KOMPAS.com - Perangkat elektronik yang biasanya berakhir di tempat pembuangan sampah dapat mengeluarkan zat berbahaya yang terkandung di dalamnya, seperti merkuri, timbal, kadmium, berilium, dan arsenik.
Pendiri Electronic Recyclers International, John Shegerian menyatakan bahwa sampah elektronik, mulai dari earbud kecil hingga lemari es besar, mengandung material yang berbeda-beda di dalamnya.
Para pendaur ulang perlu mampu mengekstrak setiap komponen dan material secara efisien. Itu menjadi proses yang kompleks, dengan membutuhkan banyak energi dan mahal.
"Semua zat ini mengerikan jika masuk ke ekosistem lingkungan kita,” ujar pendiri Electronic Recyclers International, John Shegerian, dilansir dari The Independent, pada Rabu (10/6/2026).
Namun, kata dia, upaya tersebut sepadan, karena komponen seperti baja, aluminium, tembaga, emas, perak, plastik, dan bahkan kaca dapat dipulihkan maupun digunakan kembali.
Menurut profesor ilmu kesehatan lingkungan di Universitas Michigan, Rick Neitzel, mencegah limbah elektronik masuk ke tempat pembuangan sampah sangat penting karena perangkat tersebut mengandung bahan-bahan yang dapat membahayakan lingkungan.
Limbah elektronik juga dapat mengandung logam mulia dan unsur tanah jarang yang sulit didapatkan, sehingga daur ulang menjadi berharga bagi bisnis.
Mengekstrak logam mulia dari perangkat elektronik bekas dapat membantu mengurangi kegiatan tambang untuk sumber daya tersebut.
“Cara kita menciptakan, menggunakan, dan membuang perangkat-perangkat ini telah menghasilkan aliran limbah yang sama sekali tidak berkelanjutan. Dan tidak ada tanda-tanda bahwa hal itu akan mereda sama sekali. Bahkan, tren tersebut terus meningkat," tutur Neitzel.
Kendati memiliki tingkat pemulihan yang tinggi, tetapi daur ulang di Eropa saja belum sempurna, karena proses yang sangat kompleks.
Misalnya, di fasilitas ACS Recycling di Sabadell, Spanyol, berbagai komponen seperti Printed Circuit Board (PCB), dikirim ke pabrik peleburan khusus. Fasilitas-fasilitas ini, yang seringkali merupakan perusahaan pertambangan tradisional, menggunakan metode suhu tinggi dan kimia untuk mengekstrak logam dasar dan logam mulia.
Bagi kelompok industri ini, limbah elektronik hanya menyumbang sebagian kecil dari total volume mereka, diproses bersama bijih utama karena infrastrukturnya sudah ada.
Pemulihan material yang tertanam bergantung pada harga komoditas. Tembaga, emas, perak, dan paladium secara rutin diekstraksi, meski pemulihan unsur-unsur, seperti litium dan kobalt bervariasi.
Menurut CEO fasilitas ACS Recycling, Cristóbal González Durán, pengolah logam khusus hanya mengekstrak logam baterai ini ketika harga pasar membenarkan biayanya.
“Ketika harga kobalt tinggi, itu menguntungkan; ketika harga kobalt rendah, itu tidak menguntungkan,” ucapnya, dilansir dari EE Times.
Jika proses pemulihan menelan biaya lebih dari nilai pasar logam, bahan-bahan tersebut dikirim ke fasilitas lain atau dibuang, menggambarkan batasan ekonomi yang ketat dari penambangan perkotaan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya