Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang

Kompas.com, 18 Mei 2026, 16:07 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penelitian menemukan bahwa angka obesitas di kalangan anak sekolah dan remaja meningkat di hampir setiap negara antara tahun 1980 dan 2024. Namun, kecepatan peningkatannya sekarang sangat berbeda di setiap wilayah.

Menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 13 Mei 2026, obesitas pada anak-anak dan remaja tidak lagi meningkat dengan kecepatan yang sama di seluruh dunia.

Melansir Down to Earth, Minggu (17/5/2026) angka obesitas di antara anak muda telah melambat, stabil, atau bahkan sedikit menurun di banyak negara berpenghasilan tinggi.

Di sisi lain angka obesitas justru terus melonjak bahkan dalam beberapa kasus sangat cepat di sebagian besar wilayah Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Kepulauan Pasifik.

Penelitian ini menganalisis tren obesitas dari tahun 1980 hingga 2024 menggunakan data dari 4.050 studi masyarakat. Penelitian ini melibatkan 232 juta peserta berusia lima tahun ke atas di 200 negara dan wilayah.

Baca juga: Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan

Pola obesitas dunia

Para peneliti memeriksa pola obesitas menggunakan ukuran yang disebut velocity. Ukuran ini menunjukkan perubahan tahunan angka obesitas dalam satuan persen setiap tahunnya.

Studi tersebut menemukan bahwa obesitas saat ini jauh lebih sering terjadi di seluruh dunia dibandingkan pada akhir abad ke-20. Sejak tahun 1990-an, peningkatan obesitas yang sangat cepat ini sudah sering disebut sebagai sebuah epidemi.

Namun, laporan-laporan terdahulu sebagian besar hanya membandingkan jumlah kasus obesitas dari dekade ke dekade. Laporan tersebut tidak menilai secara teliti bagaimana tren obesitas berkembang dalam jangka waktu yang lebih pendek di setiap negara.

Untuk memahami pola-pola ini dengan lebih baik, para ilmuwan menghitung tingkat pertumbuhan obesitas tahunan secara terpisah antara kelompok anak-anak, remaja, dan orang dewasa.

Obesitas pada orang dewasa sendiri diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT atau BMI) sebesar 30 kilogram per meter persegi atau lebih. Sementara itu, untuk anak-anak dan remaja, ukurannya ditentukan berdasarkan standar pertumbuhan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Negara berpenghasilan tinggi mengalami perlambatan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus obesitas di antara anak sekolah dan remaja meningkat di hampir setiap negara yang diteliti antara tahun 1980 dan 2024.

Kenaikannya berkisar antara 0,6 hingga 27 persen pada anak perempuan, dan antara 0,4 hingga 35 persen pada anak laki-laki. Meskipun begitu, kecepatan peningkatan ini sangat berbeda-beda di setiap wilayah.

Baca juga: Biaya Perawatan Pasien Obesitas dengan Komorbid Membengkak Tiap Tahun

Di sebagian besar negara kaya di Eropa Barat, Amerika Utara, dan Australasia, serta Jepang dan Taiwan, peningkatan angka obesitas pada anak-anak sebagian besar terjadi sebelum tahun 2000.

Sejak saat itu, tingkat kenaikannya telah melambat secara drastis, cenderung stabil, atau bahkan dalam beberapa kasus sedikit menurun.

Negara-negara seperti Denmark, Prancis, Swiss, dan Belanda mencatat kenaikan tahunan yang sangat rendah atau hampir nol selama sepuluh tahun terakhir.

Di beberapa negara, termasuk Prancis, Italia, dan Portugal, pertumbuhan angka obesitas bahkan mungkin sudah sedikit menurun.

Pertumbuhan paling cepat di negara berkembang

Sebaliknya, angka obesitas di antara anak-anak dan remaja justru terus meningkat tanpa henti atau semakin cepat di banyak negara yang berpenghasilan rendah dan menengah.

Para peneliti menemukan bahwa pada tahun 2024, tingkat pertumbuhan obesitas mencapai level tertingginya sejak tahun 1980 di 110 dari 200 negara untuk anak perempuan, dan di 91 negara untuk anak laki-laki.

Sebagian besar negara tersebut berada di wilayah yang sedang berkembang. Peningkatan yang cepat ini bahkan tercatat di negara-negara yang jumlah kasus obesitasnya sebenarnya masih tergolong rendah, termasuk Tanzania, Rwanda, Etiopia, Nepal, dan Bangladesh.

Pada saat yang sama, angka obesitas sebenarnya sudah melonjak ke tingkat yang tinggi di beberapa negara kepulauan Karibia dan Pasifik, termasuk Niue dan Bahama.

Hal yang sama juga terjadi di beberapa negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta negara-negara Asia Tenggara seperti Brunei dan Malaysia. Selain itu juga sebagian wilayah Amerika Latin, termasuk Cile.

Baca juga: Kesembuhan Kanker Anak Dunia Naik, Tapi Ada Ketimpangan Antar Negara

Perbedaan kondisi yang sangat beragam ini menunjukkan bahwa tren sosial, ekonomi, dan teknologi yang memengaruhi cara makanan disediakan, harga makanan, serta apa yang dimakan masyarakat mungkin telah membantu mengerem pertumbuhan obesitas di negara-negara kaya.

Namun, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, hal ini masih membutuhkan campur tangan kebijakan pemerintah yang lebih tegas.

Studi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota yang sangat cepat, perubahan pola makan, meningkatnya konsumsi makanan yang sangat tinggi proses olahannya, serta kurangnya aktivitas fisik menjadi penyebab melonjaknya kasus obesitas di wilayah berkembang.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa obesitas berhubungan erat dengan risiko kesehatan yang serius, termasuk penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit hati , gangguan pernapasan, diabetes, dan beberapa jenis kanker.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang
Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang
Pemerintah
BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas
BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas
Pemerintah
Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson
Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson
LSM/Figur
PBB: Lebih dari 2 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Hunian Layak
PBB: Lebih dari 2 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Hunian Layak
Pemerintah
Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
LSM/Figur
Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen
Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen
Pemerintah
Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
Pemerintah
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Swasta
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Hutan Nabire Rusak akibat Tambang Ilegal, Kemenhut Buru Aktor Utama
Pemerintah
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Jutaan Orang Hadapi Ancaman Kemiskinan akibat Krisis Energi dan Perdagangan
Pemerintah
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Kreator Konten Mukbang Korsel Sumbang Rp 600 Juta untuk Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Perangi Mikroplastik, Taiwan Perketat Pengawasan Darat hingga Laut
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau