JAKARTA, KOMPAS.com - Industri populer, seperti musik dan konten digital, memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk perilaku generasi muda, menjadikannya pintu masuk untuk memperkenalkan keberlanjutan (sustainability).
VP Sustainability KG Media, Wisnu Nugroho menyatakan industri populer dapat mengubah persepsi pelajar tentang isu sustainability yang masih terkesan berat untuk dipelajari, terlalu teknis, dan membosankan.
"Lewat para musisi itu, para artis yang dekat dengan anak muda, kami berharap pintu masuk untuk sustainability itu lebih mudah ditembus," ujar VP Sustainability KG Media, Wisnu Nugroho dalam Talkshow Tumbuh Lestari, Bijak Berenergi di SMAN 40 Jakarta, Senin (11/5/2026).
Baca juga: Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pelajar bisa mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan untuk memahami berbagai permasalahan di sekitarnya.
"Jakarta Utara mungkin sudah jarang melihat langit biru. Langitnya kelabu semua. Saya tinggal di Serpong lumayan lah agak pagi itu masih ada kadang-kadang biru, tapi jam 8 udah enggak biru lagi. Sudah sama saja, kelabu. Kalau mau lihat langit biru biasanya saya keluar kota, baru lihat 'Wah, cakep birunya'," tutur Wisnu.
Pelajar biasanya terpapar isu keberlanjutan dari platform media sosial. Namun, di balik itu ada risiko pelajar terpapar konten di media sosial yang mengandung praktik manipulatif untuk menciptakan kesan ramah lingkungan secara tidak jujur atau greenwashing.
Ciri praktik greenwashing dapat dikenali dari tiadanya kejelasan komitmen awal dan nilai mendasar yang diperjuangan dalam jangka panjang secara berkesinambungan.
"Biasanya kalau produk-produk atau kegiatan yang bisa agak bau-bau greenwashing biasanya sekali (mempublikasikan kegiatan sustainability), kelar. Perusahaan yang yang berusaha sungguh-sungguh, termasuk Pertamina, melakukan langkah-langkah panjang. Hasilnya enggak langsung ketahuan," ucapnya.
Baca juga: Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Ia mengingatkan, komitmen terhadap keberlanjutan bagi perusahaan bukanlah perkara gampang. Hasil dari kinerja keberlanjutan perusahaan tidak dapat diperoleh secara instan.
"Lakukan hari ini, tiba-tiba bumi berubah. Enggak mungkin secepat itu. Ada komitmen yang panjang didasari sebuah nilai dan ada ketulusan yang dilakukan untuk lebih bertanggung jawab," ujar Wisnu.
"Kita melihat bahwa enggak mungkin pekerjaan-pekerjaan di dunia modern ini tidak merusak alam. Eksploitasi dilakukan, kita butuh energinya, kita enggak bisa menolak itu. Tambang misalnya, kita butuh hasil tambang. Hidup kita di sini enggak ada perangkat kalau enggak ada tambang ya,".
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya