Imbasnya, supervisor bertindak layaknya "raja kecil" yang menganggap anak buah sebagai aset pribadi, bukan mitra kerja.
Di sisi lain, kekuasan berlebih supervisor disebabkan lemahnya pengawasan terhadap kinerjanya.
Baca juga: Gen Z Kerap Dicap Lembek di Tempat Kerja, Mitos atau Realita?
"Ketika sistem check and balance (seperti kanal pengaduan anonim atau audit HR) tidak ada, maka kekuasaan absolut di tangan atasan langsung adalah resep utama terjadinya penyelewengan, mulai dari pemotongan gaji hingga eksploitasi di luar job desk," ucapnya.
Perbaikan tata kelola dapat dilakukan dengan tiga cara. Pertama, formalisasi SOP. Setiap instruksi kerja harus tertulis dan memiliki dasar operasional yang jelas.
Kedua, sistem Whistleblowing. Perusahaan, sekecil apa pun, harus menyediakan saluran di mana pekerja bisa melaporkan ketidakadilan tanpa takut dipecat. Ketiga, training untuk atasan. Supervisor harus dilatih leadership, bukan sekadar diberikan target angka. Mereka perlu paham bahwa memimpin bukan berarti menindas.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya