikasi bekerja dengan memanaskan sampah dalam kondisi minim oksigen untuk menghasilkan *syngas* yang relatif lebih bersih dibandingkan insinerasi.

Namun, teknologi ini memiliki toleransi yang sangat rendah terhadap sampah campuran seperti yang umum ditemukan di Indonesia.

Gasifikasi membutuhkan sampah dengan karakteristik homogen, kering, dan telah dicacah secara seragam. Jika tidak terpenuhi, risiko gangguan operasional seperti pembentukan kerak hingga *shutdown* menjadi tinggi.

Sebagai perbandingan, teknologi insinerasi dinilai lebih adaptif terhadap kondisi sampah campuran karena dapat langsung membakar sampah tanpa perlu pemilahan ketat di hulu.

Namun, teknologi ini memiliki konsekuensi biaya yang tinggi, terutama untuk instalasi pengendalian emisi gas buang (flue gas treatment).

Baca juga: Ada Sejumlah Syarat yang Harus Dipenuhi untuk Implementasikan WtE

Selain itu, efisiensi listrik dari insinerasi juga sangat dipengaruhi oleh kadar air dalam sampah. Sampah yang terlalu basah dapat menurunkan performa pembangkitan energi.

Di luar aspek teknologi, Wahyu menekankan pentingnya perhitungan pasokan sampah yang realistis dalam studi kelayakan proyek WtE.

Ia menilai banyak pemerintah daerah masih lemah dalam penyediaan data yang akurat, sehingga studi kelayakan sering kali hanya berbasis asumsi.

“Sampel kadang hanya diambil tiga hari, padahal kota harus benar-benar tahu berapa pasokan sampah yang realistis,” ujar dia.

Ia juga menyoroti data dalam Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) yang dalam beberapa kasus tidak mengalami perubahan dalam beberapa tahun, sehingga perlu diverifikasi kembali di lapangan.

Dengan kondisi persampahan yang masih tercampur dan belum terkelola optimal di hulu, Wahyu menilai pemilihan teknologi pengolahan sampah harus disesuaikan dengan karakteristik lokal.

Tanpa dukungan data yang kuat dan sistem pengelolaan yang matang, proyek WtE berisiko tidak optimal, baik dari sisi teknis maupun keekonomian.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Hari Laut Sedunia 2026: Pengingat agar Masyarakat Dunia Jaga Lautan
Pemerintah
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
Banjir dan Air Limbah Tingkatkan Risiko Paparan Bakteri yang Resisten Antibiotik
LSM/Figur
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau