Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang

Kompas.com, 10 Juni 2026, 14:29 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perangkat elektronik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan sampah dapat mengeluarkan zat berbahaya yang terkandung di dalamnya, seperti merkuri, timbal, kadmium, berilium, dan arsenik.

Pendiri Electronic Recyclers International, John Shegerian menyatakan bahwa sampah elektronik, mulai dari earbud kecil hingga lemari es besar, mengandung material yang berbeda-beda di dalamnya.

Para pendaur ulang perlu mampu mengekstrak setiap komponen dan material secara efisien. Itu menjadi proses yang kompleks, dengan membutuhkan banyak energi dan mahal.

‎"Semua zat ini mengerikan jika masuk ke ekosistem lingkungan kita,” ujar pendiri Electronic Recyclers International, John Shegerian, dilansir dari The Independent, pada Rabu (10/6/2026).‎

‎Namun, kata dia, upaya tersebut sepadan, karena komponen seperti baja, aluminium, tembaga, emas, perak, plastik, dan bahkan kaca dapat dipulihkan maupun digunakan kembali.

‎Menurut profesor ilmu kesehatan lingkungan di Universitas Michigan, Rick Neitzel, mencegah limbah elektronik masuk ke tempat pembuangan sampah sangat penting karena perangkat tersebut mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan lingkungan.

Logam mulia dan daur ulang yang kompleks

‎Limbah elektronik juga dapat mengandung logam mulia dan unsur tanah jarang yang sulit didapatkan, sehingga daur ulang menjadi berharga bagi bisnis.

Mengekstrak logam mulia dari perangkat elektronik bekas dapat membantu mengurangi kegiatan tambang untuk sumber daya tersebut.

‎“Cara kita menciptakan, menggunakan, dan membuang perangkat-perangkat ini telah menghasilkan aliran limbah yang sama sekali tidak berkelanjutan. Dan tidak ada tanda-tanda bahwa hal itu akan mereda sama sekali. Bahkan, tren tersebut terus meningkat," tutur Neitzel.‎‎

‎Kendati memiliki tingkat pemulihan yang tinggi, tetapi daur ulang di Eropa saja belum sempurna, karena proses yang sangat kompleks.

Misalnya, di fasilitas ACS Recycling di Sabadell, Spanyol, berbagai komponen seperti Printed Circuit Board (PCB), dikirim ke pabrik peleburan khusus. Fasilitas-fasilitas ini, yang seringkali merupakan perusahaan pertambangan tradisional, menggunakan metode suhu tinggi dan kimia untuk mengekstrak logam dasar dan logam mulia.‎

‎Bagi kelompok industri ini, limbah elektronik hanya menyumbang sebagian kecil dari total volume mereka, diproses bersama bijih utama karena infrastrukturnya sudah ada.

‎Pemulihan material yang tertanam bergantung pada harga komoditas. Tembaga, emas, perak, dan paladium secara rutin diekstraksi, meski pemulihan unsur-unsur, seperti litium dan kobalt bervariasi.

‎Menurut CEO fasilitas ACS Recycling, Cristóbal González Durán, pengolah logam khusus hanya mengekstrak logam baterai ini ketika harga pasar membenarkan biayanya.

‎“Ketika harga kobalt tinggi, itu menguntungkan; ketika harga kobalt rendah, itu tidak menguntungkan,” ucapnya, dilansir dari EE Times.

‎Jika proses pemulihan menelan biaya lebih dari nilai pasar logam, bahan-bahan tersebut dikirim ke fasilitas lain atau dibuang, menggambarkan batasan ekonomi yang ketat dari penambangan perkotaan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Warga di Blitar Khawatirkan Pencemaran, Greenfield Buka Suara terkait Rencana Ekspansi
Warga di Blitar Khawatirkan Pencemaran, Greenfield Buka Suara terkait Rencana Ekspansi
Swasta
Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang
Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang
LSM/Figur
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
LSM/Figur
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
LSM/Figur
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Pemerintah
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
LSM/Figur
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
BUMN
Indonesia Masih Minim Mitigasi Ledakan Alga, Ancaman Kematian Massal Ikan Mengintai
Indonesia Masih Minim Mitigasi Ledakan Alga, Ancaman Kematian Massal Ikan Mengintai
Pemerintah
Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
Pemerintah
BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi
BRIN: Ikan Tuna akan Lebih Mudah Ditangkap saat El Nino Terjadi
Pemerintah
IATA: Avtur Berkelanjutan Hanya Penuhi 0,8 Persen Kebutuhan Pesawat 2026
IATA: Avtur Berkelanjutan Hanya Penuhi 0,8 Persen Kebutuhan Pesawat 2026
Pemerintah
Industri Denim Berkelanjutan Terhambat Karena Pemakaian Bahan Kimia
Industri Denim Berkelanjutan Terhambat Karena Pemakaian Bahan Kimia
Pemerintah
BMKG: 28 Persen Wilayah Indonesia Masuk Kemarau
BMKG: 28 Persen Wilayah Indonesia Masuk Kemarau
Pemerintah
Studi Ungkap WFH Bikin Pekerja Jadi Anti Sosial dan Depresi
Studi Ungkap WFH Bikin Pekerja Jadi Anti Sosial dan Depresi
LSM/Figur
Cegah Kebocoran Metana Jadi Kunci RI Amankan Investasi LNG
Cegah Kebocoran Metana Jadi Kunci RI Amankan Investasi LNG
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau