KOMPAS.com - Pemerintah, organisasi internasional, dan kelompok masyarakat di berbagai wilayah Asia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (5/6/2026) lalu dengan mendesak adanya tindakan yang lebih nyata untuk mengatasi krisis iklim.
Mereka sangat mengkhawatirkan suhu bumi yang makin panas, cuaca ekstrem yang makin sering terjadi, serta kerusakan lingkungan yang makin parah.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini pertama kali dibuat oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1972 setelah diadakannya Konferensi Stockholm tentang Lingkungan Hidup Manusia.
Sejak pertama kali dirayakan pada tahun 1973, momen ini telah menjadi wadah terbesar PBB untuk mengajak masyarakat dunia peduli terhadap lingkungan.
Melansir Eco Business, Jumat (5/6/2026) di Korea Selatan, Presiden Lee Jae-myung mengajak warganya untuk ikut serta melakukan aksi nyata penyelamatan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.
Ajakan ini disampaikan saat negara tersebut meluncurkan sebuah gerakan nasional yang menyatukan kelompok agama, dunia usaha, masyarakat, dan perwakilan pemerintah untuk mengatasi krisis iklim.
Baca juga: Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
"Upacara peluncuran Korea Climate Action ini adalah momen yang sangat berarti di mana kelompok agama, perusahaan, masyarakat, dan pemerintah berkumpul bersama untuk berjanji mengambil tindakan dalam menghadapi krisis iklim," tulis Lee di akun resmi X miliknya.
Lee mengatakan bahwa cara menghadapi perubahan iklim harus dimulai dari tindakan nyata di kehidupan sehari-hari, bukan sekadar slogan atau kata-kata manis.
Ia mengajak masyarakat untuk mengurangi pemakaian barang sekali pakai, menghemat listrik, naik transportasi umum, dan selalu membawa tas belanja sendiri yang bisa dipakai berulang kali.
"Pemerintah juga akan bekerja keras untuk memberikan perubahan nyata yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari mereka," tambah Lee.
Pemerintah Korea Selatan mengatakan bahwa acara ini bertujuan untuk mengajak lebih banyak orang ikut serta dalam aksi penyelamatan lingkungan.
Selain itu, gerakan ini diharapkan bisa membantu mengubah masyarakat menjadi lebih ramah lingkungan melalui kerja sama antara dunia usaha, warga, dan lembaga pemerintah.
Sementara itu di Vietnam, Presiden To Lam memanfaatkan momen menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Laut Sedunia pada tanggal 8 Juni untuk mengingatkan tentang makin beratnya tekanan terhadap alam. Ia juga menegaskan bahwa menjaga lingkungan sangat berkaitan erat dengan keamanan dan kemajuan suatu negara.
Ia mengatakan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi tantangan kerusakan alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tantangan itu mulai dari pemanasan global, cuaca ekstrem, mencairnya es di kutub, naiknya permukaan air laut, kekeringan, banjir, kebakaran hutan, punahnya berbagai jenis makhluk hidup, hingga pencemaran laut.
Baca juga: Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
"Lingkungan yang aman serta lautan yang damai dan lestari adalah inti dari kemajuan, keamanan, perdamaian, keadilan, moral, dan kelangsungan hidup jangka panjang setiap bangsa," kata To Lam.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya