Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Perempuan Kurang Percaya Diri Hadapi Teknologi AI Dibandingkan Laki-Laki

Kompas.com, 15 Mei 2026, 13:23 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Kecerdasan buatan (AI) sudah mulai mengubah cara orang belajar, bekerja, berbelanja, dan bahkan saat melamar pekerjaan.

Para remaja menyadari hal itu. Banyak dari mereka menggunakan alat-alat AI setiap hari, baik untuk membantu mengerjakan PR, membantu menulis, atau berlatih membuat kode komputer.

Namun, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa tidak semua pelajar memiliki tingkat kepercayaan diri yang sama untuk menggunakan AI.

Melansir Earth, Jumat (8/5/2026) peneliti di Qatar menemukan bahwa anak laki-laki cenderung memiliki nilai yang lebih baik daripada anak perempuan dalam mata pelajaran terkait AI, sebagian besar karena mereka merasa lebih percaya diri saat menggunakan teknologi tersebut.

Penelitian ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana sekolah mengajarkan AI dan apakah suasana di kelas sudah cukup mendukung agar anak perempuan merasa nyaman mencoba-coba teknologi baru.

Baca juga: Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI

Kekhawatiran tersebut semakin sulit diabaikan karena AI kini menyebar ke hampir semua jenis industri. Sekolah-sekolah pun berada di bawah tekanan untuk mempersiapkan para siswa menghadapi pekerjaan-pekerjaan baru yang mungkin saat ini bahkan belum ada.

Jika siswa kehilangan kepercayaan diri sejak dini, kesenjangan tersebut dapat semakin melebar di kemudian hari.

Kepercayaan diri menggunakan AI

Studi ini dipimpin oleh Dr. Zubair Ahmad dari Pusat Ilmuwan Muda Universitas Qatar. Timnya meneliti bagaimana kepercayaan diri siswa terhadap AI, dukungan yang mereka terima dari sekolah, dan hasil belajar aktual mereka saling terkait.

Para peneliti menyurvei 743 siswa sekolah menengah atas berusia 15 hingga 18 tahun yang belajar komputasi dan TI di Qatar. Para siswa berasal dari berbagai latar belakang Qatar, Asia, dan Afrika.

Survei tersebut mengajukan 35 pertanyaan yang berfokus pada kepercayaan diri terhadap AI, dukungan sekolah, dan hasil belajar.

“Kami menemukan bahwa siswa yang percaya pada kemampuan mereka untuk belajar dan menggunakan AI cenderung lebih mahir dalam mata pelajaran tersebut. Hubungan antara rasa percaya diri dan hasil belajar ini jauh lebih kuat pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan,” kata Dr. Ahmad.

Siswa yang mendapatkan dukungan kuat dari guru dan sekolah juga cenderung mendapatkan hasil belajar AI yang lebih baik.

Dukungan tersebut meliputi kegiatan praktik langsung, bimbingan dari guru, dan akses ke bahan pelajaran. Namun sekali lagi, dampak positif ini terlihat jauh lebih kuat pada anak laki-laki.

Para peneliti percaya bahwa rasa percaya diri dapat memengaruhi cara siswa bereaksi saat pelajaran menjadi sulit.

Siswa yang merasa mampu sering kali lebih bersedia untuk terus mencoba. Siswa lainnya mungkin menghindari tugas yang sulit atau berhenti berpartisipasi saat mereka menghadapi masalah.

Alasan perbedaan kepercayaan perempuan vs laki-laki

Penelitian tersebut menunjukkan beberapa kemungkinan alasan di balik perbedaan gender ini.

“Teknologi dan AI sering kali dianggap sebagai bidang yang didominasi oleh laki-laki, yang dapat memengaruhi keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka dan keterlibatan mereka dalam mata pelajaran tersebut,” kata Dr. Ahmad.

“Dan sebagai hasilnya, siswa perempuan mungkin memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah terhadap kemampuan mereka atau lebih kecil kemungkinannya untuk mencoba-coba alat AI,” terangnya.

Baca juga: Ada 273 Juta Anak Tidak Sekolah pada 2024 Menurut UNESCO

Rasa ragu tersebut sangat berpengaruh karena belajar AI sering kali bergantung pada metode coba-coba.

Siswa menjadi lebih mahir dengan cara menguji berbagai perintah, memperbaiki kesalahan, dan menjelajahi sendiri alat-alat yang ada. Seseorang yang merasa gugup karena takut melakukan kesalahan mungkin akan menjadi jarang berpartisipasi.

Gaya mengajar di kelas juga mungkin berpengaruh.

“Gaya mengajar juga penting. Kami tahu, misalnya, ada siswa yang lebih suka pelajaran yang sangat teratur, sementara yang lain justru lebih berkembang jika diberikan bimbingan yang santai dan kebebasan untuk bereksplorasi,” kata Dr. Ahmad.

Masalah ini terjadi di banyak negara, tidak hanya di satu tempat saja. Penelitian di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia berulang kali menunjukkan bahwa anak perempuan sering kali merasa kurang percaya diri dalam pelajaran ilmu komputer dan teknik, padahal nilai mereka sama bagusnya dengan anak laki-laki.

Para ahli juga mengatakan bahwa harapan sosial, stereotipe, dan kurangnya contoh tokoh perempuan di bidang tersebut menjadi penyebab masalah ini.

Mendukung kepercayaan diri perempuan

Para peneliti berpendapat bahwa pendidikan AI harus dimulai jauh lebih awal daripada sekolah menengah (SMA). Mereka menyarankan untuk mengenalkan konsep-konsep dasar AI sejak sekolah dasar (SD) dan terus membangun keterampilan tersebut secara bertahap seiring berjalannya waktu.

Kendati demikian peneliti menekankan pentingnya mengajarkan siswa cara menggunakan AI secara bertanggung jawab. Hal itu termasuk membantu mereka memahami perbedaan antara mendapatkan bantuan dan menyontek.

Karena alat AI menjadi semakin umum di ruang kelas, sekolah-sekolah di seluruh dunia sedang berjuang untuk menemukan keseimbangan tersebut.

Baca juga: Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan

“Sekolah juga harus berbuat lebih banyak untuk mendukung anak perempuan secara khusus,” kata Dr. Ahmad.

Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan lebih banyak sosok perempuan yang sukses di bidang AI sebagai contoh, menciptakan suasana kelas yang membuat semua siswa merasa nyaman, sehingga anak perempuan merasa mereka didukung secara setara. Itu akan meningkatkan keyakinan mereka terhadap kemampuan diri untuk menggunakan AI.

Salah satu cara untuk melakukannya adalah melalui apa yang disebut sebagai praktik terbimbing.

“Salah satu contohnya adalah guru memperagakan cara menggunakan alat AI, kemudian membiarkan siswa berlatih sambil memberikan bimbingan saat diperlukan,” kata Dr. Ahmad.

“Guru tersebut kemudian secara bertahap mengurangi tingkat bantuan seiring dengan bertambahnya kemahiran siswa. Pendekatan seperti ini akan memastikan bahwa siswa, terutama anak perempuan, merasa didukung selama proses belajar,” tambahnya.

Hal ini membangun keterampilan, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Pemerintah
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Pemerintah
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Pemerintah
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Tekan Emisi AI, Jepang Fokus Benahi Konsumsi Energi Pusat Data
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
Indonesia Dinilai Terlambat Beralih ke Energi Terbarukan
LSM/Figur
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Waspada, Hujan Masih Mengintai Indonesia di Masa Peralihan Musim
Pemerintah
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
Swasta
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
Rumitnya Pemulung Urus Administrasi demi Akses Layanan Dasar
LSM/Figur
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Percepatan Penggunaan Avtur Berkelanjutan di Eropa Berisiko Bebani Industri
Pemerintah
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Pemerintah
WBA: Lembaga Keuangan Belum Maksimal Dukung Transisi Hijau
WBA: Lembaga Keuangan Belum Maksimal Dukung Transisi Hijau
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau