Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Batu Bara Hambat Produktivitas Panel Surya

Kompas.com, 19 Mei 2026, 20:31 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Sebuah penelitian yang dipimpin oleh University of Oxford dan University College London (UCL) mengungkapkan bahwa polusi dari pembangkit listrik tenaga batu bara menurunkan tingkat efisiensi panel surya.

Melansir Edie, Senin (18/5/2026) penelitian tersebut menemukan bahwa partikel kotor atau aerosol yang disemburkan ke udara oleh pembakaran batu bara telah mengurangi hasil listrik tenaga surya di dunia sebesar 5,8 persen pada tahun 2023. Angka ini setara dengan hilangnya energi sebesar 111 terawatt-hours (TWh).

Penelitian dari Oxford dan UCL yang diterbitkan pada 15 Mei di jurnal Nature Sustainability ini memetakan dan memeriksa lebih dari 140.000 pasang panel surya menggunakan data satelit.

Penelitian ini menggabungkan temuan tersebut dengan data kondisi udara tentang polusi, lalu menghitung berapa banyak sinar matahari yang hilang dan apa dampaknya terhadap pembuatan listrik.

Baca juga: Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung

Antara tahun 2017 dan 2023, pemasangan panel surya baru di seluruh dunia berhasil meningkatkan produksi listrik sekitar 247 TWh setiap tahunnya. Namun, akibat polusi udara, jumlah listrik yang hilang mencapai sekitar 74 TWh per tahun, yang artinya sekitar sepertiga dari total produksi listrik tenaga surya habis sia-sia.

"Kita melihat pertumbuhan energi terbarukan yang sangat cepat di seluruh dunia, tetapi efektivitas dari peralihan energi tersebut ternyata lebih rendah daripada yang sering dikira," jelas Dr. Rui Song, ketua penulis penelitian.

"Karena pembangkit listrik batu bara dan panel surya sama-sama bertambah banyak di saat yang bersamaan, asap polusi mengubah kondisi cahaya di langit, yang secara langsung merusak kinerja produksi listrik tenaga surya," terangnya lagi.

Polusi udara tidak hanya menghalangi sinar matahari polusi itu juga mengubah bentuk awan, yang bisa membuat listrik dari tenaga surya semakin berkurang lagi.

Itu artinya, dampak buruk yang nyata kemungkinan besar jauh lebih besar daripada yang sudah kami hitung. Jadi, kita bisa saja terlalu tinggi dalam memperkirakan seberapa besar tenaga surya dapat membantu mengurangi polusi jika kita tidak segera mengendalikan polusi dari pembangkit listrik batu bara.

China paling banyak kehilangan daya PLTS

Penelitian tersebut menemukan bahwa hilangnya energi paling besar terjadi di wilayah di mana lokasi panel surya dan pembangkit listrik batu bara dibangun berdekatan.

Itulah mengapa dampak buruk ini sangat terlihat jelas di China. Meskipun negara ini  produsen energi surya terbesar di dunia, China ternyata masih sangat bergantung pada batu bara.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), satu dari setiap empat ton batu bara yang digunakan di seluruh dunia dibakar hanya untuk menghasilkan listrik di China.

Baca juga: Bahaya Tersembunyi Tenaga Surya, Ladangnya Ganggu Habitat Satwa Liar

Di China, hilangnya produksi listrik akibat polusi udara mencapai sekitar 7,7 persen dari total keseluruhan. Dari seluruh kerugian panel surya akibat polusi di negara itu, sekitar 29 persen di antaranya berasal khusus dari pembangkit listrik tenaga batu bara.

Meskipun begitu, China menjadi wilayah yang menunjukkan perbaikan paling konsisten dalam masalah ini. Jumlah listrik tenaga surya yang hilang akibat polusi berkurang sekitar 0,96 TWh setiap tahunnya antara tahun 2013 dan 2023.

Hal ini kemungkinan besar terjadi karena adanya aturan batasan polusi yang lebih ketat dan penggunaan teknologi ramah lingkungan di pabrik-pabrik batu bara mereka.

"Temuan kami memberikan peringatan yang jelas bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) bahwa mengabaikan hilangnya energi surya akibat polusi bisa membuat pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat luas terlalu tinggi dalam memperkirakan hasil energi terbarukan," ungkap Dr. Chenchen Huang, salah satu penulis penelitian dari University of Bath.

"Agar tetap berada di jalur yang benar, kebijakan-kebijakan yang dibuat harus memperhitungkan hambatan tersembunyi ini dan memindahkan subsidi bahan bakar fosil agar tidak lagi diberikan kepada batu bara," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau