Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kontaminasi Bahan Kimia dari Plastik Bikin Perilaku Hewan Laut Berubah

Kompas.com, 27 Februari 2026, 16:32 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Siapa sangka, sepotong plastik sederhana bisa mengubah cara hewan laut berburu, bersembunyi, dan bertahan hidup.

Para ilmuwan mengungkap bahwa bahan kimia yang berasal dari limbah plastik mungkin secara diam-diam mengganggu kehidupan di bawah laut dengan cara-cara yang tidak terduga.

Di seluruh dunia, terdapat lebih dari 350.000 bahan kimia yang digunakan saat ini. Banyak dari bahan kimia tersebut berakhir di lautan melalui polusi plastik.

Saat plastik menumpuk di perairan pantai, plastik tersebut perlahan-lahan melepaskan zat yang disebut sebagai aditif.

Melansir Earth, Rabu (25/2/2026) bahan-bahan tambahan ini dapat memengaruhi sinyal kimia yang digunakan hewan laut untuk mencari makanan, menghindari predator, memilih tempat tinggal yang aman, dan berkomunikasi.

Bahan Kimia Plastik Meniru Sinyal Alami

Salah satu bahan kimia yang digunakan adalah oleamida. Perusahaan menggunakan oleamida sebagai pelumas dalam plastik umum seperti polietilen dan polipropilen. Ketika plastik perlahan pecah di air, oleamida merembes keluar.

Oleamide tidak hanya dibuat oleh manusia. Organisme hidup sebenarnya juga memproduksinya secara alami.

Baca juga: Polusi Plastik Percepat Pertumbuhan Alga Beracun

Pada mamalia, zat ini memengaruhi tidur. Sementara pada beberapa hewan laut, zat ini bekerja seperti feromon, yaitu bahan kimia yang digunakan untuk berkomunikasi. Oleamide juga sangat mirip dengan asam oleat, bahan kimia yang terkait dengan sinyal kematian pada beberapa spesies seperti kepiting.

Karena oleamida terlihat seperti zat kimia alami, hewan laut mungkin salah memahaminya. Kebingungan ini dapat mengubah perilaku hewan.

Untuk mengetahui bagaimana oleamida memengaruhi perilaku predator dan mangsa, para peneliti di Florida Atlantic University pun melakukan studi terhadap Octopus vulgaris, spesies yang umum ditemukan di perairan Florida Selatan. Gurita ini memangsa makhluk laut yang lebih kecil, termasuk kepiting dan kerang.

Para ilmuwan menempatkan gurita di dalam tangki laboratorium dan menawarkan empat jenis mangsa: kelomang, kepiting yang hidup bebas, siput, dan kerang.

Kamera merekam perilaku mereka selama 90 menit setiap sesinya. Para peneliti juga melacak apa yang dimakan gurita tersebut selama 24 jam. Secara total, lebih dari 31.500 pengamatan dianalisis.

Tim peneliti mengelompokkan interaksi antara predator dan mangsa menjadi tiga jenis yakni perburuan sukses, percobaan yang gagal, dan jangkauan singkat.

Percobaan yang gagal dan jangkauan singkat tersebut disebut sebagai interaksi non-konsumtif.

Perubahan perilaku hewan

Sebelum menambahkan oleamide, gurita dengan jelas lebih menyukai krustasea. Kelomang dan kepiting bebas dipilih lebih sering daripada kerang atau siput. Sementara siput tetap menjadi makanan yang paling tidak disukai selama seluruh penelitian.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau