Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun

Kompas.com, 29 Mei 2026, 17:21 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Negara-negara maju kembali berhasil melewati target lama pendanaan iklim sebesar 100 miliar Dolar AS (sekitar Rp1.787 triliun) pada tahun 2024.

Keberhasilan ini memperkuat rasa saling percaya antara negara-negara kaya dan negara-negara berkembang yang paling rentan terkena risiko perubahan iklim.

Melansir ESG News, Kamis (28/5/2026) data terbaru dari OECD menunjukkan bahwa negara-negara maju telah memberikan dan mengumpulkan dana iklim untuk negara berkembang sebesar 132,8 miliar Dolar AS (sekitar Rp2.374 triliun) pada tahun 2023 dan 136,7 miliar Dolar AS (sekitar Rp2.443 triliun) pada tahun 2024.

Angka-angka ini melanjutkan tren positif dari tahun 2022, di mana dana yang terkumpul mencapai 115,9 miliar Dolar AS (sekitar Rp2.071 triliun) saat target tersebut berhasil ditembus untuk pertama kalinya.

Dana iklim dari pemerintah masih mendominasi

Target ini awalnya disepakati dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim pada tahun 2009.

Baca juga: Eropa Alami Suhu Panas Ekstrem, Perubahan Iklim Disebut Jadi Pemicunya

Aturan tersebut mewajibkan negara-negara maju untuk mengumpulkan dana sebesar 100 miliar Dolar AS (sekitar Rp1.787 triliun) per tahun mulai tahun 2020. Uang ini digunakan untuk membantu negara-negara berkembang mengurangi emisi dan beradaptasi dengan dampak perubahan iklim. Batas waktu target ini kemudian diperpanjang hingga tahun 2025.

“Target 100 miliar Dolar AS berhasil dilampaui selama tiga tahun berturut-turut pada tahun 2024. Ini menunjukkan komitmen yang jelas dalam mendukung negara-negara berkembang untuk beradaptasi dan mengurangi dampak perubahan iklim,” kata Sekretaris Jenderal OECD, Mathias Cormann.

“Dana yang dikumpulkan dari sektor swasta maupun dana untuk adaptasi iklim sama-sama meningkat, dan kedua hal ini adalah kunci bagi negara berkembang untuk mencapai target iklim mereka,” katanya iklim

Dana iklim dari pemerintah masih mendominasi dengan menyumbang sekitar tiga perempat dari total bantuan pada tahun 2023 dan 2024. Dana ini mencakup bantuan langsung bilateral serta bantuan melalui lembaga internasional resmi (multilateral) yang disalurkan oleh negara-negara maju.

Dana iklim dari lembaga internasional terus naik secara stabil hingga mencapai 57,7 miliar Dolar AS (sekitar Rp1.031 triliun) pada tahun 2024. Sementara itu, bantuan langsung bilateral jalannya lebih tidak menentu.

Bantuan langsung ini sempat melonjak tajam pada tahun 2023 mencetak kenaikan tahunan terbesar sejak tahun 2013 namun kemudian merosot sebesar 6,3 miliar Dolar AS (sekitar Rp112,6 triliun) pada tahun 2024.

Proporsi penggunaan dana iklim

Pendanaan untuk pengurangan dampak buruk iklim tetap menjadi kategori yang paling besar. Porsinya memakan hampir dua pertiga dari total seluruh dana iklim yang diberikan dan dikumpulkan untuk negara-negara berkembang.

Hal ini membuat sebagian besar uang bantuan tetap terikat untuk program-program pengurangan emisi polusi, pengembangan energi bersih, dan prioritas mitigasi lainnya.

Baca juga: Asia Tenggara Kini Jadi Magnet Hijau, Banjir Dana Iklim

Dana untuk adaptasi perubahan iklim juga mengalami pertumbuhan, tetapi jalannya lebih lambat. Dana ini mencapai 33,6 miliar Dolar AS (sekitar Rp600,7 triliun) pada tahun 2023 dan 34,7 miilar Dolar AS (sekitar Rp620,4 triliun) pada tahun 2024.

Jatah dana adaptasi ini hanya memakan porsi seperempat dari total seluruh bantuan di kedua tahun tersebut, turun dibandingkan titik tertingginya yang sempat menyentuh sepertiga (33 persen) pada tahun 2020.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Pemerintah
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya 'Windfall Tax' Diterapkan
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya "Windfall Tax" Diterapkan
LSM/Figur
Pengamat: Lingkungan Kerja 'Toxic' karena Supervisor jadi 'Raja Kecil'
Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"
Swasta
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau