Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"

Kompas.com, 29 Mei 2026, 17:29 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Risma (27), bukan nama sebenarnya, seorang admin inventory industri di Kabupaten Sidoarjo, mengaku stres mengejar target pengerjaan berbagai laporan bulanan.

Ia kesal dengan partner kerja yang tidak suportif dan atasannya langsung (supervisor) enggan memahami akar penyebab keterlambatan kinerja timnya.

‎Semestinya, setiap tim yang terdiri dari tiga orang, menyicil pengerjaan berbagai laporan, seperti report stock, cycle count, audit put away, dan audit letdown, secara berkala. Namun, hanya Risma yang setiap hari menyicil pekerjaannya agar pelaporannya berjalan lancar dan terkumpul di akhir bulan.

Baca juga: Kenapa Gen Z Makin Sulit Cari Kerja Setelah Lulus?

‎"Dituntut untuk cepat selesai dan diberikan pekerjaannya begitu banyak. Leader itu enggak mau tahu, enggak mau mengusut kenapa kok bisa terlambat mengumpulkan. Yang dipikirkan cuma 'pokoknya tanggal sekian harus selesai'," ujar Risma kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).

‎Ia senantiasa tertekan pekerjaan yang melibatkannya, dengan segala kemungkinan di luar kendalinya. Misalnya, ada selisih stok yang perlu dicari di mana sumber masalahnya, meski pengangkutan dan pengecekan lapangan barang bukan tugasnya.

‎Ini diperparah dengan ketidakpastian memperoleh uang lembur, yang mana terkadang bekerja lebih dari semestinya diperlakukan sebagai 'loyalitas'. Padahal, biasanya lembur per jam hanya dibayar Rp 15.000.

‎"Ingin resign, lelah banget. Uang lembur dapatnya berapa?, pokoknya sudah dikirim ya sudah itu,. Dia (atasan) enggak bisa menghitung lemburanku harusnya segini-segini, itu enggak bisa. Semaunya atasan itu. ACC atau enggaknya ya tergantung mood-nya," tutur Risma.

‎Risma berharap bisa berpindah ke tempat kerja lain yang aman, nyaman, dan memberikan gaji lebih tinggi. Ia sebenarnya sedang mengantongi satu undangan wawancara di perusahaan baru untuk posisi yang sama.

Ia ragu untuk mengambilnya karena khawatir justru mengalami nasib serupa rekan-rekan kerjanya. Banyak rekan kerjanya yang memilih resign terpaksa turun atau bahkan kehilangan setengah dari gaji sebelumnya demi kenyamanan, yang pada akhirnya menyesal.

‎Adapun yang menjadi pertimbangan lain Risma tak mau resign sebelum memperoleh pekerjaan lebih menjanjikan adalah keharusan untuk memberikan uang kepada orang tuanya, dan terkadang pula neneknya.

Baca juga: Gen Z Makin Aktif Trading, Fitur AI Real Time Jadi Andalan

Sementara itu ‎Riri (20), bukan nama sebenarnya, mengeluhkan pekerjaannya sebagai pelayan restoran membuatnya tidak bisa menikmati hidup. ‎

"Kerja terus, kelelahan, pulang malam hanya untuk tidur, bangun pagi untuk berangkat kerja lagi," tutur Riri.

‎Ia memprotes atasannya yang hanya memberikan cuti sehari pada bulan Mei 2026, dengan alasan bukan pendatang. Ia akhirnya memperoleh dua hari cuti untuk bulan Mei 2026. Dalam sebulan, jatah liburnya hanya empat hari, dan terkadang harus bekerja selama seminggu.

‎Gaji pokok yang diperoleh Riri sebesar Rp 3,4 juta, dengan berbagai tunjangan tambahan lainnya. Salah satunya, besaran tunjangan tambahan berdasarkan penilaian kinerja oleh atasannya langsung.

Selain menentukan besaran tunjangan, penilaian kinerja oleh atasan langsung juga mempengaruhi kenaikan karir, yang berpengaruh pada jumlah gajinya.

‎"Makanya, pekerja-pekerja di sana lebih sibuk mencari muka, menjilat. Atau, menjelek-jelekkan saingannya. Di sana sekarang banyak yang haus jabatan," ujar Riri.

‎Ia memilih bertahan lantaran atasan langsungnya saat ini lebih baik ketimbang sebelumnya, meski keduanya direkrut 'orang dalam'.

‎"Atasanku dulu, gampang percaya. Ada pekerja yang terkenal bekerjanya tidak becus dan suka membesarkan masalah. Lha, atasanku ini percaya omongannya karena orang bermasalah ini selalu pura-pura baik di depannya," ucapnya.

‎Di sisi lain, Riri juga harus merogoh kocek untuk berbagai kebutuhan tuntutan pekerjaan, seperti sepatu safety dan berbagai peralatan make up. Ia pernah ditegur hanya karena lupa merias alisnya.‎

‎Ia juga pernah sehari tidak digaji hanya lantaran lupa absen sidik jari. Menjelang hari raya Idul Fitri pada 2025 lalu, Riri resign dan memilih bekerja menjadi sales promotion girl (SPG) di salah satu mall selama sebulan.

Ia senang tidak tertipu janji manis akan diberi tunjangan hari raya (THR), karena toko roti itu pada akhirnya memang tidak mencairkannya.

Cerminan budaya organisasi

Pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Indonesia (UI), Padang Wicaksono mengatakan, berbagai permasalahan di atas bukan hanya teknis ketenagakerjaan, melainkan cerminan dari dari budaya organisasi dan kesenjangan struktural dunia usaha di Indonesia.

Menurut Padang, penilaian kinerja di usaha kecil menengah (UKM) atau skala industri masih bersifat subjektif karena ketiadaan instrumen standar, seperti Key Performance Indicators (KPI).

"Di banyak UKM, pemilik usaha tidak memiliki sistem pelaporan yang objektif. Karena tidak ada data, mereka menggunakan 'perasaan' atau kedekatan personal sebagai alat ukur," ujar Padang.

Selain itu, membangun sistem Human Resources Development (HRD) yang transparan membutuhkan biaya dan waktu. Banyak pengusaha UKM memandang membangun sistem HRD hanya sebagai beban tambahan, bukan investasi. Ini diperparah dengan budaya 'ojo dumeh' dan patronase.

Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial

"Kita masih terjebak pada budaya kerja yang bersifat patron-klien, di mana penilaian didasarkan pada kepatuhan buta kepada atasan, bukan pada output atau kualitas kerja yang dihasilkan.

Kekuasaan berlebih pada supervisor

Padang menilai, praktik penyalahgunaan wewenang (abuse of power) atasan langsung atau supervisor disebabkan pendelegasian kekuasaan tanpa akuntabilitas.

Pemilik usaha seringkali memberi wewenang besar kepada supervisor untuk urusan operasional tanpa memberikan panduan etika atau standar operasional prosedur (SOP) yang ketat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Sering Tak Disadari Penyelam, Kebiasaan Ini Bisa Rusak Terumbu Karang
Pemerintah
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
BRIN Temukan 1.583 Spesies Baru Selama Hampir Enam Dekade Terakhir
Pemerintah
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Boros Energi, Ahli Desak Konsumen Gunakan Pendingin Alternatif
Pemerintah
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat 'Illumination of Jakarta, Glow of Peace'
Meriahkan Waisak 2026, DKI Jakarta Wujudkan Kota Inklusif lewat "Illumination of Jakarta, Glow of Peace"
Pemerintah
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Amazon, Google, Meta, dan Microsoft Kompak Investasi Teknologi Ramah Lingkungan
Pemerintah
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak
Pemerintah
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pagi Ini, Jakarta Masuk 10 Kota Paling Berpolusi di Dunia
Swasta
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
Perkuat Biodiversitas, Nuanu Creative City Tanam 1.000 Pohon Lokal
LSM/Figur
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
Bukit Asam Catat Lonjakan Emisi Operasional Batu Bara dalam 5 Tahun Terakhir
BUMN
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja 'Toxic'
Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja "Toxic"
Swasta
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Studi Sebut Swasembada Saja Tak Cukup Cegah Krisis Pangan Global
Pemerintah
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030
Pemerintah
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya 'Windfall Tax' Diterapkan
Emiten Energi Fosil Raup Keuntungan Fantastis, Saatnya "Windfall Tax" Diterapkan
LSM/Figur
Pengamat: Lingkungan Kerja 'Toxic' karena Supervisor jadi 'Raja Kecil'
Pengamat: Lingkungan Kerja "Toxic" karena Supervisor jadi "Raja Kecil"
Swasta
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Dana Iklim Negara Maju Melampaui Target, Capai Lebih Rp1.787 Triliun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau