JAKARTA, KOMPAS.com - PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota Holding BUMN Industri Pertambangan MIND ID, mencatat lonjakan emisi gas rumah kaca (GRK) dari operasional tambang batu bara dalam lima tahun terakhir.
Total emisi PTBA naik dua kali lipat dari 544.650 ton karbon dioksida ekuivalen (tCO2e) pada 2021 menjadi 1,18 juta tCO2e di tahun 2025.
Mengutip Katadata ESG Insight (KESGI), emisi mencapai 828.910 tCO2e pada 2022, lalu meningkat menjadi 1,02 juta tCO2e pada 2023, kemudian 1,09 juta tCO2e pada 2024.
"Selama tahun pelaporan PTBA telah mengukur CO2 dari emisi gas rumah kaca cakupan atau scope 1 yang sumber utamanya adalah penggunaan energi dari sumber energi tidak terbarukan berbahan fosil," tulis PTBA dalam Laporan Keberlanjutan 2025, dikutip Kamis (28/5/2026).
Baca juga: China Pangkas Emisi Lebih Cepat dari Target
Berdasarkan laporan tersebut, emisi pembakaran bahan bakar alat berat penambangan mencapai 1,02 juta ton CO2e, sekitar 99 persen dari total emisi langsung perusahaan tahun 2025. Jumlahnya meningkat 9,2 persen dibandingkan 2024 yakni 942.698 tCO2e.
Di sisi lain, emisi dari pembakaran stasioner berupa genset dan boiler dilaporkan memiliki porsi yang lebih kecil yaitu 186 tCO2e pada periode yang sama.
PTBA juga melaporkan emisi dari kendaraan operasional sebesar 17.887 tCO2e pada 2025. Angkanya meningkat dibandingkan 16.956 tCO2e pada 2024, dan 14.977 tCO2e pada 2023.
Sementara, emisi dari perubahan penggunaan lahan dan kehutanan turun menjadi 846.172 tCO2e dibandingkan 2024 sebesar 1,09 juta tCO2e, serta 1,06 juta tCO2e pada 2023.
"Emisi kategori ini berasal dari aktivitas seperti pembukaan lahan, penebangan pohon, perubahan tutupan lahan, serta faktor lain yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan tambang dan reklamasi," beber PTBA dalam laporannya.
Baca juga: Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun
Dalam Laporan Keberlanjutan 2025 PTBA menargetkan penurunan 37.741 tCO2e. PTBA menurunkan emisi GRK sebesar 16 persen dibandingkan skenario Business as Usual (BAU) pada 2025. Total, 424.082 tCO2e berkurang selama 2025 dan telah melampaui target.
Di 2024, pengurangan emisi sebesar 325.329 tCO2e, dan pada 2023 yakni 323.296 tCO2e. Perseroan menyebut upaya penurunan emisi dilakukan melalui berbagai kebijakan serta program yang diterapkan dalam kegiatan operasional perusahaan.
"PTBA telah melaksanakan berbagai kebijakan, termasuk upaya menurunkan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dalam proses bisnis," jelas PTBA dalam laporan tersebut.
Pemangkasan emisi dilakukan melalui elektrifikasi alat tambang, reklamasi dan penanaman pohon di lahan bekas tambang, hingga efisiensi operasional batu bara.
PTBA turut mengoperasikan tujuh unit shovel listrik dan 40 unit dump truck hibrida guna mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Selain itu, sejumlah pompa yang sebelumnya menggunakan mesin diesel juga diganti menjadi bertenaga listrik.
Di sisi lain, kegiatan reklamasi dan penanaman pohon menjadi penyumbang terbesar dalam upaya penurunan emisi. Program ini berhasil menyerap emisi karbon hingga 232.773 tCO2e sepanjang 2025.
Selain itu, memperbaiki jalur angkut batu bara di area tambang Tanjung Enim, Sumatera Selatan yang menekan 104.638 tCO2e. Perusahaan memasang panel surya pada sejumlah fasilitas operasional, dan melakukan studi carbon capture, utilization, and storage (CCUS) guna menangkap karbon.
Dalam jangka menengah, perusahaan menargetkan mengurangi emisi dengan skema BAU sebesar 12,5-15,5 persen pada 2030 sebagai bagian dari komitmen menuju Net Zero Emission 2060.
Baca juga: Total Denda Emisi Karbon Selama 2025 Capai Rp1.897 Triliun
Laporan itu turut mengungkap peningkatan frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem seperti hujan lebat, badai, dan banjir dapat menghambat operasional tambang, merusak infrastruktur, serta mengganggu distribusi hasil produksi.
Kenaikan suhu global dinilai dapat memengaruhi produktivitas pekerja sekaligus meningkatkan risiko kesehatan dan keselamatan kerja di lingkungan pertambangan.
Karenanya, PTBA memaksimalkan penambangan batu bara pada musim kemarau untuk mengurangi gangguan operasional akibat tingginya curah hujan.
"Seiring dengan itu, PTBA telah menganggarkan biaya lingkungan pada tahun 2025 sebesar Rp 404 juta. Biaya tersebut telah direalisasikan sebesar Rp 223 juta, yang sebagian besar dimanfaatkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim melalui program-program penurunan emisi, seperti reklamasi dan revegetasi," kata PTBA.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya