Ini adalah kelemahan yang mencolok bagi sektor yang sangat bergantung pada kepercayaan merek dan komunikasi yang cepat serta terlihat jelas oleh publik. Sementara itu, perusahaan makanan, pertanian, dan minuman berada di posisi tengah-tengah, di mana banyak yang mengaku agak siap tetapi relatif sedikit yang menyatakan sangat percaya diri.
Bagi para pemimpin corporate affairs, temuan ini menegaskan bahwa hoaks berbasis AI telah menjadi risiko utama bagi reputasi perusahaan yang berkembang lebih cepat daripada kesiapan organisasi itu sendiri.
Perbedaan antara "agak siap" dan "benar-benar siap" sangatlah penting, karena insiden akibat deepfake memaksa perusahaan mengambil keputusan dalam waktu yang sangat singkat dan memperbesar dampak buruk sebelum fakta yang sebenarnya terungkap.
Untuk menutup celah ini, perusahaan harus mengubah rasa percaya diri menjadi kemampuan nyata. Caranya adalah dengan membuat jalur pelaporan yang jelas, menentukan siapa yang berhak mengambil keputusan, serta menguji coba panduan penanganan krisis yang tidak hanya melibatkan tim komunikasi, tetapi juga tim hukum, keamanan siber, dan jajaran pimpinan tertinggi.
Secara keseluruhan, hal ini mengubah pengelolaan hoaks berbasis AI menjadi kemampuan dasar yang wajib dimiliki oleh tim hubungan korporat.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya