Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis

Kompas.com, 12 Mei 2026, 13:40 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber esgdive

KOMPAS.com-Meskipun banyak perusahaan sudah maju dalam menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan produktivitas, hanya sedikit yang memakainya untuk strategi pertumbuhan bisnis.

Menurut laporan terbaru dari EY-Parthenon, yang merupakan cabang konsultasi dari Ernst & Young, masih ada rasa kurang percaya terhadap AI.

Namun, keberanian untuk mengatasi hambatan tersebut akan menjadi penentu siapa yang akan menjadi pemimpin atau yang tertinggal di tahun-tahun mendatang.

AI bantu efisiensi dan produktivitas

Melansir ESG Dive, Senin (11/5/2026) dalam survei yang dilakukan oleh EY-P, sebanyak 63 persen dari 271 peserta yang semuanya menjabat sebagai wakil presiden atau lebih tinggi dan bertanggung jawab atas pertumbuhan perusahaan mengatakan bahwa AI membantu mereka dalam hal efisiensi dan produktivitas.

Baca juga: Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis

Di saat yang sama, hanya 14 persen dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka menggunakan AI untuk tetap unggul dari pesaing. Sementara itu, hanya 8 persen yang menggunakannya untuk menjangkau pelanggan baru dan 7 persen untuk memperbanyak sumber pendapatan.

EY-P menyarankan dalam laporan penelitiannya bahwa kebutuhan untuk berubah seharusnya sudah jelas, mengingat 80 persen pemimpin pertumbuhan perusahaan mengatakan bahwa situasi untuk mengembangkan bisnis saat ini jauh lebih menantang dibandingkan tahun lalu.

Bahkan, hampir semua peserta survei (97 persen) mengatakan bahwa faktor dari luar telah memaksa bisnis mereka untuk mengubah strategi pertumbuhan dalam setahun terakhir.

"Hasil survei ini mencerminkan apa yang ada di berita setiap hari," tulis EY-P.

Artinya, penyebab utama perubahan strategi perusahaan adalah tekanan ekonomi dan politik dunia yang tidak stabil, yang memengaruhi 73 persen peserta, dan inovasi teknologi, yang memengaruhi 58 persen peserta.

"Masa-masa di mana kita bisa membuat rencana pertumbuhan untuk tiga tahun mungkin sudah berakhir, dan perusahaan-perusahaan kini mencari pemicu untuk mempercepat ekspansi meskipun kondisinya sulit," tulis laporan tersebut.

AI untuk pertumbuhan bisnis

Laporan juga menyebut untuk menggunakan AI untuk pertumbuhan bisnis, bukan hanya untuk produktivitas semata.

Banyak peserta survei yang optimis bahwa AI dapat membantu dalam hal penjualan atau pelayanan pelanggan (63 persen) serta pengembangan pasar baru (57 persen).

Namun, masih ada celah perbedaan pendapat yang mengkhawatirkan. Meskipun sebagian besar pemimpin (78 persen) berharap AI bisa mempercepat pertumbuhan perusahaan, hanya 34 persen yang benar-benar percaya pada AI untuk membantu mengambil keputusan besar terkait pertumbuhan bisnis.

Faktor utama yang menghalangi perusahaan untuk berinovasi lebih cepat dari pesaing adalah masalah aturan, risiko, serta teknologi dan infrastruktur lama yang masih digunakan.

Menurut Mitch Berlin, pimpinan dari EY-P, perusahaan yang akan menjadi "pemenang" adalah mereka yang lebih dulu tahu cara menggunakan AI untuk memajukan bisnis.

Baca juga: Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Indonesia Sampaikan Komitmen Kelola Taman Nasional di Markas PBB
Pemerintah
 IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
IESR: Integrasi Regional untuk Ketahanan Energi Harus Dipercepat
LSM/Figur
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Bikin Bisnis Berkelanjutan, Ini Cerita Pelaku UMKM Surabaya Belajar Kelola Keuangan Digital
Swasta
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
Pemulung di Jaktim Jadi Mentor Hidroponik, Ajari Warga Binaan Bertani Melon
LSM/Figur
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Ekonomi Global Terancam Rugi Rp17.477 Triliun Akibat Cuaca Ekstrem
Pemerintah
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Kombinasi Energi Terbarukan-Baterai Bisa Sediakan Listrik Murah 24 Jam
Pemerintah
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Taman Safari Indonesia Siap Dukung Transformasi Kebun Binatang Bandung
Swasta
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
PBB: Permintaan Kayu Bakar Menjadi Penyebab Utama Hilangnya Hutan Global
Pemerintah
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Krisis Utang Negara Ancam Masa Depan dan Kesejahteraan Perempuan
Pemerintah
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
Satu Awan Radioaktif Sebabkan Mayoritas Dampak Kontaminasi Saat Bencana Nuklir Fukushima
LSM/Figur
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
Label Makanan Alami dan Berkelanjutan Membingungkan Konsumen, Kok Bisa?
LSM/Figur
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
KIP: Informasi Kehutanan Masuk Kategori Wajib Diumumkan Seketika
Pemerintah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
Harga BBM Naik, Konsumen Beralih ke Bahan Bakar dengan Oktan Lebih Rendah
BUMN
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau