Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal

Kompas.com, 8 Juni 2026, 19:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Saat memikirkan tentang perdagangan satwa liar, kita mungkin akan membayangkan cula badak atau bayi orangutan yang dijual sebagai hewan peliharaan.

Namun, siapa sangka perdagangan satwa laut pun juga terjadi hanya saja jarang diketahui.

Banyak produk satwa laut yang sering diselundupkan, seperti sirip hiu, bisa disembunyikan di dalam koper atau paket dan dibawa melewati perbatasan negara dengan sangat mudah tanpa ketahuan.

Melansir Phys, Minggu (7/6/2026) untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan menggunakan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk menciptakan algoritma yang bisa mendeteksi sampel satwa laut yang paling sering diperdagangkan yaitu sirip hiu, kuda laut, dan teripang dengan tingkat akurasi mencapai 92 persen.

"Perdagangan satwa liar itu kejam dan tidak bermoral," kata Dr. Vanessa Pirotta dari Universitas Macquarie, penulis utama artikel yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Ocean Sustainability.

"Bagi banyak orang, ini mungkin pertama kalinya mereka mendengar tentang penyelundupan satwa laut ilegal. Perdagangan satwa liar tidak hanya mengincar hewan-hewan yang paling sering kita dengar, seperti cula badak atau gading gajah," katanya.

Baca juga: Kontaminasi Bahan Kimia dari Plastik Bikin Perilaku Hewan Laut Berubah

Bernilai miliaran dollar AS tiap tahun

Perdagangan ilegal satwa liar laut diperkirakan bernilai miliaran dolar setiap tahunnya, dan hal ini menjadi ancaman besar bagi hewan-hewan yang terancam punah.

Pengiriman hewan untuk bahan makanan, obat-obatan, hiasan, atau hewan peliharaan mengancam kelangsungan hidup kelompok satwa yang jumlahnya sudah sangat sedikit di alam. 

Selain itu, hewan yang diselundupkan dalam keadaan hidup bisa saja kabur dan menjadi spesies asing yang merusak ekosistem baru. Namun, menangkap basah aksi penyelundupan ini sangat sulit dilakukan. Akibatnya, petugas tidak hanya kesulitan menghentikan perdagangan tersebut, tetapi juga susah menghitung seberapa besar dampak kerusakannya terhadap lingkungan.

Dalam studi ini para ilmuwan memilih untuk meneliti sirip hiu, kuda laut, dan teripang. Sirip hiu sangat banyak dicari untuk bahan makanan mewah, sedangkan kuda laut kering diperdagangkan untuk obat tradisional.

Baca juga: Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu

Penyelundupan teripang memang jarang tercatat, meskipun kita tahu hewan ini sering ditangkap secara berlebihan dan ilegal; para peneliti yakin bahwa penyelundupan teripang sebenarnya jauh lebih sering terjadi daripada yang bisa kita buktikan saat ini.

Mendeteksi perdagangan satwa laut ilegal

Tim peneliti pun memanfaatkan kembali mesin pemindai X-ray CT yang sudah ada. Mesin ini biasanya digunakan di banyak bandara untuk mendeteksi bahan peledak atau ancaman keamanan hayati.

Pemindai ini mengambil banyak foto rontgen dari satu objek, lalu mengubahnya menjadi gambar tiga dimensi (3D) dari isi tas tersebut. Dengan menggunakan jaringan saraf komputer untuk melatih algoritma agar bisa mengenali jenis-jenis hewan yang sering diselundupkan pada gambar tersebut, para ilmuwan berharap bisa menciptakan sistem yang dapat otomatis memberi tanda peringatan pada tas yang mencurigakan untuk diperiksa.

Peneliti pun kemudian membuat total 298 hasil pemindaian dari 20 sampel teripang, 30 sampel kuda laut, dan 18 sampel sirip hiu, yang sebagian besar berasal dari barang bukti sitaan kasus penyelundupan.

Lima pemindaian berbeda dibuat untuk setiap sampel dengan posisi dan kondisi yang berbeda-beda, ditambah pemindaian yang menggabungkan beberapa jenis hewan sekaligus.

Para ilmuwan juga memindai sampel dengan kondisi yang meniru trik-trik para penyelundup seperti dibungkus kertas timah, dibalut pakaian, atau disembunyikan di dalam mainan anak-anak.

Mereka bahkan memasukkan gambar sampel tersebut ke dalam foto pemindaian tas normal yang kosong, sebuah teknik yang disebut Threat Image Projection. Hal ini membantu meniru kondisi nyata di lapangan, di mana barang selundupan biasanya ditemukan tersembunyi di dalam koper.

Para ilmuwan menggunakan foto-foto ini untuk melatih algoritma agar bisa mengenali sirip hiu, teripang, dan kuda laut. Setelah itu, mereka menguji kemampuan algoritma tersebut menggunakan kumpulan foto baru yang belum pernah diperlihatkan sebelumnya.

Baca juga: Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu

Tingkat akurasi yang tinggi

Secara keseluruhan, algoritma tersebut berhasil mendeteksi barang selundupan dengan tingkat keberhasilan 92 persen.

Jika dirinci, alat ini 95 persen sukses mendeteksi sirip hiu, 96 persen sukses mendeteksi kuda laut, dan 86 persen sukses mendeteksi teripang. Sementara itu, tingkat kesalahan deteksinya adalah 13 persen yaitu 2 persen untuk sirip hiu, 1 persen untuk teripang, dan 9 persen untuk kuda laut.

Tingkat akurasi yang tinggi ini menunjukkan bahwa alat deteksi otomatis tersebut bisa menjadi senjata ampuh untuk menangkap kiriman ilegal yang selama ini lolos dari pemeriksaan, sehingga bisa membantu memutus jalur perdagangan gelap dan menghukum para penyelundup satwa laut.

Namun, program deteksi otomatis yang sukses ini barulah sebagian dari solusi.

Masih banyak jenis hewan lain yang juga diselundupkan, dan alarm yang salah bunyi tetap harus diperiksa secara manual oleh petugas. Selain itu, tidak semua bandara memiliki mesin pemindai 3D CT karena harganya yang sangat mahal. Banyak bandara yang masih bergantung pada mesin pemindai dua dimensi (2D) biasa. Oleh karena itu, deteksi otomatis ini sifatnya hanya melengkapi metode pemeriksaan yang sudah ada, bukan menggantikannya.

"Kita hanya bisa meniru skenario penyelundupan di dunia nyata berdasarkan kasus-kasus yang sudah pernah ketahuan sebelumnya," kata Pirotta.

"AI bukanlah obat ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah deteksi, dan AI juga bukan pengganti peran manusia atau anjing pelacak," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengembangan SAF dari Limbah Pertanian Terkendala Teknologi dan Keekonomian
Pengembangan SAF dari Limbah Pertanian Terkendala Teknologi dan Keekonomian
LSM/Figur
Terkendala Visa, Beberapa Negara Terancam Gagal Hadiri Forum Iklim PBB
Terkendala Visa, Beberapa Negara Terancam Gagal Hadiri Forum Iklim PBB
Pemerintah
HUT Ke-47, Bintaro Jaya Perkuat Komitmen Bangun Kota Berkelanjutan lewat Ruang Publik Berbasis Konservasi
HUT Ke-47, Bintaro Jaya Perkuat Komitmen Bangun Kota Berkelanjutan lewat Ruang Publik Berbasis Konservasi
Swasta
Gajah Lahir di Taman Satwa Lampung, Dinamai Rut untuk Hormati Dubes Norwegia
Gajah Lahir di Taman Satwa Lampung, Dinamai Rut untuk Hormati Dubes Norwegia
Pemerintah
Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
Pemerintah
Ketika Aksi Pilah Sampah Diajarkan Sejak Dini Lewat Karakter Animasi
Ketika Aksi Pilah Sampah Diajarkan Sejak Dini Lewat Karakter Animasi
LSM/Figur
Induk Gajah Ria Lahirkan Bayi Betina di Taman Nasional Tesso Nilo
Induk Gajah Ria Lahirkan Bayi Betina di Taman Nasional Tesso Nilo
Pemerintah
El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
El Nino Godzilla, Ketahanan Pangan Nasional, dan Nasib Petani
Pemerintah
Warga di Blitar Khawatirkan Pencemaran, Greenfield Buka Suara terkait Rencana Ekspansi
Warga di Blitar Khawatirkan Pencemaran, Greenfield Buka Suara terkait Rencana Ekspansi
Swasta
Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang
Sampah Elektronik Bisa Hasilkan Logam Mulia dan Kurangi Aktivitas Tambang
LSM/Figur
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
Pakar IPB: Pirolisis Plastik Bisa Jadi Bahan Bakar Alternatif, tapi Perlu Pengawasan Ketat
LSM/Figur
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
Pemanfaatan EBT di Laut Indonesia Bisa Ganggu Migrasi Paus-Burung
LSM/Figur
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Harga Pertamax Naik, Pekerja Kelas Menengah yang Paling Terdampak
Pemerintah
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
Refleksi Hari Laut Sedunia, Ironi Negara Kepulauan Justru Aktif Mengeruk Pasir Laut dan Reklamasi
LSM/Figur
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
Tiga Proyek Panas Bumi PGE Raih Pendanaan 478 Juta Dollar AS
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau