Dari hasil memulung, Halimah juga menyisihkan sebagian kardus dan botol plastik untuk ditabung.
“Lebaran kemarin saya ambil tabungan Rp 150.000. Buat jajan anak-anak dan beli baju,” katanya.
Ia mengaku merasa senang karena tabungan sampah memberinya kesempatan untuk menyimpan uang tanpa terasa.
“Kalau dapat banyak kardus atau botol, saya sisihkan satu karung. Lama-lama jadi tabungan,” ujarnya.
Pendiri Swara Hijau Farm, Endang Mintarja, mengatakan ide bank sampah muncul dari kenyataan yang ia lihat setiap hari. Para ibu pemulung, menurut Endang, nyaris tak pernah memiliki sisa uang.
“Mereka cari uang hari ini untuk makan hari ini. Jadi ketika ada kebutuhan mendadak, mereka larinya ke bank keliling,” kata Endang.
Pinjaman itu kerap memberatkan karena dana yang diterima sudah dipotong biaya administrasi, sementara cicilan harus dibayar keesokan harinya.
Melihat kondisi itu, Swara Hijau Farm mendorong para pemulung untuk menabung dalam bentuk sampah.
Setiap setoran dicatat, lalu nilainya dihitung berdasarkan harga barang saat tabungan dicairkan. Tidak ada biaya administrasi, dan berbagai jenis sampah bernilai diterima, seperti kardus, botol plastik, kaleng, dan besi.
Menurut Endang, cara ini efektif justru karena para pemulung cenderung melupakan sampah yang sudah mereka setor.
Baca juga: Jejak Harapan di Kampung Pemulung Bekasi, Sekolah Gratis di Tengah Sampah
“Karena bentuknya bukan uang tunai, mereka enggak tergoda untuk langsung menggunakannya,” ujarnya.
Di Swara Hijau Farm, tumpukan kardus dan botol plastik tak lagi dipandang sebagai limbah semata.
Bagi Wasriah dan Halimah, sampah adalah bentuk tabungan paling sederhana—tetapi juga paling nyata. Dari sana, mereka bisa membayar kontrakan, membeli popok, menyediakan baju Lebaran untuk anak-anak, hingga menghindari jeratan utang berbunga tinggi.
Setiap karung yang mereka bawa menyimpan harapan kecil: bahwa hidup, seberat apa pun, masih bisa dijalani dengan sedikit demi sedikit yang disisihkan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya