Editor
KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Mochammad Riyanto, mengembangkan teknologi lampu LED berbasis perilaku ikan untuk meningkatkan efisiensi penangkapan sekaligus mengurangi dampak ekologis di sektor perikanan tangkap.
Dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (23/5/2026), Riyanto menjelaskan bahwa inovasi tersebut menggunakan pendekatan etologi ikan, yakni mempelajari perilaku ikan terhadap cahaya, pola migrasi, dan kebiasaan makan untuk merancang alat tangkap yang lebih selektif.
“Pendekatan ini memungkinkan perencanaan alat tangkap yang lebih selektif untuk mengurangi tangkapan sampingan (bycatch),” ujar Riyanto dalam keterangan resmi, Senin (25/5/2026).
Baca juga: Nelayan di Pesisir Aceh hingga NTT Keluhkan Kesulitan BBM
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan lampu LED hijau yang dipadukan dengan baterai air laut sebagai sumber energi terbarukan.
Teknologi ini disebut telah menghasilkan dua paten dan dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penangkapan ikan.
Menurut Riyanto, lampu LED hijau bahkan dapat menggantikan umpan alami pada penangkapan ikan kakap merah dan kerapu.
Dalam penerapannya, lampu LED hijau pada jaring insang mampu mengurangi tangkapan penyu hingga 60 persen tanpa menurunkan hasil tangkapan utama.
Sementara itu, penggunaan lampu LED merah disebut dapat menekan tangkapan mimi laut hingga 63 persen dan mengurangi tangkapan hiu sampai 64 persen pada tahap awal pengujian.
Riyanto menilai pendekatan berbasis perilaku ikan menjadi penting di tengah tekanan terhadap sektor perikanan tangkap Indonesia. Ia menyebut sebagian stok ikan di perairan Indonesia telah berada pada kondisi pemanfaatan maksimal hingga over exploited.
Kondisi tersebut diperburuk oleh perubahan iklim, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ilegal.
Selain teknologi pencahayaan, pengembangan alat tangkap selektif juga dilakukan melalui bycatch reduction devices (BRD), seperti turtle excluder devices (TED) pada perikanan pukat udang di Laut Arafura.
Baca juga: Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
Menurut dia, penggunaan TED terbukti mampu meningkatkan hasil tangkapan udang sekaligus mengurangi tangkapan penyu.
Di sisi lain, Riyanto juga menyoroti ancaman alat tangkap hilang atau terbuang (abandoned, lost, and discarded fishing gear / ALDFG) yang menyumbang sekitar 10 persen sampah laut global.
Masalah tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan laut, tetapi juga memicu kerugian ekonomi bagi nelayan. Di Cilacap, kerugian akibat alat tangkap hilang disebut dapat mencapai Rp 381 juta per tahun.
Karena itu, ia mendorong penguatan regulasi, edukasi bagi nelayan, serta pengembangan alat tangkap ramah lingkungan, termasuk penggunaan material *biodegradable* dan penerapan ekonomi sirkular di sektor perikanan.
“Pengelolaan perikanan ke depan harus beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” kata Riyanto.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjaga keberlanjutan sumber daya laut sekaligus tetap memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya