KOMPAS.com - Kecerdasan buatan (AI) sudah mulai mengubah cara orang belajar, bekerja, berbelanja, dan bahkan saat melamar pekerjaan.
Para remaja menyadari hal itu. Banyak dari mereka menggunakan alat-alat AI setiap hari, baik untuk membantu mengerjakan PR, membantu menulis, atau berlatih membuat kode komputer.
Namun, sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa tidak semua pelajar memiliki tingkat kepercayaan diri yang sama untuk menggunakan AI.
Melansir Earth, Jumat (8/5/2026) peneliti di Qatar menemukan bahwa anak laki-laki cenderung memiliki nilai yang lebih baik daripada anak perempuan dalam mata pelajaran terkait AI, sebagian besar karena mereka merasa lebih percaya diri saat menggunakan teknologi tersebut.
Penelitian ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana sekolah mengajarkan AI dan apakah suasana di kelas sudah cukup mendukung agar anak perempuan merasa nyaman mencoba-coba teknologi baru.
Baca juga: Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Kekhawatiran tersebut semakin sulit diabaikan karena AI kini menyebar ke hampir semua jenis industri. Sekolah-sekolah pun berada di bawah tekanan untuk mempersiapkan para siswa menghadapi pekerjaan-pekerjaan baru yang mungkin saat ini bahkan belum ada.
Jika siswa kehilangan kepercayaan diri sejak dini, kesenjangan tersebut dapat semakin melebar di kemudian hari.
Studi ini dipimpin oleh Dr. Zubair Ahmad dari Pusat Ilmuwan Muda Universitas Qatar. Timnya meneliti bagaimana kepercayaan diri siswa terhadap AI, dukungan yang mereka terima dari sekolah, dan hasil belajar aktual mereka saling terkait.
Para peneliti menyurvei 743 siswa sekolah menengah atas berusia 15 hingga 18 tahun yang belajar komputasi dan TI di Qatar. Para siswa berasal dari berbagai latar belakang Qatar, Asia, dan Afrika.
Survei tersebut mengajukan 35 pertanyaan yang berfokus pada kepercayaan diri terhadap AI, dukungan sekolah, dan hasil belajar.
“Kami menemukan bahwa siswa yang percaya pada kemampuan mereka untuk belajar dan menggunakan AI cenderung lebih mahir dalam mata pelajaran tersebut. Hubungan antara rasa percaya diri dan hasil belajar ini jauh lebih kuat pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan,” kata Dr. Ahmad.
Siswa yang mendapatkan dukungan kuat dari guru dan sekolah juga cenderung mendapatkan hasil belajar AI yang lebih baik.
Dukungan tersebut meliputi kegiatan praktik langsung, bimbingan dari guru, dan akses ke bahan pelajaran. Namun sekali lagi, dampak positif ini terlihat jauh lebih kuat pada anak laki-laki.
Para peneliti percaya bahwa rasa percaya diri dapat memengaruhi cara siswa bereaksi saat pelajaran menjadi sulit.
Siswa yang merasa mampu sering kali lebih bersedia untuk terus mencoba. Siswa lainnya mungkin menghindari tugas yang sulit atau berhenti berpartisipasi saat mereka menghadapi masalah.
Penelitian tersebut menunjukkan beberapa kemungkinan alasan di balik perbedaan gender ini.
“Teknologi dan AI sering kali dianggap sebagai bidang yang didominasi oleh laki-laki, yang dapat memengaruhi keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka dan keterlibatan mereka dalam mata pelajaran tersebut,” kata Dr. Ahmad.
“Dan sebagai hasilnya, siswa perempuan mungkin memiliki rasa percaya diri yang lebih rendah terhadap kemampuan mereka atau lebih kecil kemungkinannya untuk mencoba-coba alat AI,” terangnya.
Baca juga: Ada 273 Juta Anak Tidak Sekolah pada 2024 Menurut UNESCO
Rasa ragu tersebut sangat berpengaruh karena belajar AI sering kali bergantung pada metode coba-coba.
Siswa menjadi lebih mahir dengan cara menguji berbagai perintah, memperbaiki kesalahan, dan menjelajahi sendiri alat-alat yang ada. Seseorang yang merasa gugup karena takut melakukan kesalahan mungkin akan menjadi jarang berpartisipasi.
Gaya mengajar di kelas juga mungkin berpengaruh.
“Gaya mengajar juga penting. Kami tahu, misalnya, ada siswa yang lebih suka pelajaran yang sangat teratur, sementara yang lain justru lebih berkembang jika diberikan bimbingan yang santai dan kebebasan untuk bereksplorasi,” kata Dr. Ahmad.
Masalah ini terjadi di banyak negara, tidak hanya di satu tempat saja. Penelitian di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia berulang kali menunjukkan bahwa anak perempuan sering kali merasa kurang percaya diri dalam pelajaran ilmu komputer dan teknik, padahal nilai mereka sama bagusnya dengan anak laki-laki.
Para ahli juga mengatakan bahwa harapan sosial, stereotipe, dan kurangnya contoh tokoh perempuan di bidang tersebut menjadi penyebab masalah ini.
Mendukung kepercayaan diri perempuan
Para peneliti berpendapat bahwa pendidikan AI harus dimulai jauh lebih awal daripada sekolah menengah (SMA). Mereka menyarankan untuk mengenalkan konsep-konsep dasar AI sejak sekolah dasar (SD) dan terus membangun keterampilan tersebut secara bertahap seiring berjalannya waktu.
Kendati demikian peneliti menekankan pentingnya mengajarkan siswa cara menggunakan AI secara bertanggung jawab. Hal itu termasuk membantu mereka memahami perbedaan antara mendapatkan bantuan dan menyontek.
Karena alat AI menjadi semakin umum di ruang kelas, sekolah-sekolah di seluruh dunia sedang berjuang untuk menemukan keseimbangan tersebut.
Baca juga: Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
“Sekolah juga harus berbuat lebih banyak untuk mendukung anak perempuan secara khusus,” kata Dr. Ahmad.
Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan lebih banyak sosok perempuan yang sukses di bidang AI sebagai contoh, menciptakan suasana kelas yang membuat semua siswa merasa nyaman, sehingga anak perempuan merasa mereka didukung secara setara. Itu akan meningkatkan keyakinan mereka terhadap kemampuan diri untuk menggunakan AI.
Salah satu cara untuk melakukannya adalah melalui apa yang disebut sebagai praktik terbimbing.
“Salah satu contohnya adalah guru memperagakan cara menggunakan alat AI, kemudian membiarkan siswa berlatih sambil memberikan bimbingan saat diperlukan,” kata Dr. Ahmad.
“Guru tersebut kemudian secara bertahap mengurangi tingkat bantuan seiring dengan bertambahnya kemahiran siswa. Pendekatan seperti ini akan memastikan bahwa siswa, terutama anak perempuan, merasa didukung selama proses belajar,” tambahnya.
Hal ini membangun keterampilan, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya