Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Emisi GRK dari Sawah Hampir Dua Kali Lipat sejak 1960-an

Kompas.com, 23 Mei 2026, 12:30 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber

KOMPAS.com - Emisi gas rumah kaca (GRK) dari lahan persawahan global tercatat hampir berlipat ganda sejak 1960-an. Temuan ini menempatkan budidaya padi sebagai salah satu sumber emisi terbesar di sektor pertanian di luar peternakan.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Food menunjukkan, rata-rata emisi dari persawahan mencapai 1,1 miliar ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) per tahun pada dekade 2010-an.

Peneliti dari Boston College, Hanqin Tian, bersama Jingting Zhang, Pep Canadell, dan Shufen Pan menjelaskan bahwa emisi tersebut sebagian besar berasal dari gas metana (CH4) yang dihasilkan di sawah tergenang air.

Baca juga: Sebagian Besar Emisi Pertanian Dunia Berasal dari Sawah dan Gambut

“Itu kira-kira setara dengan emisi tahunan dari 239 juta mobil,” tulis para peneliti, dikutip dari The Conversation.

Sawah yang selalu tergenang menciptakan kondisi ideal bagi mikroba untuk menghasilkan metana, salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap krisis iklim.

Di sisi lain, kebutuhan beras global diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dunia. Saat ini, beras menjadi makanan pokok bagi lebih dari separuh penduduk dunia.

Perluasan sawah dan intensifikasi pertanian

Peningkatan emisi dari sektor persawahan dipicu oleh meluasnya area budidaya padi dan semakin intensifnya praktik pertanian.

Di Afrika, misalnya, luas lahan persawahan hampir meningkat dua kali lipat sejak 1960-an. Sementara di berbagai negara Asia, penggunaan varietas padi berproduksi tinggi, penanaman lebih rapat, hingga pemanfaatan bahan organik seperti jerami dan pupuk kandang turut meningkatkan emisi.

Peneliti menemukan, praktik membenamkan jerami sisa panen ke dalam tanah menyumbang sekitar 18 persen peningkatan emisi GRK dari persawahan sejak 1960-an.

Jerami yang terurai di lingkungan minim oksigen akan dipecah mikroba dan menghasilkan lebih banyak metana.

Kenaikan suhu global juga memperparah kondisi tersebut karena aktivitas mikroba di dalam tanah menjadi semakin tinggi.

Baca juga: Saat Anak Muda Diajak Kembali ke Sawah lewat Pendekatan Inovatif

Selain metana, penggunaan pupuk nitrogen sintetis juga meningkatkan emisi dinitrogen oksida, gas rumah kaca lain yang memiliki dampak pemanasan global lebih kuat dibanding karbon dioksida.

Pertanian cerdas untuk tekan emisi

Meski demikian, peneliti menilai emisi dari sektor persawahan masih dapat ditekan tanpa mengorbankan produksi pangan.

Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah pengelolaan irigasi dengan metode pengeringan berkala, yakni tidak membiarkan sawah terus tergenang sepanjang musim tanam.

Metode ini terbukti mampu mengurangi produksi metana, meski tetap perlu diimbangi pengelolaan pupuk agar tidak meningkatkan emisi nitrogen oksida.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau