Penulis
Para santri dibekali kecakapan praktis, mulai dari kebiasaan mencuci tangan enam langkah, menjaga kebersihan alat olah, hingga penerapan manajemen dapur satu arah (one-way kitchen flow) untuk memutus risiko kontaminasi silang pada makanan.
Menurut Elsa, edukasi gizi perlu berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai keamanan pangan. Pola makan yang baik tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana makanan dipilih, diolah, dan disajikan dengan aman.
“Melalui program ini kami ingin memperkenalkan prinsip gizi seimbang dalam praktik sehari hari. Selain memahami komposisi makanan yang seimbang, para santri juga diperkenalkan pada berbagai kebiasaan yang mendukung keamanan pangan dan kesehatan sehari-hari,” ujar Elsa Hilman-Jenie.
Implementasi di lapangan mewujud lewat langkah taktis pemanfaatan potensi lokal. Para peserta diajak mengolah langsung hasil bumi dari kebun pesantren, mulai dari singkong, labu siam, kangkung, hingga kacang panjang, untuk disajikan di atas meja makan mereka.
Melalui pendekatan from farm to table ini, para santri diajak menelusuri secara utuh siklus sebuah bahan pangan, mulai dari proses tanam di tanah hingga siap dikonsumsi.
Langkah ini sekaligus menjadi medium edukasi efektif mengampanyekan diversifikasi pangan, sebuah agenda nasional yang sering kali macet di tingkat wacana. Anak-anak muda ini disadarkan ketergantungan pada nasi sebagai satu-satunya sumber karbohidrat bisa digeser.
Sebagai buktinya, singkong hasil panen mandiri berhasil disulap menjadi beragam variasi menu pendamping yang setara secara nilai gizi.
Bagi Eriq Moeloek, muara akhir dari program ini melampaui sekadar transfer teori di atas kertas. Ini adalah ikhtiar merawat habituasi baru.
Dengan memposisikan santri sebagai aktor utama, mulai dari memetik bahan baku hingga memasaknya sendiri, inisiatif ini menanamkan kesadaran organik yang diharapkan mengakar menjadi gaya hidup harian mereka.
“Kami berharap anak-anak dapat membawa pengalaman yang mereka peroleh selama program ini ke kehidupan sehari-hari. Harapannya, kebiasaan-kebiasaan baik yang dibangun selama kegiatan dapat terus diterapkan, baik di lingkungan pesantren maupun di rumah,” tambahnya.
Program Sarapan Bergizi telah dilaksanakan secara berkelanjutan sejak akhir 2025 di Pesantren Alam Pangrango.
Baca juga: Berapa Lama Daging Kurban Boleh Disimpan? Ini Saran Ahli Gizi
Pengalaman dari pelaksanaan program ini akan menjadi dasar bagi IHDC Youth untuk mengembangkan model dan panduan yang dapat diterapkan di berbagai sekolah, pesantren, maupun institusi pendidikan lainnya.
Ke depan, IHDC Youth berharap semakin banyak anak muda, institusi pendidikan, komunitas, serta berbagai pemangku kepentingan yang dapat berkolaborasi dalam memperkuat edukasi gizi dan membangun budaya hidup sehat di masyarakat
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya