Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis

Kompas.com, 21 Mei 2026, 19:33 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Keberadaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kian mempermudah pekerjaan, terutama di bidang teknologi informasi (TI). Di balik efisiensi yang ditawarkan, penggunaan AI secara berlebihan dinilai mulai menggerus kemampuan berpikir kritis pekerja muda.

Survei terbaru GoTo dan Workplace Intelligence, lembaga riset yang fokus pada dunia kerja mengungkapkan setengah dari responden mengaku sangat bergantung dengan AI. Laporan 2026 Pulse of Work itu menyurvei 2.500 pekerja kantoran dan manajer TI terkait penerapan AI.

"Kami menemukan bahwa hampir seluruh pemimpin TI (98 persen) mengatakan perusahaan mereka menggunakan AI, dan 82 persen karyawan menggunakan alat tersebut dalam pekerjaan demi menghemat lebih dari dua jam per hari," tulis laporan Pulse of Work 2026 dikutip Kamis (21/5/2026).

Baca juga: Bukan Malas, Gen Z Mulai Tinggalkan Budaya Kerja yang Bikin Burnout

Sebanyak 62 persen pekerja generasi Z (Gen) Z menjadikan AI sebagai penopang pekerjaan, dengan 40 persen di antaranya tidak bisa bekerja tanpa AI.

Enam dari 10 pemimpin perusahaan menggunakan alat AI gratis (61 persen), dan yang dibeli dari penyedia eksternal (58 persen). Sementara, 27 persen mengatakan perusahaan mereka telah mengembangkan AI untuk penggunaan internal.

Lebih dari delapan dari sepuluh karyawan (82 persen) melaporkan menggunakan AI di tempat kerja, naik dari 78 persen dari tahun 2025. Frekuensi penggunaannya juga meningkat, dengan 90 persen pengguna AI mengatakan memakai alat tersebut setiap pekan, angkanya naik dari 85 persen dari tahun sebelumnya.

Beberapa perusahaan seperti Amazon bahkan mendorong tokenmaxxing, penggunaan token AI sebanyak mungkin oleh pekerja. Akan tetapi, adopsi AI yang luas bukan berarti penggunaan yang bertanggung jawab atau efektif.

Baca juga: Pemimpin Perusahaan Khawatir Kehilangan Pekerjaan akibat Kegagalan Adopsi AI

"Karyawan mengaku terlalu bergantung pada alat AI, menggunakan hasil berkualitas rendah, dan menyalahgunakan AI untuk tugas-tugas yang seharusnya membutuhkan penilaian manusia," jelas laporan Pulse of Work.

Dampak kesalahan penggunaan AI

Akibatnya, muncul pola penggunaan yang tidak bertanggung jawab dan berimbas pada bisnis. Kesalahan penggunaan AI dilaporkan memengaruhi pelanggan, mengganggu operasional perusahaan, hingga berdampak pada keuntungan bisnis.

Di sisi lain, beberapa responden mengaku khawatir disalahkan atas kesalahan dari AI sehingga ragu menggunakan alat tersebut. Kondisi ini akhirnya menciptakan ketidakpastian yang membatasi peningkatan produktivitas pemanfaatan AI.

Studi Microsoft pada 2025 sebelumnya menemukan ketergantungan berlebihan terhadap AI berkaitan dengan melemahnya kemampuan berpikir kritis.

Sementara itu, studi AI Writer menunjukkan sebagian pekerja Gen Z mulai menghambat penerapan AI di perusahaan karena takut teknologi tersebut mengambil alih pekerjaan mereka.

CEO GoTo, Rich Veldran mengatakan konflik serupa muncul dalam survei GoTo. Menurut dia, kecemasan itu berasal dari keyakinan bahwa pekerja akan dianggap tidak relevan jika AI bisa melakukan tugas yang selama ini mereka kerjakan.

“Ada juga ketakutan bahwa jika terlalu bergantung pada AI, apa yang Anda lakukan menjadi tidak terlalu bernilai, karena jika pekerjaan Anda hanya mengambil jawaban dari AI tanpa menambahkan nilai pribadi lainnya, siapa pun bisa melakukannya," beber Veldran dilansir dari Fortune.

Minimnya Optimalisasi AI 

Laporan tersebut turut menyoroti peluang besar yang masih belum dimanfaatkan perusahaan.

Karyawan memperkirakan mereka masih menghabiskan sekitar 2,6 jam per hari untuk pekerjaan yang sebenarnya dapat ditangani AI. Sebagian besar responden juga mengaku belum memahami cara memanfaatkan AI secara maksimal dalam pekerjaan mereka.

Baca juga: Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis

Di Amerika Serikat, pemanfaatan AI yang belum optimal diperkirakan membuat potensi efisiensi tahunan senilai lebih dari 2,9 triliun dollar AS belum tergarap.

Melalui laporan ini, GoTo dan Workplace Intelligence mendorong perusahaan memperkuat kebijakan penggunaan AI, meningkatkan pelatihan, serta mengembangkan keterampilan pekerja agar pemanfaatan AI dapat dilakukan secara bertanggung jawab dan efektif.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau