KOMPAS.com - Perubahan iklim selama ini banyak dipahami sebagai ancaman bagi lingkungan dan ekonomi.
Namun, penelitian baru dari Universitas Sydney menunjukkan bahwa perubahan iklim juga merupakan krisis sosial yang terus berkembang, karena melemahkan hubungan antarmanusia yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk bertahan hidup.
Melansir Phys, Kamis (15/5/2026) penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behaviour tersebut menemukan bahwa perubahan iklim merusak hubungan sosial justru di saat ikatan tersebut paling dibutuhkan.
Hal ini menciptakan lingkaran setan, di mana rusaknya hubungan sosial membuat orang-orang semakin sulit untuk beradaptasi dan bangkit dari bencana.
"Perubahan iklim bukan sekadar sesuatu yang terjadi di luar sana. Melainkan juga mengubah cara kita hidup, cara kita berhubungan, dan pada akhirnya, menentukan siapa saja yang bisa mendapatkan bantuan saat situasi menjadi buruk," kata penulis utama Dr. Marlee Bower dari Matilda Center untuk Penelitian Kesehatan Mental dan Penggunaan Zat.
Baca juga: Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia
Penelitian ini mengumpulkan berbagai bukti dari seluruh dunia yang menunjukkan bahwa tekanan iklim mengurangi kesempatan kita untuk mengobrol dan berkumpul sehari-hari.
Gelombang panas dan polusi udara memaksa orang-orang tetap tinggal di dalam rumah dan menjauh dari tempat umum seperti taman atau lapangan. Selain itu, terganggunya kegiatan sekolah dan kerja membuat hubungan pertemanan jadi lebih sulit dijaga.
Bukti dari China dan Tuvalu menunjukkan bahwa tekanan-tekanan ini bisa menurunkan aktivitas sosial, meningkatkan stres atau depresi, dan dalam beberapa kasus, membuat orang benar-benar menarik diri dari kehidupan bermasyarakat.
Ketika bencana seperti banjir, angin topan, dan kebakaran hutan melanda, dampaknya terasa sangat cepat. Banyak orang harus mengungsi, rumah serta tempat-tempat umum rusak, dan kegiatan sehari-hari pun menjadi berantakan.
Sementara studi kasus di Republik Dominika dan Jepang menunjukkan bahwa meskipun pindah tempat tinggal membuat fisik mereka lebih aman, hal itu justru bisa membuat banyak orang merasa lebih terasing secara sosial dan mengalami penurunan kesehatan.
Di pedesaan Australia, kekeringan yang berkepanjangan terbukti membuat warga semakin jarang ikut serta dalam kegiatan masyarakat dan merasa makin kesepian.
Selain itu, masalah keuangan, kekurangan makanan, dan maraknya berita bohong membuat orang-orang semakin sulit untuk saling terhubung dan percaya satu sama lain.
Penelitian ini menemukan bahwa dampak-dampak tersebut tidak dirasakan secara merata. Orang-orang yang sudah menghadapi kesulitan seperti mereka yang berpenghasilan rendah, tinggal di rumah yang tidak layak, penyandang disabilitas, atau dari kelompok masyarakat yang terpinggirkan lebih rentan terhadap risiko iklim dan lebih sulit untuk tetap saling terhubung dengan orang lain.
Baca juga: Mengapa Aksi Perubahan Iklim Bergerak Lambat?
"Banyak orang menghadapi beban ganda. Mereka lebih rentan terhadap dampak iklim karena lokasi dan kondisi tempat tinggal mereka, sekaligus memiliki lebih sedikit bantuan sosial dan keuangan yang bisa diandalkan," kata Dr. Bower.
Seiring bertambahnya tekanan-tekanan ini, para peneliti menggambarkan adanya "kesenjangan kesehatan sosial" yang semakin melebar antara orang-orang yang tetap terhubung dengan baik dan mereka yang menjadi semakin terasing.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya