Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terkendala Visa, Beberapa Negara Terancam Gagal Hadiri Forum Iklim PBB

Kompas.com, 10 Juni 2026, 21:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.co-Beberapa negara termiskin dan paling rentan terhadap perubahan iklim di dunia terancam gagal berpartisipasi dalam perundingan iklim PBB di Bonn Jerman karena terkendala masalah visa.

Melansir Independent, Jumat (5/6/2026) negara-negara termasuk Sudan, Yaman, Sierra Leone, Senegal dan Gambia melaporkan hambatan signifikan untuk mengakses Konferensi Perubahan Iklim Bonn 2026, yang berlangsung dari 8 Juni hingga 18 Juni.

Akibatnya mereka pun akan mengirimkan delegasi yang lebih kecil.

Hal tersebut terjadi meski banyak dari negara-negara ini termasuk yang paling rentan terhadap dampak pemanasan global serta kapasitas keuangan paling minim untuk adaptasi iklim.

“Delegasi Sudan menyampaikan keprihatinan dan kekecewaan yang mendalam atas hambatan visa yang dihadapi oleh perwakilan mereka menjelang Konferensi Perubahan Iklim Bonn,” kata Dalal Ebrahim, yang memimpin departemen adaptasi iklim untuk Sudan.

Baca juga: RI Butuh Kebijakan Iklim Berbasis Bukti

Konferensi Perubahan Iklim Bonn adalah konferensi tahunan selama dua minggu yang berpusat pada diskusi kebijakan iklim teknis, dan dianggap sebagai acara kunci dalam kalender aksi iklim global.

Konferensi ini diselenggarakan oleh PBB setiap tahun di kota kecil Bonn, Jerman, dan kemajuan dalam pembicaraan tersebut seringkali menentukan apakah konferensi iklim COP berikutnya akan sukses atau tidak.

Delegasi dari hampir 200 negara akan bertemu untuk membahas kemajuan Perjanjian Paris, yang merupakan perjanjian kunci yang mendorong aksi iklim secara global, dan mereka akan mulai menyusun teks yang akan dipresentasikan pada konferensi COP31, yang pada gilirannya akan mendorong kebijakan iklim global di tahun-tahun mendatang.

Pengaruhi kemampuan negosiasi

Pengurangan jumlah delegasi ini akan sangat memengaruhi kemampuan negara-negara tersebut untuk bernegosiasi.

“Dalam keadaan normal, delegasi yang lebih besar akan berpartisipasi, memungkinkan kami untuk mencakup berbagai jalur negosiasi, diskusi teknis, lokakarya, dan pertemuan koordinasi secara bersamaan,” ungkap Marwah Aref Ahmed Saleh, yang memimpin diskusi untuk Yaman tentang kerugian dan kerusakan iklim.

“Ketika negara-negara seperti Yaman hanya diwakili oleh segelintir delegasi, menjadi tidak mungkin untuk secara efektif mencakup semua jalur negosiasi,” katanya lagi.

Selama dua tahun berturut-turut, Marwah menerima alasan penolakan yang sama yakni pemerintah Jerman ragu dan takut kalau Marwah tidak mau pulang ke negaranya dan memilih menetap secara ilegal di Eropa setelah rapat iklim PBB selesai.

Ini hal yang ironis. Penolakan visanya terjadi padahal Yaman adalah negara yang sangat rapuh terhadap dampak perubahan iklim di mana peristiwa cuaca ekstrem semakin memperparah kesulitan kemanusiaan akibat konflik perang yang masih terus berlangsung di negara tersebut.

“Diplomasi iklim tidak akan kredibel jika negara-negara yang berada di pusat krisis iklim hanya dibicarakan, tetapi tidak didengarkan,” kata Dalal Ebrahim.

Baca juga: Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat

Menanggapi isu hambatan visa, juru bicara Kantor Luar Negeri Federal Jerman mengatakan bahwa Jerman bertanggung jawab terhadap para utusan resmi yang terdaftar.

Ia juga menambahkan bahwa Jerman mengakui bahwa kehadiran semua utusan, terutama mereka yang berasal dari negara-negara yang paling parah terkena dampak perubahan iklim, sangat penting demi keberhasilan jalannya negosiasi.

Sementara itu, juru bicara PBB untuk Perubahan Iklim (UN Climate Change) menyatakan bahwa perwakilan dari semua negara telah diberikan izin resmi untuk ikut serta seperti biasanya. Kendati demikian keputusan akhir mengenai pemberian visa sepenuhnya berada di tangan pihak berwenang negara tuan rumah.

"Pertemuan PBB adalah salah satu dari sedikit wadah di mana suara negara-negara paling tidak berkembang bisa didengar dalam urusan perubahan iklim. Mengusir atau menghalangi kedatangan para negosiator dari negara miskin ini secara fisik dari rapat di Bonn memberikan kesan seolah-olah kontribusi dan pengalaman hidup mereka tidak dianggap penting oleh dunia," tambah Binyam Gebreyes, pakar diplomasi iklim dari lembaga pemikir Inggris IIED.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau