KOMPAS.com - Ambruknya 12 tower transmisi memicu pemadaman bergilir di Medan dan wilayah sekitarnya, yang terjadi hanya berselang beberapa minggu usai insiden blackout Sumatera.
Pemadaman bergilir tersebut menjadi alarm keras bagi ketahanan energi nasional, yang mendesak pemerintah dan regulator ketenagalistrikan segera mengevaluasi total standar desain maupun pemeliharaan jaringan transmisi.
Insiden berulang ini mengekspos titik buta (blind spot) kebijakan yang selama ini luput dari perhatian, yaitu ketidakmampuan infrastruktur kritis bertahan menghadapi cuaca ekstrem dengan peningkatan frekuensi dan intensitas akibat krisis iklim.
Meski cuaca buruk dilaporkan menjadi pemicu awal gangguan, tetapi menjadikannya sebagai alasan tunggal sama sekali tidak cukup untuk menjelaskan kerusakan struktur transmisi dalam skala semasif ini.
Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, tower transmisi seyogiaya dirancang untuk menghadapi hujan lebat, petir, dan angin kencang yang lazim terjadi di Indonesia. Apalagi, ada sejumlah standar-standar internasional yang diterapkan dalam infrastruktur transmisi.
"Oleh karena itu, penyebab utama kejadian ini tidak boleh langsung disimpulkan sebagai cuaca buruk semata. Yang harus dijawab adalah mengapa infrastruktur yang relatif baru dapat mengalami kerusakan beruntun ketika menghadapi kondisi cuaca tersebut," ujar Fabby dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026).
Dalam insiden ambruknya 12 tower transmisi, kerusakan struktural terjadi secara masif pada dua jalur logistik listrik utama di Sumatra Utara (Sumut).
Pada jalur SUTET 275 kV Galang–Simangkuk, tiga tower dilaporkan roboh (T18, T19, T20) dan dua lainnya (T17, T21) mengalami deformasi. Sementara itu, pada jalur SUTT 150 kV Tebing Tinggi–Sei Rotan, enam tower roboh (T77 hingga T82) dan satu tower (T76) bengkok.
Kegagalan sistemis ini mengonfirmasi adanya celah besar dalam perencanaan infrastruktur nasional, terutama mengingat jalur SUTET 275 kV Galang–Simangkuk merupakan bagian dari proyek strategis Tol Listrik Sumatra yang relatif baru, karena beroperasi pada Juni 2019.
Fakta bahwa aset baru dapat mengalami kerusakan fatal akibat faktor cuaca menunjukkan bahwa ketahanan jaringan dan standar desain sistem kelistrikan perlu dievaluasi secara mendalam.
Investigasi tidak boleh berhenti pada pencarian penyebab langsung di lapangan, melainkan pula harus menelusuri mengapa sistem gagal merespons kondisi yang seharusnya sudah diperhitungkan sejak tahap desain awal.
Untuk itu, IESR mendesak Kementerian ESDM, khususnya Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) selaku regulator untuk segera turun tangan melakukan audit dan pemeriksaan teknis secara menyeluruh.
Selain itu, investigasi independen sangat krusial untuk mengidentifikasi akar penyebab struktural dari kegagalan beruntun ini. Itu termasuk menguji secara transparan apakah terdapat kesalahan rancangan (design flaw), penurunan kualitas material, atau kelemahan eksekusi dalam proyek transmisi strategis tersebut.
Ketika Spanyol mengalami pemadaman besar pada 2025, operator sistem, regulator, dan pemerintah menjalankan pemeriksaan menyeluruh untuk mengidentifikasi faktor pemicu.
Operator sistem, regulator, dan pemerintah Spanyol mengungkapkan faktor yang memperparah gangguan, serta kelemahan sistemik yang membiarkan insiden lokal berkembang menjadi krisis nasional.
Berkaca dari kasus di Spanyol, kata dia, investigasi perlu mencari tahu mengenai mengapa sistem gagal merespons gangguan tersebut dan bagaimana mencegah hal yang sama terjadi lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya