KOMPAS.com-Meskipun banyak perusahaan sudah maju dalam menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas, hanya sedikit yang memakainya untuk strategi pertumbuhan bisnis.
Menurut laporan terbaru dari EY-Parthenon, yang merupakan cabang konsultasi dari Ernst & Young, masih ada rasa kurang percaya terhadap AI.
Namun, keberanian untuk mengatasi hambatan tersebut akan menjadi penentu siapa yang akan menjadi pemimpin atau yang tertinggal di tahun-tahun mendatang.
Melansir ESG Dive, Senin (11/5/2026) dalam survei yang dilakukan oleh EY-P, sebanyak 63 persen dari 271 peserta yang semuanya menjabat sebagai wakil presiden atau lebih tinggi dan bertanggung jawab atas pertumbuhan perusahaan mengatakan bahwa AI membantu mereka dalam hal efisiensi dan produktivitas.
Baca juga: Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Di saat yang sama, hanya 14 persen dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka menggunakan AI untuk tetap unggul dari pesaing. Sementara itu, hanya 8 persen yang menggunakannya untuk menjangkau pelanggan baru dan 7 persen untuk memperbanyak sumber pendapatan.
EY-P menyarankan dalam laporan penelitiannya bahwa kebutuhan untuk berubah seharusnya sudah jelas, mengingat 80 persen pemimpin pertumbuhan perusahaan mengatakan bahwa situasi untuk mengembangkan bisnis saat ini jauh lebih menantang dibandingkan tahun lalu.
Bahkan, hampir semua peserta survei (97 persen) mengatakan bahwa faktor dari luar telah memaksa bisnis mereka untuk mengubah strategi pertumbuhan dalam setahun terakhir.
"Hasil survei ini mencerminkan apa yang ada di berita setiap hari," tulis EY-P.
Artinya, penyebab utama perubahan strategi perusahaan adalah tekanan ekonomi dan politik dunia yang tidak stabil, yang memengaruhi 73 persen peserta, dan inovasi teknologi, yang memengaruhi 58 persen peserta.
"Masa-masa di mana kita bisa membuat rencana pertumbuhan untuk tiga tahun mungkin sudah berakhir, dan perusahaan-perusahaan kini mencari pemicu untuk mempercepat ekspansi meskipun kondisinya sulit," tulis laporan tersebut.
Laporan juga menyebut untuk menggunakan AI untuk pertumbuhan bisnis, bukan hanya untuk produktivitas semata.
Banyak peserta survei yang optimis bahwa AI dapat membantu dalam hal penjualan atau pelayanan pelanggan (63 persen) serta pengembangan pasar baru (57 persen).
Namun, masih ada celah perbedaan pendapat yang mengkhawatirkan. Meskipun sebagian besar pemimpin (78 persen) berharap AI bisa mempercepat pertumbuhan perusahaan, hanya 34 persen yang benar-benar percaya pada AI untuk membantu mengambil keputusan besar terkait pertumbuhan bisnis.
Faktor utama yang menghalangi perusahaan untuk berinovasi lebih cepat dari pesaing adalah masalah aturan, risiko, serta teknologi dan infrastruktur lama yang masih digunakan.
Menurut Mitch Berlin, pimpinan dari EY-P, perusahaan yang akan menjadi "pemenang" adalah mereka yang lebih dulu tahu cara menggunakan AI untuk memajukan bisnis.
Baca juga: Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya